Jumat, 25 Mei 2018
Selamat pagi, semoga kamu bangun dengan kebahagian. Semoga diujung bumi orang itu tak berhenti berdoa demi kebahagiaanmu. Semoga kamu juga membalasnya dengan doa yang sama, tak peduli apakah kamu tahu siapa dia atau tidak. Bilang saja pada Tuhan bahwa doa ini teruntuk orang diujung bumi yang selalu mendoakan kebahagianmu. Semuanya.
Selasa, 27 Maret 2018
Aku dan Bulan Maret
Aku dan bulan Maret sebenarnya selalu bertemu secara konstan
Tiap tahun sejak aku mendorong diri keluar dan didorong untuk keluar dari perut
Aku bertemu Maret
Tak kurang, tak lebih
Aku bertemu Maret sebanyak 31 hari setiap tahunnya
Tak seharipun lewat
Maret menyapaku dengan anginnya yang sepoi
Dengan matahari dan air yang siap mengguyur kapan saja
Maret yang selalu tersenyum dari awal hingga akhir
Maret lewat nada anginnya sering berbisik padaku
Katanya April terlalu jahil dan suka menipu
Disuruhnya aku hati-hati bila harinya telah habis diganti April
Maret juga kadang bercerita tentang Februari yang sesekali berganti
Membuat bulan cinta itu datang tidak pasti
Pesannya jangan seperti Februari yang sesekali memberi banyak tapi lebih sering sedikit
Seperti pesan singkat yang dikirimkannya tiap 4 tahun sekali dia akan datang lebih lama satu hari
Mengajakmu bercumbu dengan kali Blumbang dan berkencan di rumput-rumput Lodenok
Aih, aih, aih rasanya Februari pun sudah lupa dengan janji-janji
Sudah bertahun-tahun dia tak mengajakmu bercumbu di kali Blumbang juga tak mengajakmu kencan di benteng peninggalan Lodenok
Februari juga pergi terburu-buru, 28 hari dipangkasnya jadi satu minggu
dan semua berganti
Aku dan maret adalah sebuah pertemuan dan perpisahan
Dan kini dia menangis sesenggukan padahal biasanya dia biasa saja
Katanya dia takut aku sendirian di April
Dia takut pundakku akan rapuh tanpa sokongannya
Kubilang, jangan khawatir ada banyak tiang yang akan menyangga
Dan perpisahan hanyalah sebuah skip untuk kembali pada pertemuan
Maret masih menangis, katanya dia ingin memperpanjang satu minggunya lebih lama menjadi minggu-minggu yang tak habis atau tahun-tahun yang tak putus
Kubilang, aku harus terus berjalan biar aku bisa menyelesaikan tiap skenario yang sudah dituliskan
Maret bilang "andai aku adalah penulis skenariomu, maka akan kutulis ceritamu di bulanku."
Kubilang "hey, jangan egois, aku mesti bertemu bulan bulan lainnya supaya bisa belajar dan menjadi lebih baik dari sekarang"
Maret cemberut, disedekapkannya dua tangan di dadanya, dalam hatinya dia mengamini bahwa dia memang harus berakhir agar aku bisa pergi
Toh tahun depan jika ada umur panjang Maret dan aku akan bertemu lagi
Malang, Maret 2018
Tiap tahun sejak aku mendorong diri keluar dan didorong untuk keluar dari perut
Aku bertemu Maret
Tak kurang, tak lebih
Aku bertemu Maret sebanyak 31 hari setiap tahunnya
Tak seharipun lewat
Maret menyapaku dengan anginnya yang sepoi
Dengan matahari dan air yang siap mengguyur kapan saja
Maret yang selalu tersenyum dari awal hingga akhir
Maret lewat nada anginnya sering berbisik padaku
Katanya April terlalu jahil dan suka menipu
Disuruhnya aku hati-hati bila harinya telah habis diganti April
Maret juga kadang bercerita tentang Februari yang sesekali berganti
Membuat bulan cinta itu datang tidak pasti
Pesannya jangan seperti Februari yang sesekali memberi banyak tapi lebih sering sedikit
Seperti pesan singkat yang dikirimkannya tiap 4 tahun sekali dia akan datang lebih lama satu hari
Mengajakmu bercumbu dengan kali Blumbang dan berkencan di rumput-rumput Lodenok
Aih, aih, aih rasanya Februari pun sudah lupa dengan janji-janji
Sudah bertahun-tahun dia tak mengajakmu bercumbu di kali Blumbang juga tak mengajakmu kencan di benteng peninggalan Lodenok
Februari juga pergi terburu-buru, 28 hari dipangkasnya jadi satu minggu
dan semua berganti
Aku dan maret adalah sebuah pertemuan dan perpisahan
Dan kini dia menangis sesenggukan padahal biasanya dia biasa saja
Katanya dia takut aku sendirian di April
Dia takut pundakku akan rapuh tanpa sokongannya
Kubilang, jangan khawatir ada banyak tiang yang akan menyangga
Dan perpisahan hanyalah sebuah skip untuk kembali pada pertemuan
Maret masih menangis, katanya dia ingin memperpanjang satu minggunya lebih lama menjadi minggu-minggu yang tak habis atau tahun-tahun yang tak putus
Kubilang, aku harus terus berjalan biar aku bisa menyelesaikan tiap skenario yang sudah dituliskan
Maret bilang "andai aku adalah penulis skenariomu, maka akan kutulis ceritamu di bulanku."
Kubilang "hey, jangan egois, aku mesti bertemu bulan bulan lainnya supaya bisa belajar dan menjadi lebih baik dari sekarang"
Maret cemberut, disedekapkannya dua tangan di dadanya, dalam hatinya dia mengamini bahwa dia memang harus berakhir agar aku bisa pergi
Toh tahun depan jika ada umur panjang Maret dan aku akan bertemu lagi
Malang, Maret 2018
Sabtu, 17 Februari 2018
MAS MIZONE
Siang hari di
kampus. Panas matahari yang begitu menyengat tertiup desiran angin sejuk di
lorong sebelah barat kampus. Aku dengan kerepotan membawa setumpuk kerudung
motif beraneka jenis yang aku jajakan di waktu luangku.
Di kanan kiriku
Ilmi dan Dea sibuk membantu membawakan tas-tas yang isinya masih sama. Ilmi
yang berada di sebelah kananku sesekali mengomel dan mengeluh padaku.
Menanyakan bagaimana nasibku jika tidak ada dia dan Dea yang mau membantuku.
“Ya aku nggak
bakal bawa barang sebanyak ini Mi,” jawabku santai, terkekeh. Aku melihat wajah
Ilmi yang cemberut dan berbalik menatap Dea di sampingku. Dea menatapku dan
tersenyum kecil seperti biasa, sedang aku tersenyum puas melihat Ilmi yang
selalu cemberut seperti itu. Bagiku itu hiburan kecil di tengah hidupku yang
penuh dengan ketidakpastian. Terutama cinta.
Cinta bagiku
adalah problema yang tak punya solusi setitikpun. Aku Cuma berandai-andai di
tengah ruwetnya hidupku mengerjakan tugas-tugas dosen yang mengalir deras tanpa
usai, mencari rupiah demi rupiah untuk membayar kuliah dan kos aku bisa
menemukan seseorang yang bersedia meminjamkan bahunya barang lima menit untuk
melepas lelahku.
Di tengah lorong
ini masih dengan Ilmi yang menggerutu dan Dea yang membisu aku tersenyum-senyum membayangkan seorang
pangeran berjalan menghampiriku dengan tawa renyah dan wajah penuh dengan
kedamaian. Tak sadar kurasakan badanku berputar seperti gasing yang dilepaskan.
