Pages

Jumat, 25 Mei 2018

Selamat pagi, semoga kamu bangun dengan kebahagian. Semoga diujung bumi orang itu tak berhenti berdoa demi kebahagiaanmu. Semoga kamu juga membalasnya dengan doa yang sama, tak peduli apakah kamu tahu siapa dia atau tidak. Bilang saja pada Tuhan bahwa doa ini teruntuk orang diujung bumi yang selalu mendoakan kebahagianmu. Semuanya.

Selasa, 27 Maret 2018

Aku dan Bulan Maret

Aku dan bulan Maret sebenarnya selalu bertemu secara konstan
Tiap tahun sejak aku mendorong diri keluar dan didorong untuk keluar dari perut
Aku bertemu Maret
Tak kurang, tak lebih
Aku bertemu Maret sebanyak 31 hari setiap tahunnya
Tak seharipun lewat
Maret menyapaku dengan anginnya yang sepoi
Dengan matahari dan air yang siap mengguyur kapan saja
Maret yang selalu tersenyum dari awal hingga akhir

Maret lewat nada anginnya sering berbisik padaku
Katanya April terlalu jahil dan suka menipu
Disuruhnya aku hati-hati bila harinya telah habis diganti April
Maret juga kadang bercerita tentang Februari yang sesekali berganti
Membuat bulan cinta itu datang tidak pasti
Pesannya jangan seperti Februari yang sesekali memberi banyak tapi lebih sering sedikit
Seperti pesan singkat yang dikirimkannya tiap 4 tahun sekali dia akan datang lebih lama satu hari
Mengajakmu bercumbu dengan kali Blumbang dan berkencan di rumput-rumput Lodenok
Aih, aih, aih rasanya Februari pun sudah lupa dengan janji-janji
Sudah bertahun-tahun dia tak mengajakmu bercumbu di kali Blumbang juga tak mengajakmu kencan di benteng peninggalan Lodenok
Februari juga pergi terburu-buru, 28 hari dipangkasnya jadi satu minggu
dan semua berganti

Aku dan maret adalah sebuah pertemuan dan perpisahan
Dan kini dia menangis sesenggukan padahal biasanya dia biasa saja
Katanya dia takut aku sendirian di April
Dia takut pundakku akan rapuh tanpa sokongannya
Kubilang, jangan khawatir ada banyak tiang yang akan menyangga
Dan perpisahan hanyalah sebuah skip untuk kembali pada pertemuan
Maret masih menangis, katanya dia ingin memperpanjang satu minggunya lebih lama menjadi minggu-minggu yang tak habis atau tahun-tahun yang tak putus
Kubilang, aku harus terus berjalan biar aku bisa menyelesaikan tiap skenario yang sudah dituliskan
Maret bilang "andai aku adalah penulis skenariomu, maka akan kutulis ceritamu di bulanku."
Kubilang "hey, jangan egois, aku mesti bertemu bulan bulan lainnya supaya bisa belajar dan menjadi lebih baik dari sekarang"
Maret cemberut, disedekapkannya dua tangan di dadanya, dalam hatinya dia mengamini bahwa dia memang harus berakhir agar aku bisa pergi
Toh tahun depan jika ada umur panjang Maret dan aku akan bertemu lagi