Ada debar dan detak-detak seperti genderang yang memeuhi ruang dadaku.
Mengasyikkan hingga aku sulit bernafas dan mataku terpaku.
“Mi, De, ada
malaikat lagi jalan-jalan,” kataku lirih.
Ilmi sepontan
langsung mengusap wajahku dengan anarkis, “hmmmm, Ganis, mata kamu hampir
keluar tuh,” serunya tepat di telingaku. Aku Cuma meringis menyadari kekhilafanku.
“Tapi masnya
emang lucu Mi, tawanya renyah kaya kripik,” aku berbalik menatap Dea mencari
pembelaan, “iya kan De?” Dea dengan ketulusan memberikan senyumnya padaku tanda
dia mendukungku.
“Mi, De, kayanya
ini pertanda,” kataku mantap menatap bayang-bayang orang yang aku kira hanya
halusinasi itu.
“Pertanda apa?”
tanya Dea.
“Kalo dia
jodohku,” kataku lebih mantap dengan senyum tersungging. Mas-mas itu kini
lenyap di belokan gedung perpustakaan. Namun aku masih saja menatap lurus ke
arah menghilangnya. Dalam benakku walaupun dia sudah menghilang tapi lintasan
jejak kakinya membentuk potongan-potongan film yang mungkin akan selalu
terputar dalam memoriku bahkan jika nanti aku tidur.
Jatuh cinta
terkadang membuat kita lupa sejenak akan hidup kita yang begitu rumit dan penuh
dengan persoalan-persoalan yang selalu datang. Begitu juga denganku, jatuh
cinta pada mas-mas kemarin siang membuatku bisa tersenyum sepagi ini, di tengah
ruangan yang nantinya aku akan bertemu dengan seorang dosen yang dengan tatapan
matanya saja aku akan meleleh. Tapi tak apa, walaupun aku harus tercerai berai
menjadi atom ataupun potongan netron, proton, dan elektron akan aku terima
dengan ikhlas dan tulus hati.
“info baru!”
seruku riang ketika aku sudah menjejakkan kakiku di hadapan meja Dea dan Ilmi
di lantai tiga.
“Apa?” tanya Dea
penasaran.
Aku tersenyum,
“aku tahu nama mas-mas yang kemarin De.”
“Siapa?”
“Rafiq, namanya
Mas Rafiq,” aku melepas ransel di pundakku dan duduk di sebelah mereka.
“Dari mana kamu
tahu Nis?” tanya Ilmi yang mulai tergoda dengan ceritaku.
“Dari daftar
pinjam peralatan di ruang TU,” jawabku dengan nada tidak bersalah.
Ilmi menghela
nafas antara kesal dan mungkin menghargai kecerdasanku. Lalu dia menatapku
tajam ingin membunuh, “ jadi itu alasan kamu belum mau naik padahal kita ada
jam dosen killer itu?” Aku menjawabnya dengan cengiran.
“Kalian harus
dukung aku ya,” pintaku dengan wajah memelas. Aku bangkit dari kursi dan
menggenggam tangan mereka lalu aku tatap mereka satu persatu, “Mi, kamu kan
sudah punya Yudhi, Dea juga sudah punya Mas Shidiq, bantuin temen kalian ini
supaya dapat pasangan juga,” kataku
memelas di hadapan mereka.
“Emang apa
hubungannya Nis?”
“Jelas ada dong,
masa kalian tega temen kalian yang satu ini jadi jomblo terus.”
“Kalau menurutku
nggak ada salahnya dengan jomblo, Nis,” kata Dea. “Berarti Tuhan lagi nyiapin
yang terbaik buat kamu,” sambungnya.
“Kamu benar
Dea,” aku tersenyum cerah, “dan ini seseorang yang disiapin Tuhan itu,”
sambungku.
Mendengar
jawabanku mereka berdua saling berpandangan, menatapku tajam, lalu berteriak
kencang, “GANISSSSS”
Berkat
kecanggihan teknologi akhirnya aku
mendapatkan banyak info tentang Mas Rafiq, atau kalau sekarang sudah aku
panggil Mas Mizone, kenapa? Karena setiap kali aku papasan sama dia semangatku
langsung meluap-luap sama seperti iklan yag ada di TV yang sering aku lihat.
Dari sosmed aku
tahu dia lahir tanggal 8 Maret 1994, hobi naik gunung, asli Trenggalek dan
senang menggambar. Dari pengamatanku yang jeli Mas Mizone berangkat ke kampus
naik Motor Revo dan kosnya tidak jauh dari kosku. Pertanda nih, pertanda. Aku
semakin riang gembira.
Ngefans sama Mas
Mizone itu bener-bener bikin semangat. Tiap pagi aku bangun dengan cerah ceria dan tidur dengan cerah ceria.
Walaupun pagi aku harus kuliah dan siang harus jualan asal bisa lihat Mas
Mizone semangatku langsung ngumpul lagi.
“Sorry Nis,
ibuku belum kasih kiriman bulan ini,” kata
Ninik salah satu pelangganku. Dengan wajah memelas dia menaruh kerudung
yang sudah dia buka di tanganku.
“Iya, nggak
apa-apa,” kataku memaklumi walaupun dalam hati aku juga merasa kesal. Apalagi
tindakannya itu ibarat virus yang cepat menyebar, anak-anak yang ada di
sekitarnya mengikuti tindakannya satu persatu dan mengembalikan kerudung yang
sudah terbuka ke atas tanganku. Di tengah riuh rendah permintaan maafnya aku
Cuma bisa menjawab lirih, “iya nggak apa-apa, makasih ya.”
Setelah mereka
pergi meninggalkan pekerjaan baru untukku, aku mencari tempat bersandar dan
duduk. Aku menarik nafas panjang dan mulai melipat kerudung-kerudungku yang
berceceran.
“Sini aku
bantuin,” suara itu mengagetkan aku. Tanpa dikomando dia mengambil kerudung di
tanganku dan berusaha melipatnya. Aku menatapnya masih tidak percaya, aku ingin
bicara menyapanya. Namun yang keluar hanya udara yang bisu. Akhirnya hanya
keluar kalimat yang begitu memaksa dan salah tingah, “nggak usah repot-repot
mas, aku bisa sendiri kok.” Aku merebut kerudung dari tangannya. Orang itu
melepas kerudung dari tangannya lalu mengulurkan tangan, “aku Rafiq, nama kamu
siapa?”
Seperti orang
bodoh aku hanya diam saja. Bagaimana tidak, sudah beberapa lama aku hanya bisa
melihatnya diam-diam dan kini dia mengulurkan tangan untuk kenalan.
“Nama kamu
siapa?” ulangnya.
“Ehm, aku Ganis
Mass,” jawabku.
“Ganis ya? Nama
kamu bagus juga,” ujarnya dan aku hanya bisa tersenyum.
Sejak perkenalan
itu entah kenapa kami jadi begitu dekat. Aku dan Mas Mizone ibarat magnet beda
kutub yang selalu lengket dan selalu tarik menarik. Setiap kali aku berada di
suatu tempat Mas Mizone pasti ada di sana.
Hal ini tentu
membuatku girang bukan kepalang. Ilmi dan Dea yang menjadi pendengar setiaku kerap
kali hanya bisa geleng-geleng melihat tingkahku. Sering mereka menasehatiku
agar aku tidak begitu mudah berharap. Namun aku seakan tuli dengan nasehat itu.
Sering kami
keluar berdua hanya sekedar untuk membeli es krim atau mengantarku jika ada
keperluan mendadak. Mas Mizone begitu bisa aku andalkan.
Sore itu setelah
mengantarku dari kampus utama dia menurunkan aku di depan kos.
“Makasih kak,”
ucapku. Mas Mizone hanya mengangguk dan
tersenyum.
“Nis?”
“Iya Mas.”
“Kamu mau nggak
liburan minggu ini main ke rumahku?” tanyanya. Aku masih diam, mungkin aku
salah dengar.
“Nis, gimana?
Mau nggak main ke rumahku?”
Walaupun aku
merasa begitu kaget mendengarnya, ada gemuruh riuh yang bergolak di hatiku.
Muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mengembangkan senyum, “apakah aku
akan dikenalkan dengan orang tuanya?” “Benarkah Mas Mizone suka denganku?”
Reflek aku mengangguk mengiyakan. Mas Mizone yang duduk di motornya tersenyum
senang. “Ok, kalau gitu hari jum’at sore nanti aku jemput di kos, kita bakal
naik kereta ke Trenggalek.”
“Siap Bos!” aku
memberi hormat padanya. Melihat antusiasku yang tinggi Mas Mizone memberikan
senyum renyahnya lagi sebelum berlalu meninggalkan aku yang melambai riang
padanya.
Hari H tiba.
Ditemani ransel coklat kesayanganku aku menghampirinya yang sudah menungguku di
halaman depan. Kami berdua melangkahkan kaki bersama menuju tempat menunggu
angkot di seberang jalan yang akan membawa kami ke stasiun kota baru.
Angkot biru itu
mengantarkan kami hingga turun di depan stasiun. Aku berjalan di belakang Mas
Mizone yang mendadak berhenti. Aku hampir menabraknya dan menyadari dia sedang
berbicara dengan seseorang di depannya.
“Hei Al, udah
lama nunggu ya?” Mas Mizone menyapa seorang perempuan yang memakai celana dan
jaket jeans dan kerudung motif warna kuning. Perempuan itu hanya tersenyum,
“baru lima belas menit kok,” katanya kemudian.
Aku yang berdiri
di belakang Mas Mizone bertanya-tanya, “siapakah dia?”
Mas Mizone
menoleh padaku dan mengenalkan aku pada seseorang itu, “Ganis, kenalin ini Mbak
Alma, dia juga ikut ke rumahku.”
Wajahku tampak
kaget mendengarnya, “Mas Mizone ngajak cewek lain?” tanyaku pada diri sendiri.
Namun kubuat hatiku berkhusnudzon, dan menyakinkan diri bahwa perempuan itu ada
hanya sekedar aku tak sendirian di sana.
Sayangnya
kehadiran perempuan itu merebut semua perhatian Mas Mizone padaku. Meninggalkan
aku yang terduduk lesu di kursi kereta hingga tertidur.
“Nis, bangun
Nis, sudah sampai,” terdengar suara sayup-sayup suara Mbak Alma di telingaku.
Malas kubuka mataku dan mengikuti orang-orang yang mengalir mencari jalan
turun.
Kami keluar dari
stasiun dan menyusuri jalan kecil beberapa ratus meter. Di ujung perjalanan
kami bertemu dengan rumah berwarna hijau sederhana.
“Assalamualaikum,
Ibu, Ayah, Rafi pulang!” seru Mas Mizone saat kami tiba di teras rumah. Ayah
Ibu Mas Rafiq tiba di pintu. Aku spontan tersenyum pada mereka. Namun mereka
memandang kami diam tanpa ekspresi. Menyadari itu Mas Mizone bicara, “kok diem
aja sih Yah, Bu,” Mas Mizone menghampiri mereka. Sebelum dia menuntun
orangtuanya masuk ke dalam rumah dia menoleh pada kami, “Al, Nis, kalian duduk
dulu, aku masuk dulu.”
Mengiyakan
kata-kata Mas Mizone kami berdua duduk di kursi teras. Aku yang masih merasa
heran bertanya polos pada Mbak Alma,
“mbak kenapa mereka diam saja?” Di depanku Mbak Alma hanya tersenyum kecil
membuatku semakin bingung.
Orang tua Mas
Mizone kembali bersama Mas Mizone.Ibunya membawa nampan berisi kue dan minuman
sambil meletakkan nampan. Ibu itu menatapku lekat-lekat.
“Bu, kenalin ini
Alma pacar Rafiq,” kata Mas Mizone dengan santainya. Mbak Alma berdiri dan
menyalami kedua orang tua Mas Mizone.
“Dan ini Ganis,”
lanjut Mas Mizone. Aku yang masih shock karena pernyataan Mas Mizone masih
bengong di kursiku. Rasanya aku pengen nangis saat itu, tapi melihat orang tua
Mas Mizone yang memandangiku aku bangkit
dari kursi dan menyalami Ibu Mas Mizone.
Alih-alih
menyambut tanganku beliau langsung memelukku erat-erat sambil menangis.
Sayup-sayup kudengar Mas Mizone melanjutkan perkataaanya, “yang aku bilang
mirip sama almarhum Lisa.”
Almarhum Lisa?
Aku bertanya-tanya. Ibu Mas Mizone melepaskan pelukannya memegangi tanganku
menyentuh wajahku seakan-akan aku benda ajaib yang sudah lama dicarinya.
Penjelasan
pernyataan Mas Mizone akhirnya aku temukan
di ruang tamu. Sebuah foto besar perempuan dengan senyum lebar. Perempuan itu
benar-benar mirip denganku. Wajahnya, bibirnya, bahkan caranya tersenyum.
Dan kini aku
sadar kenapa Mas Mizone begitu peduli denganku. Itu tidak lain hanya karena aku
mirip dengan almarhum adiknya. Dan alasan dia membawaku jauh-jauh ke sini tidak
bukan hanya supaya orang tuanya bisa melihatku.
Rasanya perih
sekali menyadari kenyataan ini. saat Mas Mizone mengajak aku dan Mbak Alma pergi melihat sekeliling aku memilih di rumah
menemani Ibu Mas Mizone dan mendengar ceritanya tentang Lisa.
“Lisa meninggal
karena lemah jantung 2 tahun lalu, dan keluarga ibu terasa beku sejak saat itu.
Mas Rafiq tidak banyak bicara begitupun ibu dan bapak. Rumah ini terasa mati
semenjak Lisa meninggalkan kami,” ceritanya.
Lalu beliau
mengusap kepalaku, “tapi sejak 2 bulan lalu semuanya mulai berubah, mungkin
semenjak Rafiq kenal sama kamu.”
“Dia banyak
cerita kalau dia menemukan Lisa lagi. Kamu tahu Nis, Rafiq sangat menyayangi
adiknya itu.”
Aku tersenyum,
“tapi saya bukan Lisa Bu, saya tetap saja Ganis.”
“Ibu tahu kamu
tidaklah 100% persis seperti Lisa. Kamu juga tidak lahir dari rahim ibu dan
memiliki keluarga sendiri. Tapi melihat kamu saja bisa bertemu kamu kami sudah
bahagia. Terlebih karena kedatanganmu sudah mengembalikan kebahagiaan kami.”
Kami terdiam
cukup lama. “Ganis, kamu maukan sering-sering main ke sini?” tanyanya. Aku
menatap beliau.
“Iya biar Rafiq
yang nemenin.”
Aku tersenyum,
“insya Allah Bu,” jawabku.
Malamnya orang
tua Mas Mizone mengajak kami main ke sebuah taman. Di sana kami menggelar tikar
dan makan bersama. Kami berbincang, bercanda, dan tertawa bersama.
Ketika orang tua
Mas Mizone fokus pada Mbak Alma aku diam-diam pergi dan duduk di sebuah ayunan.