Malang, Maret 2018

Sabtu, 17 Februari 2018

MAS MIZONE



Siang hari di kampus. Panas matahari yang begitu menyengat tertiup desiran angin sejuk di lorong sebelah barat kampus. Aku dengan kerepotan membawa setumpuk kerudung motif beraneka jenis yang aku jajakan di waktu luangku.
Di kanan kiriku Ilmi dan Dea sibuk membantu membawakan tas-tas yang isinya masih sama. Ilmi yang berada di sebelah kananku sesekali mengomel dan mengeluh padaku. Menanyakan bagaimana nasibku jika tidak ada dia dan Dea yang mau membantuku.
“Ya aku nggak bakal bawa barang sebanyak ini Mi,” jawabku santai, terkekeh. Aku melihat wajah Ilmi yang cemberut dan berbalik menatap Dea di sampingku. Dea menatapku dan tersenyum kecil seperti biasa, sedang aku tersenyum puas melihat Ilmi yang selalu cemberut seperti itu. Bagiku itu hiburan kecil di tengah hidupku yang penuh dengan ketidakpastian. Terutama cinta.
Cinta bagiku adalah problema yang tak punya solusi setitikpun. Aku Cuma berandai-andai di tengah ruwetnya hidupku mengerjakan tugas-tugas dosen yang mengalir deras tanpa usai, mencari rupiah demi rupiah untuk membayar kuliah dan kos aku bisa menemukan seseorang yang bersedia meminjamkan bahunya barang lima menit untuk melepas lelahku.
Di tengah lorong ini masih dengan Ilmi yang menggerutu dan Dea yang membisu aku  tersenyum-senyum membayangkan seorang pangeran berjalan menghampiriku dengan tawa renyah dan wajah penuh dengan kedamaian. Tak sadar kurasakan badanku berputar seperti gasing yang dilepaskan. Ada debar dan detak-detak seperti genderang yang memeuhi ruang dadaku. Mengasyikkan hingga aku sulit bernafas dan mataku terpaku.
“Mi, De, ada malaikat lagi jalan-jalan,” kataku lirih.
Ilmi sepontan langsung mengusap wajahku dengan anarkis, “hmmmm, Ganis, mata kamu hampir keluar tuh,” serunya tepat di telingaku. Aku Cuma meringis menyadari kekhilafanku.
“Tapi masnya emang lucu Mi, tawanya renyah kaya kripik,” aku berbalik menatap Dea mencari pembelaan, “iya kan De?” Dea dengan ketulusan memberikan senyumnya padaku tanda dia mendukungku.
“Mi, De, kayanya ini pertanda,” kataku mantap menatap bayang-bayang orang yang aku kira hanya halusinasi itu.
“Pertanda apa?” tanya Dea.
“Kalo dia jodohku,” kataku lebih mantap dengan senyum tersungging. Mas-mas itu kini lenyap di belokan gedung perpustakaan. Namun aku masih saja menatap lurus ke arah menghilangnya. Dalam benakku walaupun dia sudah menghilang tapi lintasan jejak kakinya membentuk potongan-potongan film yang mungkin akan selalu terputar dalam memoriku bahkan jika nanti aku tidur.
Jatuh cinta terkadang membuat kita lupa sejenak akan hidup kita yang begitu rumit dan penuh dengan persoalan-persoalan yang selalu datang. Begitu juga denganku, jatuh cinta pada mas-mas kemarin siang membuatku bisa tersenyum sepagi ini, di tengah ruangan yang nantinya aku akan bertemu dengan seorang dosen yang dengan tatapan matanya saja aku akan meleleh. Tapi tak apa, walaupun aku harus tercerai berai menjadi atom ataupun potongan netron, proton, dan elektron akan aku terima dengan ikhlas dan tulus hati.
“info baru!” seruku riang ketika aku sudah menjejakkan kakiku di hadapan meja Dea dan Ilmi di lantai tiga.
“Apa?” tanya Dea penasaran.
Aku tersenyum, “aku tahu nama mas-mas yang kemarin De.”
“Siapa?”
“Rafiq, namanya Mas Rafiq,” aku melepas ransel di pundakku dan duduk di sebelah mereka.
“Dari mana kamu tahu Nis?” tanya Ilmi yang mulai tergoda dengan ceritaku.
“Dari daftar pinjam peralatan di ruang TU,” jawabku dengan nada tidak bersalah.
Ilmi menghela nafas antara kesal dan mungkin menghargai kecerdasanku. Lalu dia menatapku tajam ingin membunuh, “ jadi itu alasan kamu belum mau naik padahal kita ada jam dosen killer itu?” Aku menjawabnya dengan cengiran.
“Kalian harus dukung aku ya,” pintaku dengan wajah memelas. Aku bangkit dari kursi dan menggenggam tangan mereka lalu aku tatap mereka satu persatu, “Mi, kamu kan sudah punya Yudhi, Dea juga sudah punya Mas Shidiq, bantuin temen kalian ini supaya  dapat pasangan juga,” kataku memelas di hadapan mereka.
“Emang apa hubungannya Nis?”
“Jelas ada dong, masa kalian tega temen kalian yang satu ini jadi jomblo terus.”
“Kalau menurutku nggak ada salahnya dengan jomblo, Nis,” kata Dea. “Berarti Tuhan lagi nyiapin yang terbaik buat kamu,” sambungnya.
“Kamu benar Dea,” aku tersenyum cerah, “dan ini seseorang yang disiapin Tuhan itu,” sambungku.
Mendengar jawabanku mereka berdua saling berpandangan, menatapku tajam, lalu berteriak kencang, “GANISSSSS”
Berkat kecanggihan  teknologi akhirnya aku mendapatkan banyak info tentang Mas Rafiq, atau kalau sekarang sudah aku panggil Mas Mizone, kenapa? Karena setiap kali aku papasan sama dia semangatku langsung meluap-luap sama seperti iklan yag ada di TV yang sering aku lihat.
Dari sosmed aku tahu dia lahir tanggal 8 Maret 1994, hobi naik gunung, asli Trenggalek dan senang menggambar. Dari pengamatanku yang jeli Mas Mizone berangkat ke kampus naik Motor Revo dan kosnya tidak jauh dari kosku. Pertanda nih, pertanda. Aku semakin riang gembira.
Ngefans sama Mas Mizone itu bener-bener bikin semangat. Tiap pagi aku bangun dengan  cerah ceria dan tidur dengan cerah ceria. Walaupun pagi aku harus kuliah dan siang harus jualan asal bisa lihat Mas Mizone semangatku langsung ngumpul lagi.
“Sorry Nis, ibuku belum kasih kiriman bulan ini,” kata  Ninik salah satu pelangganku. Dengan wajah memelas dia menaruh kerudung yang sudah dia buka di tanganku.
“Iya, nggak apa-apa,” kataku memaklumi walaupun dalam hati aku juga merasa kesal. Apalagi tindakannya itu ibarat virus yang cepat menyebar, anak-anak yang ada di sekitarnya mengikuti tindakannya satu persatu dan mengembalikan kerudung yang sudah terbuka ke atas tanganku. Di tengah riuh rendah permintaan maafnya aku Cuma bisa menjawab lirih, “iya nggak apa-apa, makasih ya.”
Setelah mereka pergi meninggalkan pekerjaan baru untukku, aku mencari tempat bersandar dan duduk. Aku menarik nafas panjang dan mulai melipat kerudung-kerudungku yang berceceran.
“Sini aku bantuin,” suara itu mengagetkan aku. Tanpa dikomando dia mengambil kerudung di tanganku dan berusaha melipatnya. Aku menatapnya masih tidak percaya, aku ingin bicara menyapanya. Namun yang keluar hanya udara yang bisu. Akhirnya hanya keluar kalimat yang begitu memaksa dan salah tingah, “nggak usah repot-repot mas, aku bisa sendiri kok.” Aku merebut kerudung dari tangannya. Orang itu melepas kerudung dari tangannya lalu mengulurkan tangan, “aku Rafiq, nama kamu siapa?”