Kupandang bintang-bintang yang sesekali berkedip padaku.
“Kenapa
kedip-kedip? Seneng lihat orang lagi galau,” makiku.
“Ternyata
kebaikannya selama ini hanya karena aku mirip adiknya,” omelku.
“Ternyata aku
penyakit GR akut nih.”
“Penyakit GR
akut? Penyakit baru Nis?” tanya Mas Mizone yang entah sejak kapan dia ada di
sana. Aku melihatnya lalu berpaling lagi. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan
kalau melihatnya.
Mengabaikan
kehadirannya aku mengayunkan kaki dan menyibukkan diri memandang
bintang-bintang. Tak ada respon dari Mas Mizone lagi. Dia malah ikut duduk di
ayunan tepat di sampingku, “dasar tidak peka,” batinku kesal.
“Makasih Nis,”
katanya selang beberapa lama. Aku menatapnya, “buat apa?”
“Buat semuanya.
Makasih udah mau deket sama aku, makasih udah mau datang ke sini, dan makasih
udah buat keluargaku tersenyum lagi.”
“Yang ada aku
yang berterima kasih Mas, udah boleh main ke sini.”
Mas Mizone
tersenyum padaku, “sama-sama kalo gitu.”
“Nis, mas punya
permintaan satu lagi buat kamu.”
“Apa Mas? Kalau
Ganis bisa Insya Allah Ganis turutin.”
“Kamu mau nggak
jadi adik Mas Rafiq.”
Dadaku terasa
sesak seketika itu juga. Pisau-pisau tipis mulai menggores bagian terdalam
hatiku. Andai dia tahu, aku tak hanya ingin jadi seorang adik tapi lebih dari
itu.
“Kenapa? Karena
Ganis mirip Lisa?” sentakku. Entah kenapa suaraku mendadak sarat akan emosi.
“Kamu nggak mau
ya?” ada nada sedih dalam suaranya. Aku merasa bersalah sudah bertindak kasar.
“Ganis bukan
Lisa Mas, dan nggak akan sama dengan Lisa,” aku mencoba menetralisir suasana.
“Mas tahu kamu
bukan Lisa, tapi Lisa di atas sana pasti ingin kalau kamu jadi adik Mas Rafiq.”
“Dari mana mas
tahu?”
“Keluarga mas
jadi sepi, dingin, dan tidak berwarna sejak kepergian Lisa. Kami jadi apatis
dan hidup sendiri-sendiri. Pasti di sana Lisa sedih. Tapi sejak kamu muncul
semua berubah, kamu ibarat perantara yagn dikirim Tuhan untuk mengembalikan
kebahagiaan kami, dan di sana Lisa pasti juga bahagia.”
Aku menatap Mas
Mizone, lalu melihat ke bentangan langit malam dan melihat ayah, ibu, dan Mbak
Alma yang sedang bercengkerama dengan hangat. Cerita ibu tadi mereka baru bisa
saling bicara akrab lagi belum lama ini dan Mas Mizone bisa pulang baru saat
ini. Ada ketidakikhlasan yang menyusup jauh di pori-pori hatiku. Namun di satu
sisi aku ingin melihat keluarga ini tetap bisa seperti ini. “Besok kita bisa ke
makam Lisa Mas?” tanyaku akhirnya.
Mas Mizone
memenuhi permintaanku untuk pergi ke makam Lisa. Di sana kami berdua
membersihkan makamnya dari daun dan rerumputan liar. Tak lupa kami menaburinya
dengan bunga dan menyiramkan sebotol air. Lalu kami berdoa, kubacakan surat
Al-Fatihah dengan khusuk dengan mata terpejam. Diakhir bacaanku, masih dengan
menutup mata aku membatin, membayangkan jika sekarang Lisa bisa mendengarku
dari surga, “Lis, tadi malem Mas Mizone minta aku buat jadi adiknya. Aku
bingung Lis, satu sisi sebenarnya aku tidak hanya ingin Mas Mizone jadi
kakakku, satu sisi katanya aku sudah membuat keluarga kamu kembali seperti
dulu. Lis, aku tidaklah sama dengan kamu, terlebih aku tidak ingin menggantikan
posisi kamu. Lis, bolehkah aku jadi bagian dari keluargamu? Menjadi adik Mas
Rafiq? Kalau kamu denger aku, minta tolong sama Tuhan supaya memberi jawaban.”
Setelah menarik
nafas panjang kubuka mataku. Aku takjub mendapati sekelilingku. Warna-warna cantik
beterbangan di sekitar kami. Aku menoleh pada Mas Mizone dan diapun menggeleng
tidak tahu.
Aku berpikir
sejenak, benarkah kupu-kupu cantik ini jawabannya? Dan kupu-kupu itu seakan
membentuk senyuman untukku, mengiyakan. Aku membalas senyumnya masih diselimuti
ketakjuban.
Kutatap wajah
Mas Mizone yang masih terpesona dengan sekelilingnya, “Mas?” panggilku.
“Iya,” dia
menoleh padaku.
Aku menarik
nafas panjang, berusaha memberikan keyakinan pada diriku bahwa ini yang paling
baik, “aku mau jadi adik Mas Rafiq,” kalimat itu meluncur juga dari mulutku.
Seperti roket yang meninggalkan bumi mencari pengalaman hidup di luar angkasa.
Begitu juga kalimat ini, pastinya akan mengubah seluruh perjalanan hidupku
nantinya.
“Benarkah?” Mas
Mizone menatapku tidak percaya.
“Iya, aku akan
berusaha jadi adik yang baik buat Mas Rafiq” kataku sambil tersenyum. Mas
Mizone membalas senyumku, “makasih Nis?” katanya. Aku tersenyum lagi, ya paling
tidak aku bisa membuatnya tersenyum kan?
Kembali di
rutinitas kampus, aku bertukar cerita bersama Ilmi dan Dea tentang liburan
kami. Saat aku mengakhiri ceritaku bukannya bersimpati karena kejadian itu,
mereka malah tertawa terbahak-bahak.
“Kalian itu ya,
orang ngenes gitu diketawain,” sungutku kesal. Seharusnya mereka kan prihatin
dengan keadaanku.
“Abis dulu kamu
bilang kalau pertanda jodoh nih, pertanda jodoh, ujung-ujungnya jodoh jadi
adik,” kata Ilmi, “mana diajak ke sana sama pacarnya Mas Mizone lagi,”
sambungnya masih dengan tawa yang menggelegar.
“Seneng banget
kamu Mi,” aku menatapnya kesal.
“Tapi kalau
menurutku kamu tetep berharga kok Nis, kata Mas Mizone kan kamu bisa ngembaliin
keluarga itu seperti dulu lagi, apalagi yang waktu di makam itu,” kata Dea
menengahi.
Aku menatap Dea lega,
“iya juga sih De.”
“Iya Nis, kamu
harus tetep bersyukur,” kata Ilmi akhirnya.
“Yap, emang
sepertinya kau harus bersyukur,” kataku memotivasi diri.
“Gitu dong!”
kata Ilmi sambil menepuk pundakku.
“Ke kelas yuk,
udah mau mulai nih,” ajak Dea.
“Oke,” jawab aku
dan Ilmi. Kami bangkit dari kursi di lorong barat. Karena terlalu bersemangat
aku menabrak seserorang yagn berjalan ke arahku.
“Maaf Mas,”
seruku spontan.
“Nggak apa-apa
kok,” katanya sambil tersenyum.
Seperkian detik
kutatap wajahnya sampai dia benar-benar hilang dari pandangan mataku.
“Mi, De, Tuhan
cepet banget kasih ganti. Pangeran kuda putihku barusan aja lewat.”
“GAAANNNNISSSS!!!!”
teriak mereka sambil memukuli aku.
Selesai
Jumat, 22 Desember 2017
Aku, Dia, dan Pulang
Menjadi pencinta yang diam terkadang adalah pilihan paling konyol. Membuat cerita-cerita sendiri, memainkannya seperti wayang di balik layar imajinasi. Menggerakkan tokohnya, menyetingkan waktu dan tempatnya, menaburkan suasana di sekujurnya. Semuanya adalah khayalan. Perjalanan cinta diam diam.
Dan wayang dalam kehidupan aslinya bergerak semakin menjauh. Kadang dia bersembunyi di balik rak rak buku yang sering aku sentuh, namun ketika aku kejar dia semakin dalam bersembunyi, mungkin dia malah masuk menjadi kata kata, huruf-huruf dalam buku buku Abdul Majid, Suharsimi Arikunto, atau Zainal Arifin.
Ketika aku sudah pilu dia berjalan di sepanjang jalan berpaving menuju satu-satunya gedung Pascasarjana, melewati taman hijaunya dan hilang di balik pintunya. Aku menunggunya, duduk di bahu jalan. Tidak tidak, aku tak berambisi untuk bisa bicara, aku hanya ingin melihatnya lewat entah sedang baca buku atau berceloteh dengan kawannya. Hanya saja, sampai adzan magrib menggaung dia tak keluar lagi. Apakah gedung itu punya jalan lain selain pintu masuknya, atau dia melayang begitu saja seperti oksigen. Melebur bersama udara lainnya, membaur bersama karbon dioksida.
Aku masih belum menyerah. Kutunggu dia di bawah payung warna warni dengan kursi-kursi batu berwarna warni. Ku tunggu dia menyeduh kopi di sebuah panggung mini dimana agama, politik, dan wanita di perdebatkan antara mereka. Aku menunggunya sambil menyesap jus melon berwarna orange yang manisnya semakin menyusut. Hingga terik matahari membuat orang tak bisa bertahan dan meninggalkan kursi batu tanpa payung warna warni dia juga tak ada. Hanya ada asap rokok yang semakin membumbung, berwarna putih dan tebal disusul kepulan asap kopi cappucino dan kopi hitam. Aku menyeret langkahku ketika matahari lelah berada di puncaknya dan sinarnya jadi tak sepanas beberapa waktu lalu. Aku berlalu, meninggalkan kursi batu berpayung pelangi dengan gelas jus yang kosong.
Kutemukan dia akhirnya, badannya menembus pintu gedung stasiun berwarna putih. Dia tergesa meski jam masih berdetak menuju angka delapan. Aku mengerjarnya, namun aku tak lagi punya tiket untuk masuk ke gerbongnya. Aku tahu, beberapa menit lagi dari caranya berlari, kereta sedang menunggu dia dengan mesinnya yang tergopoh-gopoh. Aku tak dapat mengejarnya dan berjalan gontai menuju parkir motor yang aku ganjar lima ribu. Aku mengeluarkan motorku, memutarnya ke arah pulang. Dan aku membayangkan dia sedang melewati rumah-rumah yang rapat, sawah-sawah yang hijau, kebun tebu yang lebat, dan berpapasan dengan puluhan mobil yang silih berganti. Kulihat dia mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna hitam, memasang gulungan kabel dan menancapkan dua cabangnya di lubang telinga. Aku tahu dia melihat jamnya, memastikan dia tak akan terlambat sampai di kota yang jauh sembari berdoa tak banyak masalah dengan crash yang sering terjadi antar kereta, karena akan banyak kota yang ia lewati sepanjang perjalanan, akan sangat banyak stasiun yang menunggu untuk diminta berhenti. Sedang aku, aku sudah menikung di perempatan Klojen, dihentikan lampu merah perempatan Rampal, dan memacu dengan sangat lemah motor menuju pulang (ku).
Dan wayang dalam kehidupan aslinya bergerak semakin menjauh. Kadang dia bersembunyi di balik rak rak buku yang sering aku sentuh, namun ketika aku kejar dia semakin dalam bersembunyi, mungkin dia malah masuk menjadi kata kata, huruf-huruf dalam buku buku Abdul Majid, Suharsimi Arikunto, atau Zainal Arifin.
Ketika aku sudah pilu dia berjalan di sepanjang jalan berpaving menuju satu-satunya gedung Pascasarjana, melewati taman hijaunya dan hilang di balik pintunya. Aku menunggunya, duduk di bahu jalan. Tidak tidak, aku tak berambisi untuk bisa bicara, aku hanya ingin melihatnya lewat entah sedang baca buku atau berceloteh dengan kawannya. Hanya saja, sampai adzan magrib menggaung dia tak keluar lagi. Apakah gedung itu punya jalan lain selain pintu masuknya, atau dia melayang begitu saja seperti oksigen. Melebur bersama udara lainnya, membaur bersama karbon dioksida.
Aku masih belum menyerah. Kutunggu dia di bawah payung warna warni dengan kursi-kursi batu berwarna warni. Ku tunggu dia menyeduh kopi di sebuah panggung mini dimana agama, politik, dan wanita di perdebatkan antara mereka. Aku menunggunya sambil menyesap jus melon berwarna orange yang manisnya semakin menyusut. Hingga terik matahari membuat orang tak bisa bertahan dan meninggalkan kursi batu tanpa payung warna warni dia juga tak ada. Hanya ada asap rokok yang semakin membumbung, berwarna putih dan tebal disusul kepulan asap kopi cappucino dan kopi hitam. Aku menyeret langkahku ketika matahari lelah berada di puncaknya dan sinarnya jadi tak sepanas beberapa waktu lalu. Aku berlalu, meninggalkan kursi batu berpayung pelangi dengan gelas jus yang kosong.
Kutemukan dia akhirnya, badannya menembus pintu gedung stasiun berwarna putih. Dia tergesa meski jam masih berdetak menuju angka delapan. Aku mengerjarnya, namun aku tak lagi punya tiket untuk masuk ke gerbongnya. Aku tahu, beberapa menit lagi dari caranya berlari, kereta sedang menunggu dia dengan mesinnya yang tergopoh-gopoh. Aku tak dapat mengejarnya dan berjalan gontai menuju parkir motor yang aku ganjar lima ribu. Aku mengeluarkan motorku, memutarnya ke arah pulang. Dan aku membayangkan dia sedang melewati rumah-rumah yang rapat, sawah-sawah yang hijau, kebun tebu yang lebat, dan berpapasan dengan puluhan mobil yang silih berganti. Kulihat dia mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna hitam, memasang gulungan kabel dan menancapkan dua cabangnya di lubang telinga. Aku tahu dia melihat jamnya, memastikan dia tak akan terlambat sampai di kota yang jauh sembari berdoa tak banyak masalah dengan crash yang sering terjadi antar kereta, karena akan banyak kota yang ia lewati sepanjang perjalanan, akan sangat banyak stasiun yang menunggu untuk diminta berhenti. Sedang aku, aku sudah menikung di perempatan Klojen, dihentikan lampu merah perempatan Rampal, dan memacu dengan sangat lemah motor menuju pulang (ku).
Rabu, 20 Desember 2017
Tersesat di rindu
Sudah pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Mataku tak juga ingin terpejam. Padahal aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Pikiranku malah sedang sibuk mendengarkan alunan lagu dari penyanyi legendaris yang sekarang tinggal nama dan karya. Tidak, tidak, bukannya isi kepalaku sedang berputar-putar memainkan kepingan memori yang aku miliki tentangmu.