Seperti orang bodoh aku hanya diam saja. Bagaimana tidak, sudah beberapa lama aku hanya bisa melihatnya diam-diam dan kini dia mengulurkan tangan untuk kenalan.
“Nama kamu siapa?” ulangnya.
“Ehm, aku Ganis Mass,” jawabku.
“Ganis ya? Nama kamu bagus juga,” ujarnya dan aku hanya bisa tersenyum.
Sejak perkenalan itu entah kenapa kami jadi begitu dekat. Aku dan Mas Mizone ibarat magnet beda kutub yang selalu lengket dan selalu tarik menarik. Setiap kali aku berada di suatu tempat Mas Mizone pasti ada di sana.
Hal ini tentu membuatku girang bukan kepalang. Ilmi dan Dea yang menjadi pendengar setiaku kerap kali hanya bisa geleng-geleng melihat tingkahku. Sering mereka menasehatiku agar aku tidak begitu mudah berharap. Namun aku seakan tuli dengan nasehat itu.
Sering kami keluar berdua hanya sekedar untuk membeli es krim atau mengantarku jika ada keperluan mendadak. Mas Mizone begitu bisa aku andalkan.
Sore itu setelah mengantarku dari kampus utama dia menurunkan aku di depan kos.
“Makasih kak,” ucapku. Mas Mizone  hanya mengangguk dan tersenyum.
“Nis?”
“Iya Mas.”
“Kamu mau nggak liburan minggu ini main ke rumahku?” tanyanya. Aku masih diam, mungkin aku salah dengar.
“Nis, gimana? Mau nggak main ke rumahku?”
Walaupun aku merasa begitu kaget mendengarnya, ada gemuruh riuh yang bergolak di hatiku. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mengembangkan senyum, “apakah aku akan dikenalkan dengan orang tuanya?” “Benarkah Mas Mizone suka denganku?” Reflek aku mengangguk mengiyakan. Mas Mizone yang duduk di motornya tersenyum senang. “Ok, kalau gitu hari jum’at sore nanti aku jemput di kos, kita bakal naik kereta ke Trenggalek.”
“Siap Bos!” aku memberi hormat padanya. Melihat antusiasku yang tinggi Mas Mizone memberikan senyum renyahnya lagi sebelum berlalu meninggalkan aku yang melambai riang padanya.
Hari H tiba. Ditemani ransel coklat kesayanganku aku menghampirinya yang sudah menungguku di halaman depan. Kami berdua melangkahkan kaki bersama menuju tempat menunggu angkot di seberang jalan yang akan membawa kami ke stasiun kota baru.
Angkot biru itu mengantarkan kami hingga turun di depan stasiun. Aku berjalan di belakang Mas Mizone yang mendadak berhenti. Aku hampir menabraknya dan menyadari dia sedang berbicara dengan seseorang di depannya.
“Hei Al, udah lama nunggu ya?” Mas Mizone menyapa seorang perempuan yang memakai celana dan jaket jeans dan kerudung motif warna kuning. Perempuan itu hanya tersenyum, “baru lima belas menit kok,” katanya kemudian.
Aku yang berdiri di belakang Mas Mizone bertanya-tanya, “siapakah dia?”
Mas Mizone menoleh padaku dan mengenalkan aku pada seseorang itu, “Ganis, kenalin ini Mbak Alma, dia juga ikut ke rumahku.”
Wajahku tampak kaget mendengarnya, “Mas Mizone ngajak cewek lain?” tanyaku pada diri sendiri. Namun kubuat hatiku berkhusnudzon, dan menyakinkan diri bahwa perempuan itu ada hanya sekedar aku tak sendirian di sana.
Sayangnya kehadiran perempuan itu merebut semua perhatian Mas Mizone padaku. Meninggalkan aku yang terduduk lesu di kursi kereta hingga tertidur.
“Nis, bangun Nis, sudah sampai,” terdengar suara sayup-sayup suara Mbak Alma di telingaku. Malas kubuka mataku dan mengikuti orang-orang yang mengalir mencari jalan turun.
Kami keluar dari stasiun dan menyusuri jalan kecil beberapa ratus meter. Di ujung perjalanan kami bertemu dengan rumah berwarna hijau sederhana.
“Assalamualaikum, Ibu, Ayah, Rafi pulang!” seru Mas Mizone saat kami tiba di teras rumah. Ayah Ibu Mas Rafiq tiba di pintu. Aku spontan tersenyum pada mereka. Namun mereka memandang kami diam tanpa ekspresi. Menyadari itu Mas Mizone bicara, “kok diem aja sih Yah, Bu,” Mas Mizone menghampiri mereka. Sebelum dia menuntun orangtuanya masuk ke dalam rumah dia menoleh pada kami, “Al, Nis, kalian duduk dulu, aku masuk dulu.”
Mengiyakan kata-kata Mas Mizone kami berdua duduk di kursi teras. Aku yang masih merasa heran  bertanya polos pada Mbak Alma, “mbak kenapa mereka diam saja?” Di depanku Mbak Alma hanya tersenyum kecil membuatku semakin bingung.
Orang tua Mas Mizone kembali bersama Mas Mizone.Ibunya membawa nampan berisi kue dan minuman sambil meletakkan nampan. Ibu itu menatapku lekat-lekat.
“Bu, kenalin ini Alma pacar Rafiq,” kata Mas Mizone dengan santainya. Mbak Alma berdiri dan menyalami kedua orang tua Mas Mizone.
“Dan ini Ganis,” lanjut Mas Mizone. Aku yang masih shock karena pernyataan Mas Mizone masih bengong di kursiku. Rasanya aku pengen nangis saat itu, tapi melihat orang tua Mas Mizone  yang memandangiku aku bangkit dari kursi dan menyalami Ibu Mas Mizone.
Alih-alih menyambut tanganku beliau langsung memelukku erat-erat sambil menangis. Sayup-sayup kudengar Mas Mizone melanjutkan perkataaanya, “yang aku bilang mirip sama almarhum Lisa.”
Almarhum Lisa? Aku bertanya-tanya. Ibu Mas Mizone melepaskan pelukannya memegangi tanganku menyentuh wajahku seakan-akan aku benda ajaib yang sudah lama dicarinya.
Penjelasan pernyataan Mas Mizone  akhirnya aku temukan di ruang tamu. Sebuah foto besar perempuan dengan senyum lebar. Perempuan itu benar-benar mirip denganku. Wajahnya, bibirnya, bahkan caranya tersenyum.
Dan kini aku sadar kenapa Mas Mizone begitu peduli denganku. Itu tidak lain hanya karena aku mirip dengan almarhum adiknya. Dan alasan dia membawaku jauh-jauh ke sini tidak bukan hanya supaya orang tuanya bisa melihatku.
Rasanya perih sekali menyadari kenyataan ini. saat Mas Mizone mengajak aku dan Mbak Alma  pergi melihat sekeliling aku memilih di rumah menemani Ibu Mas Mizone dan mendengar ceritanya tentang Lisa.
“Lisa meninggal karena lemah jantung 2 tahun lalu, dan keluarga ibu terasa beku sejak saat itu. Mas Rafiq tidak banyak bicara begitupun ibu dan bapak. Rumah ini terasa mati semenjak Lisa meninggalkan kami,” ceritanya.
Lalu beliau mengusap kepalaku, “tapi sejak 2 bulan lalu semuanya mulai berubah, mungkin semenjak Rafiq kenal sama kamu.”
“Dia banyak cerita kalau dia menemukan Lisa lagi. Kamu tahu Nis, Rafiq sangat menyayangi adiknya itu.”
Aku tersenyum, “tapi saya bukan Lisa Bu, saya tetap saja Ganis.”
“Ibu tahu kamu tidaklah 100% persis seperti Lisa. Kamu juga tidak lahir dari rahim ibu dan memiliki keluarga sendiri. Tapi melihat kamu saja bisa bertemu kamu kami sudah bahagia. Terlebih karena kedatanganmu sudah mengembalikan kebahagiaan kami.”
Kami terdiam cukup lama. “Ganis, kamu maukan sering-sering main ke sini?” tanyanya. Aku menatap beliau.
“Iya biar Rafiq yang nemenin.”
Aku tersenyum, “insya Allah Bu,” jawabku.
Malamnya orang tua Mas Mizone mengajak kami main ke sebuah taman. Di sana kami menggelar tikar dan makan bersama. Kami berbincang, bercanda, dan tertawa bersama.
Ketika orang tua Mas Mizone fokus pada Mbak Alma aku diam-diam pergi dan duduk di sebuah ayunan. Kupandang bintang-bintang yang sesekali berkedip padaku.
“Kenapa kedip-kedip? Seneng lihat orang lagi galau,” makiku.
“Ternyata kebaikannya selama ini hanya karena aku mirip adiknya,” omelku.
“Ternyata aku penyakit GR akut nih.”
“Penyakit GR akut? Penyakit baru Nis?” tanya Mas Mizone yang entah sejak kapan dia ada di sana. Aku melihatnya lalu berpaling lagi. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan kalau melihatnya.
Mengabaikan kehadirannya aku mengayunkan kaki dan menyibukkan diri memandang bintang-bintang. Tak ada respon dari Mas Mizone lagi. Dia malah ikut duduk di ayunan tepat di sampingku, “dasar tidak peka,” batinku kesal.
“Makasih Nis,” katanya selang beberapa lama. Aku menatapnya, “buat apa?”
“Buat semuanya. Makasih udah mau deket sama aku, makasih udah mau datang ke sini, dan makasih udah buat keluargaku tersenyum lagi.”
“Yang ada aku yang berterima kasih Mas, udah boleh main ke sini.”
Mas Mizone tersenyum padaku, “sama-sama kalo gitu.”
“Nis, mas punya permintaan satu lagi buat kamu.”
“Apa Mas? Kalau Ganis bisa Insya Allah Ganis turutin.”
“Kamu mau nggak jadi adik Mas Rafiq.”
Dadaku terasa sesak seketika itu juga. Pisau-pisau tipis mulai menggores bagian terdalam hatiku. Andai dia tahu, aku tak hanya ingin jadi seorang adik tapi lebih dari itu.
“Kenapa? Karena Ganis mirip Lisa?” sentakku. Entah kenapa suaraku mendadak sarat akan emosi.
“Kamu nggak mau ya?” ada nada sedih dalam suaranya. Aku merasa bersalah sudah bertindak kasar.
“Ganis bukan Lisa Mas, dan nggak akan sama dengan Lisa,” aku mencoba menetralisir suasana.
“Mas tahu kamu bukan Lisa, tapi Lisa di atas sana pasti ingin kalau kamu jadi adik Mas Rafiq.”
“Dari mana mas tahu?”
“Keluarga mas jadi sepi, dingin, dan tidak berwarna sejak kepergian Lisa. Kami jadi apatis dan hidup sendiri-sendiri. Pasti di sana Lisa sedih. Tapi sejak kamu muncul semua berubah, kamu ibarat perantara yagn dikirim Tuhan untuk mengembalikan kebahagiaan kami, dan di sana Lisa pasti juga bahagia.”
Aku menatap Mas Mizone, lalu melihat ke bentangan langit malam dan melihat ayah, ibu, dan Mbak Alma yang sedang bercengkerama dengan hangat. Cerita ibu tadi mereka baru bisa saling bicara akrab lagi belum lama ini dan Mas Mizone bisa pulang baru saat ini. Ada ketidakikhlasan yang menyusup jauh di pori-pori hatiku. Namun di satu sisi aku ingin melihat keluarga ini tetap bisa seperti ini. “Besok kita bisa ke makam Lisa Mas?” tanyaku akhirnya.
Mas Mizone memenuhi permintaanku untuk pergi ke makam Lisa. Di sana kami berdua membersihkan makamnya dari daun dan rerumputan liar. Tak lupa kami menaburinya dengan bunga dan menyiramkan sebotol air. Lalu kami berdoa, kubacakan surat Al-Fatihah dengan khusuk dengan mata terpejam. Diakhir bacaanku, masih dengan menutup mata aku membatin, membayangkan jika sekarang Lisa bisa mendengarku dari surga, “Lis, tadi malem Mas Mizone minta aku buat jadi adiknya. Aku bingung Lis, satu sisi sebenarnya aku tidak hanya ingin Mas Mizone jadi kakakku, satu sisi katanya aku sudah membuat keluarga kamu kembali seperti dulu. Lis, aku tidaklah sama dengan kamu, terlebih aku tidak ingin menggantikan posisi kamu. Lis, bolehkah aku jadi bagian dari keluargamu? Menjadi adik Mas Rafiq? Kalau kamu denger aku, minta tolong sama Tuhan supaya memberi jawaban.”
Setelah menarik nafas panjang kubuka mataku. Aku takjub mendapati sekelilingku. Warna-warna cantik beterbangan di sekitar kami. Aku menoleh pada Mas Mizone dan diapun menggeleng tidak tahu.
Aku berpikir sejenak, benarkah kupu-kupu cantik ini jawabannya? Dan kupu-kupu itu seakan membentuk senyuman untukku, mengiyakan. Aku membalas senyumnya masih diselimuti ketakjuban.
Kutatap wajah Mas Mizone yang masih terpesona dengan sekelilingnya, “Mas?” panggilku.
“Iya,” dia menoleh padaku.
Aku menarik nafas panjang, berusaha memberikan keyakinan pada diriku bahwa ini yang paling baik, “aku mau jadi adik Mas Rafiq,” kalimat itu meluncur juga dari mulutku. Seperti roket yang meninggalkan bumi mencari pengalaman hidup di luar angkasa. Begitu juga kalimat ini, pastinya akan mengubah seluruh perjalanan hidupku nantinya.
“Benarkah?” Mas Mizone menatapku tidak percaya.
“Iya, aku akan berusaha jadi adik yang baik buat Mas Rafiq” kataku sambil tersenyum. Mas Mizone membalas senyumku, “makasih Nis?” katanya. Aku tersenyum lagi, ya paling tidak aku bisa membuatnya tersenyum kan?
Kembali di rutinitas kampus, aku bertukar cerita bersama Ilmi dan Dea tentang liburan kami. Saat aku mengakhiri ceritaku bukannya bersimpati karena kejadian itu, mereka malah tertawa terbahak-bahak.
“Kalian itu ya, orang ngenes gitu diketawain,” sungutku kesal. Seharusnya mereka kan prihatin dengan keadaanku.
“Abis dulu kamu bilang kalau pertanda jodoh nih, pertanda jodoh, ujung-ujungnya jodoh jadi adik,” kata Ilmi, “mana diajak ke sana sama pacarnya Mas Mizone lagi,” sambungnya masih dengan tawa yang menggelegar.
“Seneng banget kamu Mi,” aku menatapnya kesal.
“Tapi kalau menurutku kamu tetep berharga kok Nis, kata Mas Mizone kan kamu bisa ngembaliin keluarga itu seperti dulu lagi, apalagi yang waktu di makam itu,” kata Dea menengahi.
Aku menatap Dea lega, “iya juga sih De.”
“Iya Nis, kamu harus tetep bersyukur,” kata Ilmi akhirnya.
“Yap, emang sepertinya kau harus bersyukur,” kataku memotivasi diri.
“Gitu dong!” kata Ilmi sambil menepuk pundakku.
“Ke kelas yuk, udah mau mulai nih,” ajak Dea.
“Oke,” jawab aku dan Ilmi. Kami bangkit dari kursi di lorong barat. Karena terlalu bersemangat aku menabrak seserorang yagn berjalan ke arahku.
“Maaf Mas,” seruku spontan.
“Nggak apa-apa kok,” katanya sambil tersenyum.
Seperkian detik kutatap wajahnya sampai dia benar-benar hilang dari pandangan mataku.
“Mi, De, Tuhan cepet banget kasih ganti. Pangeran kuda putihku barusan aja lewat.”
“GAAANNNNISSSS!!!!” teriak mereka sambil memukuli aku.
Selesai