Malam ini aku ingin jujur pada rentetan mendung yang mengubur bintang cantikku, aku sedang merindukanmu. Benar benar rindu yang kanak kanak. Memilih menyelencari jendela sosmedmu, memandangimu yang beku, membaca puisi yang kau tulis di papan putih sampingnya, dan mengamatimu yang sedang bicara di kolom komentar. Rinduku kanak kanak yang takut berdiri, takut jatuh. Rindu yang menawanku di cawan mimpi, membuaiku dengan cerita-cerita indah pangeran dan putri yang selalu berakhir bahagia.
Rinduku tak akan pernah dewasa. Karena aku tidak berusaha untuk menghentikan lajunya rindu. Aku hanya menikmatinya, meski rindu membuatku sekarat tiap detik ketika mengingatmu.
Malam ini aku ingin jujur pada rentetan mendung yang mengubur bintang cantikku, aku sedang merindukanmu. Benar benar rindu yang kanak kanak. Memilih menyelencari jendela sosmedmu, memandangimu yang beku, membaca puisi yang kau tulis di papan putih sampingnya, dan mengamatimu yang sedang bicara di kolom komentar. Rinduku kanak kanak yang takut berdiri, takut jatuh. Rindu yang menawanku di cawan mimpi, membuaiku dengan cerita-cerita indah pangeran dan putri yang selalu berakhir bahagia.
Rinduku tak akan pernah dewasa. Karena aku tidak berusaha untuk menghentikan lajunya rindu. Aku hanya menikmatinya, meski rindu membuatku sekarat tiap detik ketika mengingatmu.
Minggu, 03 Desember 2017
Suhuue, Ajari Aku Jatuh Cinta! (Ep 6)
Matahari kuning jam 10 pagi menembus dedaunan mangga kurus di halaman rumah Bude. Ue yang baru mencuci Jupli (motor pinjaman bude buat Ue) merebahkan tubuhnya di kursi abu-abu. Kepanasan dan lengket Ue mengipasi tubuhnya dengan tangan. Untuk ukuran minggu pagi ini adalah minggu yang sempurna. Langit biru cerah tanpa awan, matahari bersinar begitu kuning di atas langit merangkak ke puncak tahtahnya sebelum akhirnya tergusur juga.
Lagu Faded menyentak dari dalam smartphone berwarna putih lusuh akibat kejahatan yang dibuat Ue. Sampai lagu berganti menjadi "Side to side dari Ariana Grande" Ue masih menatap langit biru itu. Lagu itu hanya backsong saja, sedangkan pikirannya melayang pada Kak Rizal yang kemarin menyapanya.
Ue meraih smarthponenya, mengabaikan lagu lain yang kini terputar dan menjerit-jerit. Sebuah notif whatshapp berwarna putih menghiasa atas layar smartphonenya. Ue menggesernya ke bawah tanpa nafsu. Biasanya notif itu hanya berisi chat grup beberapa organisasi yang diikutinya yang biasanya hanya dibuka atau sesekali di baca oleh Ue.
Pesan itu ternyata dari nomor yang tak dikenal. Bukan tidak dikenal sebenarnya, Ue saja yang jarang mau memberi nama pada kontak-kontak whatshappnya. Pesan itu berbunyi "Ue mau pergi ke Malang Tempoe Doeloe nggak?"
Penasaran Ue klik pesan itu dan munculah kolom percakapan lengkap dengan foto kecil di ujung kiri atas. Laki-laki. Sepertinya Ue kenal. Dia buka foto profil orang itu.
"Hah, nggak mungkin!" pekiknya.
"Apanya yang nggak mungkin Ue?" tanya Kevin yang tiba-tiba muncul.
Ue menoleh, menyembunyikan smartphone di balik tangannya.
"Bukan apa apa Kak."
"Kamu kelihatan kaget banget??"
"Masa iya? Perasaan kakak aja paling."
"Biasanya sih gue nggak pernah salah."
"Eh Kak, Bude ada di rumah nggak?" tanya Ue mengalihkan topik.
"Nggak ada, mama pergi ke rumah Tante Tuti di Arjosari."
"Emmm, kalo gitu Ue minta ijin sama kakak aja ya."
"Minta ijin apa?"
"Ue mau ke MTD kak."
"MTD?" Kevin tampak menimbang-nimbang.
"Gimana Kak?"
"Boleh sih, Alrey katanya juga mau ke sana."
"Fix, berarti boleh ya?"
"Iya, sekalian temenin Alrey ya? Apa dia gue suruh jemput lu ya?"
"Nggak, nggak usah Kak, Ue berangkat sendiri saja," kata Ue. Badannya sudah berdiri dan berlari menuju kamar. Dia harus mandi sebelum bau bau asam yang bisa membuat besi berkarat dari tubuhnya tida bisa hilang.
Lagu Faded menyentak dari dalam smartphone berwarna putih lusuh akibat kejahatan yang dibuat Ue. Sampai lagu berganti menjadi "Side to side dari Ariana Grande" Ue masih menatap langit biru itu. Lagu itu hanya backsong saja, sedangkan pikirannya melayang pada Kak Rizal yang kemarin menyapanya.
Ue meraih smarthponenya, mengabaikan lagu lain yang kini terputar dan menjerit-jerit. Sebuah notif whatshapp berwarna putih menghiasa atas layar smartphonenya. Ue menggesernya ke bawah tanpa nafsu. Biasanya notif itu hanya berisi chat grup beberapa organisasi yang diikutinya yang biasanya hanya dibuka atau sesekali di baca oleh Ue.
Pesan itu ternyata dari nomor yang tak dikenal. Bukan tidak dikenal sebenarnya, Ue saja yang jarang mau memberi nama pada kontak-kontak whatshappnya. Pesan itu berbunyi "Ue mau pergi ke Malang Tempoe Doeloe nggak?"
Penasaran Ue klik pesan itu dan munculah kolom percakapan lengkap dengan foto kecil di ujung kiri atas. Laki-laki. Sepertinya Ue kenal. Dia buka foto profil orang itu.
"Hah, nggak mungkin!" pekiknya.
"Apanya yang nggak mungkin Ue?" tanya Kevin yang tiba-tiba muncul.
Ue menoleh, menyembunyikan smartphone di balik tangannya.
"Bukan apa apa Kak."
"Kamu kelihatan kaget banget??"
"Masa iya? Perasaan kakak aja paling."
"Biasanya sih gue nggak pernah salah."
"Eh Kak, Bude ada di rumah nggak?" tanya Ue mengalihkan topik.
"Nggak ada, mama pergi ke rumah Tante Tuti di Arjosari."
"Emmm, kalo gitu Ue minta ijin sama kakak aja ya."
"Minta ijin apa?"
"Ue mau ke MTD kak."
"MTD?" Kevin tampak menimbang-nimbang.
"Gimana Kak?"
"Boleh sih, Alrey katanya juga mau ke sana."
"Fix, berarti boleh ya?"
"Iya, sekalian temenin Alrey ya? Apa dia gue suruh jemput lu ya?"
"Nggak, nggak usah Kak, Ue berangkat sendiri saja," kata Ue. Badannya sudah berdiri dan berlari menuju kamar. Dia harus mandi sebelum bau bau asam yang bisa membuat besi berkarat dari tubuhnya tida bisa hilang.
Rabu, 29 November 2017
Kuburan Cinta di Tomohon
Udara
dingin perbukitan menerpa anak rambut yang usil menggelitiki dahi.
Berkibar-kibar senada dengan gerak awan ke arah timur, bercampur dengan
kawan-kawannya, bercengkerama membentuk mendung yang semakin lama semakin
menggelap. Jam 7 pagi waktu indonesia tengah. Suasana cukup terang untuk
memandang gunung Lokon di sebelah barat tempatku berdiri dari tepi jalan Tondano-Tomohon.
Di seberang jalan dari rumah kayu berwarna coklat renyah itu aku menghela nafas
begitu dalam. “Nyatanya cukup jauh aku berlari, cukup jauh aku menghindari
masalah yang menerpa pori-pori hatiku yang ingin aku sembuhkan dan rapatkan
kembali,”
Aku
duduk di trotoar jalan, tak peduli dengan tatapan orang yang penuh tanya,
“sedang apa dia duduk di sana?” mungkin begitu tanyanya. Aku tak peduli pada
mereka yang melihatku sambil berbisik-bisik, aku sudah lelah berdiri dan aku
butuh untuk duduk, tetapi aku tidak ingin kembali ke pemondokan, mengurung diri
dalam kamar berukuran 4x4 meter menghadirkan kenangan itu kembali ke atas memoriku.
Aku sudah terlalu jauh berlari.
Kembali
lagi ke trotoar. Awan masih belum tuntas arak-arakannya dan gunung Lokon juga
masih hijau, diam, dan menjulang tinggi menampilkan siluet seperti sebuah
gunungan lumut yang di tumbuhi jamur-jamur rumah di lereng gunungnya. “Ya,
seperti itulah perasaanku, hijau, subur, besar, dan diam. Dan saking lamanya
perasaan itu dipendam dia jadi berlumut. Perasaan besar yang berlumut, apakah
kamu pernah sesekali menengok perasaan berlumut ini? Nyatanya aku gunung Lokon[1] yang tetap diam menyimpan
kisahnya sendiri sambil mengamatimu yang lalu lalang pergi ke kampus, membeli
bahan makanan, dan sholat jum’at seminggu sekali.”
Angkot
warna biru muda hilir mudik di hadapanku. Kamu tahu? seperti angkot di kota
kita yang diberi nama line, di sini
kamu akan mengenalnya dengan nama otto. Angkotnya
sama berwarna biru, bentuknya juga sama, hanya tempat duduknya yang berbeda.
Jika di kota kita kamu akan duduk di kursi-kursi yang di letakkan memanjang di
tepi jendela, di sini kamu akan menemui angkot dengan susunan tempat duduk sama
seperti susunan tempat duduk pada mobil. Di bagian depan ada kursi sopir dan
kursi penumpang, di belakangnya ada tiga deret tempat duduk dengan kapasitas 8
orang. Sama bukan dengan di kota kita?
Otto akan
mengantarkanmu ke tempat yang kamu mau, jauh dekat ongkosnya sama saja. Namun, otto yang ada di depan pemondokanku
hanya dapat mengantarmu ke kota Tondano dan Tomohon yang sekarang aku tinggali.
Naik saja, tapi jangan sesekali bilang “kiri” pada supirnya ketika kamu ingin
turun dari otto. Dia tak akan
mengerti, di kota ini jika kamu ingin berhenti kamu bisa mengatakan “stop” saja
atau “muka”. Tapi apa pentingnya itu sekarang, kiri, muka, ataupun stop tak
berlaku lagi bagiku. Semuanya terus berjalan, semuanya tak bisa berhenti, dan
kata apapun yang aku sugestikan untuk bisa melupakanmu nyatanya hanya
omong kosong dan tak memiliki arti.
Seperti om supir angkot yang tak paham maksud “kiri”, hatiku sendiri juga tak
paham kode untuk berhenti.
“Hei,”
sapa seseorang mengalihkan lamunanku. Tanpa mempedulikan wajah kusutku dia
duduk di sampingku, memandangi arak-arakan awan di belakang pemondokan Prof. Heydemans.
“Kusut
sekali?” tanyanya singkat padaku, “ada masalahkah?” tanyanya dengan logat
Manado yang cukup kental. Aku tak menjawab hanya menghela nafas saja. Tak ingin
membagi cerita pada orang yang baru aku kenal.
“Saya
akan dengar cerita dari ngana[2],
ya setidaknya jika saya tak bisa kasih solusi untuk ngana, beban ngana jadi
lebih ringan setelah cerita”
Aku
masih diam.
“Coba
saya tebak, ngana putus cintakah?”
“Boro-boro
putus cinta Ga, pernah jadian saja nggak,” kataku akhirnya.
“Tapi
wajah ngana kusut sekali, seperti
orang lagi patah hati saja,” tanya Erga.
“Entahlah,
apa aku berhak untuk patah hati, sedang perasaan ini hanya aku simpan sendiri,
dia tak salah to jika tak tahu?”
“Ya
kenapa ngana tak katakan saja?”
“Aku
nggak mau merusak pertemanan kami Ga, lagian apa gunanya mengatakan itu
sekarang, satu bulan lagi dia akan menikah dengan panaseanya”
“Siapa
itu panasea?”
“Ya,
anggap saja gadis pujannya,”
“Its complicated Ris,” kata Erga. “Emmmm,
saya ada tempat bagus untuk ngana “
katanya setelah cukup lama. Tangannya lalu gesit menarik lengan tanganku.
Langkahnya tiba-tiba menarikku mendatangi bendi[3]
mengatakan tujuan yang tak aku mengerti dan mengajakku untuk naik di atas
keretanya.
“Kita
mau kemana Ga?” tanyaku bingung. “Sudahlah ngana
akan baik saja jika sama saya, saya jamin itu,” kata Erga. Bendi semakin
kencang, bunyinya yang tak, tik, tuk, tik, tak, tik, tuk mengingatkanku pada
lagu masa kecil “Pada Hari Minggu”. Masih ingatkah kamu?
“Hei
Ris, janganlah murung terus, ngana tak
maukah lihat indahnya ini kota? Ini Tomohon Ris, Sulawesi, bukan Jawa lagi. Tak
maukah ngana abadikan keindahan-keindahan
ini?” kata Erga membuatku bicara. “Om, lihat dia om, wajahnya muram saja bagai
mendung, jangan-jangan setelah ini Tomohon hujan gara-gara dia,” canda Erga
pada Om Kusir. Erga menatapku, merasa gagal karena tak dapat membuatku tertawa
atau bicara. Sayangnya Erga bukanlah orang yang mudah menyerah, gagal mendapat
perhatianku lewat candanya dia mengeluarkan smartphone
dari dalam sakunya. Membuka aplikasi instamoment
dan memaksaku untuk tersenyum di kamera.
“Ya,
disini Erga dan Riska, torang[4]
sedang jalan-jalan di kota Tomohon. Dan saya mau kasih tunjuk tempat
spesial buat teman saya ini biar mukanya tak masam dan mendung,”
“Sudahlah
Ga,” aku menepis smartphone yang
mengambil gambar dari kamera depannya.
“Sakitkah?”
tanya Erga, wajahnya kali ini berubah serius menilik senti persenti wajahku. Mataku
berembun, pertanyaan itu seakan membludakkan emosi menjadi tetes-tetes air mata
yang turun tiba-tiba dari kelopak mataku.
Kali
ini Erga tak dapat berkata apapun, hanya membiarkanku menarik nafas berulang
kali untuk menenangkan isak yang telah terlanjur hujan. Sebenarnya aku sangat
malu, di usiaku yang sudah lebih dari 20 tahun, masih saja aku menangis, di
depan orang asing pula.
Sampai
di perempatan Jalan Lembong Erga mengajakku turun, tangannya yang kuat
menggenggam lenganku yang gontai. Aku bersyukur karena dia menuntun langkahku
dan aku hanya perlu menunduk, menyembunyikan mata merahku yang lama-kelamaan
terasa semakin berat.