Jumat, 22 Desember 2017

Aku, Dia, dan Pulang

Menjadi pencinta yang diam terkadang adalah pilihan paling konyol. Membuat cerita-cerita sendiri, memainkannya seperti wayang di balik layar imajinasi. Menggerakkan tokohnya, menyetingkan waktu dan tempatnya, menaburkan suasana di sekujurnya. Semuanya adalah khayalan. Perjalanan cinta diam diam.
Dan wayang dalam kehidupan aslinya bergerak semakin menjauh. Kadang dia bersembunyi di balik rak rak buku yang sering aku sentuh, namun ketika aku kejar dia semakin dalam bersembunyi, mungkin dia malah masuk menjadi kata kata, huruf-huruf dalam buku buku Abdul Majid, Suharsimi Arikunto, atau Zainal Arifin.
Ketika aku sudah pilu dia berjalan di sepanjang jalan berpaving menuju satu-satunya gedung Pascasarjana, melewati taman hijaunya dan hilang di balik pintunya. Aku menunggunya, duduk di bahu jalan. Tidak tidak, aku tak berambisi untuk bisa bicara, aku hanya ingin melihatnya lewat entah sedang baca buku atau berceloteh dengan kawannya. Hanya saja, sampai adzan magrib menggaung dia tak keluar lagi. Apakah gedung itu punya jalan lain selain pintu masuknya, atau dia melayang begitu saja seperti oksigen. Melebur bersama udara lainnya, membaur bersama karbon dioksida.
Aku masih belum menyerah. Kutunggu dia di bawah payung warna warni dengan kursi-kursi batu berwarna warni. Ku tunggu dia menyeduh kopi di sebuah panggung mini dimana agama, politik, dan wanita di perdebatkan antara mereka. Aku menunggunya sambil menyesap jus melon berwarna orange yang manisnya semakin menyusut. Hingga terik matahari membuat orang tak bisa bertahan dan meninggalkan kursi batu tanpa payung warna warni dia juga tak ada. Hanya ada asap rokok yang semakin membumbung, berwarna putih dan tebal disusul kepulan asap kopi cappucino dan kopi hitam. Aku menyeret langkahku ketika matahari lelah berada di puncaknya dan sinarnya jadi tak sepanas beberapa waktu lalu. Aku berlalu, meninggalkan kursi batu berpayung pelangi dengan gelas jus yang kosong.
Kutemukan dia akhirnya, badannya menembus pintu gedung stasiun berwarna putih. Dia tergesa meski jam masih berdetak menuju angka delapan. Aku mengerjarnya, namun aku tak lagi punya tiket untuk masuk ke gerbongnya. Aku tahu, beberapa menit lagi dari caranya berlari, kereta sedang menunggu dia dengan mesinnya yang tergopoh-gopoh. Aku tak dapat mengejarnya dan berjalan gontai menuju parkir motor yang aku ganjar lima ribu. Aku mengeluarkan motorku, memutarnya ke arah pulang. Dan aku membayangkan dia sedang melewati rumah-rumah yang rapat, sawah-sawah yang hijau, kebun tebu yang lebat, dan berpapasan dengan puluhan mobil yang silih berganti. Kulihat dia mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna hitam, memasang gulungan kabel dan menancapkan dua cabangnya di lubang telinga. Aku tahu dia melihat jamnya, memastikan dia tak akan terlambat sampai di kota yang jauh sembari berdoa tak banyak masalah dengan crash yang sering terjadi antar kereta, karena akan banyak kota yang ia lewati sepanjang perjalanan, akan sangat banyak stasiun yang menunggu untuk diminta berhenti. Sedang aku, aku sudah menikung di perempatan Klojen, dihentikan lampu merah perempatan Rampal, dan memacu dengan sangat lemah motor menuju pulang (ku).

Rabu, 20 Desember 2017

Tersesat di rindu

Sudah pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Mataku tak juga ingin terpejam. Padahal aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Pikiranku malah sedang sibuk mendengarkan alunan lagu dari penyanyi legendaris yang sekarang tinggal nama dan karya. Tidak, tidak, bukannya isi kepalaku sedang berputar-putar memainkan kepingan memori yang aku miliki tentangmu.

Malam ini aku ingin jujur pada rentetan mendung yang mengubur bintang cantikku, aku sedang merindukanmu. Benar benar rindu yang kanak kanak. Memilih menyelencari jendela sosmedmu, memandangimu yang beku, membaca puisi yang kau tulis di papan putih sampingnya, dan mengamatimu yang sedang bicara di kolom komentar. Rinduku kanak kanak yang takut berdiri, takut jatuh. Rindu yang menawanku di cawan mimpi, membuaiku dengan cerita-cerita indah pangeran dan putri yang selalu berakhir bahagia.

Rinduku tak akan pernah dewasa. Karena aku tidak berusaha untuk menghentikan lajunya rindu. Aku hanya menikmatinya, meski rindu membuatku sekarat tiap detik ketika mengingatmu.

Minggu, 03 Desember 2017

Suhuue, Ajari Aku Jatuh Cinta! (Ep 6)

Matahari kuning jam 10 pagi menembus dedaunan mangga kurus di halaman rumah Bude. Ue yang baru mencuci Jupli (motor pinjaman bude buat Ue) merebahkan tubuhnya di kursi abu-abu. Kepanasan dan lengket Ue mengipasi tubuhnya dengan tangan. Untuk ukuran minggu pagi ini adalah minggu yang sempurna. Langit biru cerah tanpa awan, matahari bersinar begitu kuning di atas langit merangkak ke puncak tahtahnya sebelum akhirnya tergusur juga.
Lagu Faded menyentak dari dalam smartphone berwarna putih lusuh akibat kejahatan yang dibuat Ue. Sampai lagu berganti menjadi "Side to side dari Ariana Grande" Ue masih menatap langit biru itu. Lagu itu hanya backsong saja, sedangkan pikirannya melayang pada Kak Rizal yang kemarin menyapanya.
Ue meraih smarthponenya, mengabaikan lagu lain yang kini terputar dan menjerit-jerit. Sebuah notif whatshapp berwarna putih menghiasa atas layar smartphonenya. Ue menggesernya ke bawah tanpa nafsu. Biasanya notif itu  hanya berisi chat grup beberapa organisasi yang diikutinya yang biasanya hanya dibuka atau sesekali di baca oleh Ue.
Pesan itu ternyata dari nomor yang tak dikenal. Bukan tidak dikenal sebenarnya, Ue saja yang jarang mau memberi nama pada kontak-kontak whatshappnya. Pesan itu berbunyi "Ue mau pergi ke Malang Tempoe Doeloe nggak?"
Penasaran Ue klik pesan itu dan munculah kolom percakapan lengkap dengan foto kecil di ujung kiri atas. Laki-laki. Sepertinya Ue kenal. Dia buka foto profil orang itu.
"Hah, nggak mungkin!" pekiknya.
"Apanya yang nggak mungkin Ue?" tanya Kevin yang tiba-tiba muncul.
Ue menoleh, menyembunyikan smartphone di balik tangannya.
"Bukan apa apa Kak."
"Kamu kelihatan kaget banget??"
"Masa iya? Perasaan kakak aja paling."
"Biasanya sih gue nggak pernah salah."
"Eh Kak, Bude ada di rumah nggak?" tanya Ue mengalihkan topik.
"Nggak ada, mama pergi ke rumah Tante Tuti di Arjosari."
"Emmm, kalo gitu Ue minta ijin sama kakak aja ya."
"Minta ijin apa?"
"Ue mau ke MTD kak."
"MTD?" Kevin tampak menimbang-nimbang.
"Gimana Kak?"
"Boleh sih, Alrey katanya juga mau ke sana."
"Fix, berarti boleh ya?"
"Iya, sekalian temenin Alrey ya? Apa dia gue suruh jemput lu ya?"
"Nggak, nggak usah Kak, Ue berangkat sendiri saja," kata Ue. Badannya sudah berdiri dan berlari menuju kamar. Dia harus mandi sebelum bau bau asam yang bisa membuat besi berkarat dari tubuhnya tida bisa hilang.

Rabu, 29 November 2017

Kuburan Cinta di Tomohon



Udara dingin perbukitan menerpa anak rambut yang usil menggelitiki dahi. Berkibar-kibar senada dengan gerak awan ke arah timur, bercampur dengan kawan-kawannya, bercengkerama membentuk mendung yang semakin lama semakin menggelap. Jam 7 pagi waktu indonesia tengah. Suasana cukup terang untuk memandang gunung Lokon di sebelah barat tempatku berdiri dari tepi jalan Tondano-Tomohon. Di seberang jalan dari rumah kayu berwarna coklat renyah itu aku menghela nafas begitu dalam. “Nyatanya cukup jauh aku berlari, cukup jauh aku menghindari masalah yang menerpa pori-pori hatiku yang ingin aku sembuhkan dan rapatkan kembali,”
Aku duduk di trotoar jalan, tak peduli dengan tatapan orang yang penuh tanya, “sedang apa dia duduk di sana?” mungkin begitu tanyanya. Aku tak peduli pada mereka yang melihatku sambil berbisik-bisik, aku sudah lelah berdiri dan aku butuh untuk duduk, tetapi aku tidak ingin kembali ke pemondokan, mengurung diri dalam kamar berukuran 4x4 meter menghadirkan kenangan itu kembali ke atas memoriku. Aku sudah terlalu jauh berlari.
Kembali lagi ke trotoar. Awan masih belum tuntas arak-arakannya dan gunung Lokon juga masih hijau, diam, dan menjulang tinggi menampilkan siluet seperti sebuah gunungan lumut yang di tumbuhi jamur-jamur rumah di lereng gunungnya. “Ya, seperti itulah perasaanku, hijau, subur, besar, dan diam. Dan saking lamanya perasaan itu dipendam dia jadi berlumut. Perasaan besar yang berlumut, apakah kamu pernah sesekali menengok perasaan berlumut ini? Nyatanya aku gunung Lokon[1] yang tetap diam menyimpan kisahnya sendiri sambil mengamatimu yang lalu lalang pergi ke kampus, membeli bahan makanan, dan sholat jum’at seminggu sekali.”
Angkot warna biru muda hilir mudik di hadapanku. Kamu tahu? seperti angkot di kota kita yang diberi nama line, di sini kamu akan mengenalnya dengan nama otto. Angkotnya sama berwarna biru, bentuknya juga sama, hanya tempat duduknya yang berbeda. Jika di kota kita kamu akan duduk di kursi-kursi yang di letakkan memanjang di tepi jendela, di sini kamu akan menemui angkot dengan susunan tempat duduk sama seperti susunan tempat duduk pada mobil. Di bagian depan ada kursi sopir dan kursi penumpang, di belakangnya ada tiga deret tempat duduk dengan kapasitas 8 orang. Sama bukan dengan di kota kita?
Otto akan mengantarkanmu ke tempat yang kamu mau, jauh dekat ongkosnya sama saja. Namun, otto yang ada di depan pemondokanku hanya dapat mengantarmu ke kota Tondano dan Tomohon yang sekarang aku tinggali. Naik saja, tapi jangan sesekali bilang “kiri” pada supirnya ketika kamu ingin turun dari otto. Dia tak akan mengerti, di kota ini jika kamu ingin berhenti kamu bisa mengatakan “stop” saja atau “muka”. Tapi apa pentingnya itu sekarang, kiri, muka, ataupun stop tak berlaku lagi bagiku. Semuanya terus berjalan, semuanya tak bisa berhenti, dan kata apapun yang aku sugestikan untuk bisa melupakanmu nyatanya hanya omong  kosong dan tak memiliki arti. Seperti om supir angkot yang tak paham maksud “kiri”, hatiku sendiri juga tak paham kode untuk berhenti.
“Hei,” sapa seseorang mengalihkan lamunanku. Tanpa mempedulikan wajah kusutku dia duduk di sampingku, memandangi arak-arakan awan di belakang pemondokan Prof. Heydemans.
“Kusut sekali?” tanyanya singkat padaku, “ada masalahkah?” tanyanya dengan logat Manado yang cukup kental. Aku tak menjawab hanya menghela nafas saja. Tak ingin membagi cerita pada orang yang baru aku kenal.
“Saya akan dengar cerita dari ngana[2], ya setidaknya jika saya tak bisa kasih solusi untuk ngana, beban ngana jadi lebih ringan setelah cerita”
Aku masih diam.
“Coba saya tebak, ngana putus cintakah?”
“Boro-boro putus cinta Ga, pernah jadian saja nggak,” kataku akhirnya.
“Tapi wajah ngana kusut sekali, seperti orang lagi patah hati saja,” tanya Erga.
“Entahlah, apa aku berhak untuk patah hati, sedang perasaan ini hanya aku simpan sendiri, dia tak salah to jika tak tahu?”
“Ya kenapa ngana tak katakan saja?”
“Aku nggak mau merusak pertemanan kami Ga, lagian apa gunanya mengatakan itu sekarang, satu bulan lagi dia akan menikah dengan panaseanya”
“Siapa itu panasea?”
“Ya, anggap saja gadis pujannya,”
Its complicated Ris,” kata Erga. “Emmmm, saya ada tempat bagus untuk ngana “ katanya setelah cukup lama. Tangannya lalu gesit menarik lengan tanganku. Langkahnya tiba-tiba menarikku mendatangi bendi[3] mengatakan tujuan yang tak aku mengerti dan mengajakku untuk naik di atas keretanya.
“Kita mau kemana Ga?” tanyaku bingung. “Sudahlah ngana akan baik saja jika sama saya, saya jamin itu,” kata Erga. Bendi semakin kencang, bunyinya yang tak, tik, tuk, tik, tak, tik, tuk mengingatkanku pada lagu masa kecil “Pada Hari Minggu”. Masih ingatkah kamu?
“Hei Ris, janganlah murung terus, ngana tak maukah lihat indahnya ini kota? Ini Tomohon Ris, Sulawesi, bukan Jawa lagi. Tak maukah ngana abadikan keindahan-keindahan ini?” kata Erga membuatku bicara. “Om, lihat dia om, wajahnya muram saja bagai mendung, jangan-jangan setelah ini Tomohon hujan gara-gara dia,” canda Erga pada Om Kusir. Erga menatapku, merasa gagal karena tak dapat membuatku tertawa atau bicara. Sayangnya Erga bukanlah orang yang mudah menyerah, gagal mendapat perhatianku lewat candanya dia mengeluarkan smartphone dari dalam sakunya. Membuka aplikasi instamoment dan memaksaku untuk tersenyum di kamera.
“Ya, disini Erga dan Riska, torang[4] sedang jalan-jalan di kota Tomohon. Dan saya mau kasih tunjuk tempat spesial buat teman saya ini biar mukanya tak masam dan mendung,”
“Sudahlah Ga,” aku menepis smartphone yang mengambil gambar dari kamera depannya.
“Sakitkah?” tanya Erga, wajahnya kali ini berubah serius menilik senti persenti wajahku. Mataku berembun, pertanyaan itu seakan membludakkan emosi menjadi tetes-tetes air mata yang turun tiba-tiba dari kelopak mataku.
Kali ini Erga tak dapat berkata apapun, hanya membiarkanku menarik nafas berulang kali untuk menenangkan isak yang telah terlanjur hujan. Sebenarnya aku sangat malu, di usiaku yang sudah lebih dari 20 tahun, masih saja aku menangis, di depan orang asing pula.
Sampai di perempatan Jalan Lembong Erga mengajakku turun, tangannya yang kuat menggenggam lenganku yang gontai. Aku bersyukur karena dia menuntun langkahku dan aku hanya perlu menunduk, menyembunyikan mata merahku yang lama-kelamaan terasa semakin berat.
“Aku hanya ingin membuatmu tersenyum dan ingin mengajakmu untuk melihat sesuatu yang unik di kota ini yang bisa membuatmu bergidik, tapi tujuan ini mungkin lebih cocok untuk kondisimu saat ini Ris,” kata Erga. Dia menghampiri satu otto, tawar menawar harga, mengajakku naik dan otto bergerak tergesa gesa, melewati perkampungan-perkampungan dengan rumah-rumah kayu yang mirip dengan rumah Prof. Heydemans. Jalan berkelok-kelok melewati hutan-hutan bambu dan membawa kami sampai di sebuah gerbang besi yang terbuka. Erga mengajakku turun dari otto.
“Selamat datang di waruga,” katanya.
“Tempat apa ini?” tanyaku.
“Pemakaman,” jawab Erga santai. Dia menunjuk bangunan peti dari batu di pinggiran gerbang yang sudah dikelilingi banyak pohon pucuk merah rendah.
“Kenapa?” tanya Erga. “Ngana kagetkah?”
Aku menatapnya pias. Erga benar-benar gila. Aku tahu dia tourguide di kota ini. banyak tempat-tempat yang bisa ditunjukkannya padaku, tetapi mengapa mesti pemakaman. Tak adakah tempat yang lebih baik untuk orang melepas kesedihan. Aku sedang sedih dan galau lalu pemakaman, aku rasa bukan tempat yang cocok untuk menghibur.
Ngana bilang, ngana  tak ingin merusak pertemanan yang sudah ngana bangun. Ngana bilang dia sebentar lagi akan menikah. Jadi saya pikir ngana ingin melupakan dia.”
Tujuanku ke kota ini memang untuk melupakan dia, lalu apa hubungannya dengan waruga.
Ngana tahukan ini pemakaman, ngana tahu untuk apa tempat ini?”
“Anak kecil pasti tahu Ga, pemakaman pasti tempat untuk mengubur,”
“Ya, ngana pandai sekali. Saya ajak ngana kesini supaya ngana bisa kubur kenangan ngana di sini.”
Aku menatapnya, sedikit tersenyum menghargai usahanya mengajakku ke waruga hingga harus menyewa otto berharga ratusan ribu. “Ngana sudah tersenyumkah?”
Aku menjawabnya masih dengan tersenyum, “saya memang tak tahu bagaimana rasanya perasaan ngana, tapi jika perempuan sudah menangis berarti ada rasa sakit yang sudah tak dapat di tahannya lagi. Saya tak mengerti detail masalah ngana, tapi saya harap di tempat ini ngana bisa lepas itu masalah semua,” katanya.
Aku tersenyum, tersanjung dengan kata-katanya sambil menangis karena perasaan itu tumpah, kenangan itu tumpah.
***
“Bisa ketemu?” tanyamu siang itu lewat blacberry messenger.
“Yap, tentu saja,” jawabku kegirangan.
“Aku tunggu di alun-alun kota jam 7 malam ya,” katamu saat itu.
“Oke, aku pasti datang,” jawabku dengan wajah semakin sumringah.
Jam tujuh tepat aku duduk di undakan alun-alun, menunggumu dengan senyum yang masih sumringah.
“Kamu sudah lama?” tanyamu tiba-tiba sambil duduk di sampingku. Aku menoleh dan mencium bau parfummu. Kemeja kotak warna biru langsung menyambut pemandangan yang melekat di tubuhmu. Yah, seperti malam-malam yang lalu, kamu sama menawannya. Kamu indah, bahkan lebih indah dari bulan purnama sekalipun.
“Belum, baru lima menit mungkin,” jawabku sambil menatap jam tangan, mengalihkan detak jantung yang melebihi batas kontrolnya. Bau parfummu malam itu begitu menyengat hidungku membuat jatuhku lebih dalam dari pertemuan-pertemuan kita yang lalu.
“Hmmm, sudah sering ya kita ketemu malam-malam begini, curi-curi waktu jika aku pikir-pikir.”
“Ya mau gimana lagi, aktivitas kita di organisasi dan instansi sering kali tidak bersahabat,” kataku.
“Tapi aku senang bisa curi-curi waktu seperti ini,” katamu. Mata sipitmu lantas menatapku sedikit jail membuatku salah tingkah. “Kamu sendiri gimana?”
Aku diam, mengalihkan pandangan pada langit yang buram. Tanpa aku mengatakanpun seharusnya kamu sudah tahu bagaimana perasaanku. Satu tahun aku mengagumimu, baru 4 bulan yang lalu aku berani mengontakmu dengan susah payah, menghadapi sikap cuekmu, menanti balasan BBM mu yang membuatku hampir putus asa setiap menitnya. Jika hari ini aku bisa duduk di undakan alun-alun bersamamu, kamu pasti tahu bagaimana rasanya aku tanpa harus aku ceritakan padamu.
“Kamu tahu, aku sangat bahagia hari ini.”
Aku menatapmu, kebahagiaan itu menari-nari di wajahmu. Aku melihatnya dengan jelas di matamu yang dipantulkan lampu bulat alun-alun kota Malang.
“Aku punya kabar baik, dua bulan lagi aku akan menikah dengan panasea-ku.”
Langit semakin buram, lampu-lampu taman meredup, ada kesadaran yang menghilang dengan cepat di otakku.
“Ris?” kamu menggoyang tubuhku.
“Menikah?” tanyaku.
“Iya,”
“Tapi.....”
“Tapi apa Ris?”
“Aku pikir....”
“Kamu pikir apa? Kamu tahu Ris, dia gadis idamanku, kalem, lembut, sederhana, cerdas, alim, dan sosialisasinya baik, sopan santunnya duhhhhh, sudah nggak ada tandingannya lagi,” katamu.
“Oh ya,” seketika aku menekan perasaanku. Menyembunyikan badai yang kini memporak-porandakkan bangunan hatiku.
“Ya, aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengannya.”
“Jadi kamu akan menikah dua bulan lagi?”
“Ya, kami akan menikah, kami ingin hubungan kami segera dihalalkan oleh negara dan agama.”
“Aku ikut senang, semoga kalian bisa jadi keluarga yang bahagia.”
***
Erga menarikku lebih jauh ke dalam waruga . “Lihat ini Ris,” katanya.
Dia menunjuk sebuah bangunan mirip collosium di Roma. Sebuah bangunan dengan lapangan yang dikelilingi undakan-undakan mirip stadion.
“Di sini dulu adalah tempat orang-orang melakukan upacara kematian Ris,” kata Erga.
“Terus?”
“Ayo kita ketengah sana, mari kita adakan upacara kematian untuk kenanganmu. Ayo kubur kenangan yang membuatmu menangis di waruga. Makamkan di peti-peti batu di atas sana, simpan di sini Ris, kubur jauh dari tempatmu akan melanjutkan hidup,” kata Erga.
Sesaat aku tidak sadar jika Erga sudah memabawaku ke tengah-tengah collosium versi Sulewi Utara ini.
“Lakukan ritualmu Ris,” teriak Erga.
Awalnya aku tak paham apa maksud perkataan Erga. Aku malah sibuk berputar-putar melihat tempat pemujaan di atas collosium lalu melihat versi gunung Lokon dari waruga. Awan mulai berarak menutup gunung Lokon, kumpulannya menjadi mendung yang hitam dan luruh jadi hujan. Hujannya mengalir dari tebing-tebih tinggi, terjun bebas dan semakin deras. Aku duduk, rasa sakit itu menusuk seperti ratusan panah yang di tembakkan bersamaan. Kenangan bermunculan, perpustakaan, kedai kopi, alun-alun, semuanya tumpah ruah seperti film yang dipercepat putarannnya. Kenangan itu berputar semakin cepat, cepat, dan cepat, “AAAAAAAAAAAAAAAA” aku berteriak kehilangan akal. Lambat laun putaran film itu melambat dan bayangan-bayangan kabur menghujam memoriku. Lelah aku duduk di lantai lapangan.
“Mau minum?” tanya Erga menyodorkan sebotol air mineral. Aku meraihnya menenggaknya buru-buru. “Kamu tahu Ris, waruga telah menerima upacaramu. Pembakaran telah berlangsung dan peti mati waruga sudah terbuka untuknya, hari ini kenanganmu, perasaanmu kepadanya telah dimakamkan di waruga,” kata Erga.
Mataku terasa berat, badanku lemas, Erga memapahku menaiki tangga lagi. Aku menatapnya, berterimakasih tanpa kata.


[1] Gunung tetinggi kedua di provinsi Sulawesi Utara
[2] Kata ganti orang kedua tunggal (kamu)
[3] Delman dalam bahasa Indonesia
[4] Dari kito orang yang artinya kita