“Aku
hanya ingin membuatmu tersenyum dan ingin mengajakmu untuk melihat sesuatu yang
unik di kota ini yang bisa membuatmu bergidik, tapi tujuan ini mungkin lebih
cocok untuk kondisimu saat ini Ris,” kata Erga. Dia menghampiri satu otto, tawar menawar harga, mengajakku
naik dan otto bergerak tergesa gesa,
melewati perkampungan-perkampungan dengan rumah-rumah kayu yang mirip dengan
rumah Prof. Heydemans. Jalan berkelok-kelok melewati hutan-hutan bambu dan
membawa kami sampai di sebuah gerbang besi yang terbuka. Erga mengajakku turun
dari otto.
“Selamat
datang di waruga,” katanya.
“Tempat
apa ini?” tanyaku.
“Pemakaman,”
jawab Erga santai. Dia menunjuk bangunan peti dari batu di pinggiran gerbang
yang sudah dikelilingi banyak pohon pucuk merah rendah.
“Kenapa?”
tanya Erga. “Ngana kagetkah?”
Aku
menatapnya pias. Erga benar-benar gila. Aku tahu dia tourguide di kota ini. banyak tempat-tempat yang bisa
ditunjukkannya padaku, tetapi mengapa mesti pemakaman. Tak adakah tempat yang
lebih baik untuk orang melepas kesedihan. Aku sedang sedih dan galau lalu pemakaman,
aku rasa bukan tempat yang cocok untuk menghibur.
“Ngana bilang, ngana tak ingin merusak
pertemanan yang sudah ngana bangun. Ngana bilang dia sebentar lagi akan
menikah. Jadi saya pikir ngana ingin melupakan
dia.”
Tujuanku
ke kota ini memang untuk melupakan dia, lalu apa hubungannya dengan waruga.
“Ngana tahukan ini pemakaman, ngana tahu untuk apa tempat ini?”
“Anak
kecil pasti tahu Ga, pemakaman pasti tempat untuk mengubur,”
“Ya,
ngana pandai sekali. Saya ajak ngana kesini supaya ngana bisa kubur
kenangan ngana di sini.”
Aku
menatapnya, sedikit tersenyum menghargai usahanya mengajakku ke waruga hingga harus menyewa otto berharga ratusan ribu. “Ngana sudah tersenyumkah?”
Aku
menjawabnya masih dengan tersenyum, “saya memang tak tahu bagaimana rasanya
perasaan ngana, tapi jika perempuan
sudah menangis berarti ada rasa sakit yang sudah tak dapat di tahannya lagi.
Saya tak mengerti detail masalah ngana, tapi
saya harap di tempat ini ngana bisa
lepas itu masalah semua,” katanya.
Aku
tersenyum, tersanjung dengan kata-katanya sambil menangis karena perasaan itu
tumpah, kenangan itu tumpah.
***
“Bisa
ketemu?” tanyamu siang itu lewat blacberry
messenger.
“Yap,
tentu saja,” jawabku kegirangan.
“Aku
tunggu di alun-alun kota jam 7 malam ya,” katamu saat itu.
“Oke,
aku pasti datang,” jawabku dengan wajah semakin sumringah.
Jam
tujuh tepat aku duduk di undakan alun-alun, menunggumu dengan senyum yang masih
sumringah.
“Kamu
sudah lama?” tanyamu tiba-tiba sambil duduk di sampingku. Aku menoleh dan
mencium bau parfummu. Kemeja kotak warna biru langsung menyambut pemandangan
yang melekat di tubuhmu. Yah, seperti malam-malam yang lalu, kamu sama
menawannya. Kamu indah, bahkan lebih indah dari bulan purnama sekalipun.
“Belum,
baru lima menit mungkin,” jawabku sambil menatap jam tangan, mengalihkan detak
jantung yang melebihi batas kontrolnya. Bau parfummu malam itu begitu menyengat
hidungku membuat jatuhku lebih dalam dari pertemuan-pertemuan kita yang lalu.
“Hmmm,
sudah sering ya kita ketemu malam-malam begini, curi-curi waktu jika aku
pikir-pikir.”
“Ya
mau gimana lagi, aktivitas kita di organisasi dan instansi sering kali tidak
bersahabat,” kataku.
“Tapi
aku senang bisa curi-curi waktu seperti ini,” katamu. Mata sipitmu lantas menatapku
sedikit jail membuatku salah tingkah. “Kamu sendiri gimana?”
Aku
diam, mengalihkan pandangan pada langit yang buram. Tanpa aku mengatakanpun
seharusnya kamu sudah tahu bagaimana perasaanku. Satu tahun aku mengagumimu,
baru 4 bulan yang lalu aku berani mengontakmu dengan susah payah, menghadapi
sikap cuekmu, menanti balasan BBM mu yang membuatku hampir putus asa setiap
menitnya. Jika hari ini aku bisa duduk di undakan alun-alun bersamamu, kamu
pasti tahu bagaimana rasanya aku tanpa harus aku ceritakan padamu.
“Kamu
tahu, aku sangat bahagia hari ini.”
Aku
menatapmu, kebahagiaan itu menari-nari di wajahmu. Aku melihatnya dengan jelas
di matamu yang dipantulkan lampu bulat alun-alun kota Malang.
“Aku
punya kabar baik, dua bulan lagi aku akan menikah dengan panasea-ku.”
Langit
semakin buram, lampu-lampu taman meredup, ada kesadaran yang menghilang dengan
cepat di otakku.
“Ris?”
kamu menggoyang tubuhku.
“Menikah?”
tanyaku.
“Iya,”
“Tapi.....”
“Tapi
apa Ris?”
“Aku
pikir....”
“Kamu
pikir apa? Kamu tahu Ris, dia gadis idamanku, kalem, lembut, sederhana, cerdas,
alim, dan sosialisasinya baik, sopan santunnya duhhhhh, sudah nggak ada
tandingannya lagi,” katamu.
“Oh
ya,” seketika aku menekan perasaanku. Menyembunyikan badai yang kini
memporak-porandakkan bangunan hatiku.
“Ya,
aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengannya.”
“Jadi
kamu akan menikah dua bulan lagi?”
“Ya,
kami akan menikah, kami ingin hubungan kami segera dihalalkan oleh negara dan
agama.”
“Aku
ikut senang, semoga kalian bisa jadi keluarga yang bahagia.”
***
Erga
menarikku lebih jauh ke dalam waruga .
“Lihat ini Ris,” katanya.
Dia
menunjuk sebuah bangunan mirip collosium di
Roma. Sebuah bangunan dengan lapangan yang dikelilingi undakan-undakan mirip
stadion.
“Di
sini dulu adalah tempat orang-orang melakukan upacara kematian Ris,” kata Erga.
“Terus?”
“Ayo
kita ketengah sana, mari kita adakan upacara kematian untuk kenanganmu. Ayo
kubur kenangan yang membuatmu menangis di waruga.
Makamkan di peti-peti batu di atas sana, simpan di sini Ris, kubur jauh dari
tempatmu akan melanjutkan hidup,” kata Erga.
Sesaat
aku tidak sadar jika Erga sudah memabawaku ke tengah-tengah collosium versi Sulewi Utara ini.
“Lakukan
ritualmu Ris,” teriak Erga.
Awalnya
aku tak paham apa maksud perkataan Erga. Aku malah sibuk berputar-putar melihat
tempat pemujaan di atas collosium lalu
melihat versi gunung Lokon dari waruga. Awan mulai berarak menutup gunung
Lokon, kumpulannya menjadi mendung yang hitam dan luruh jadi hujan. Hujannya
mengalir dari tebing-tebih tinggi, terjun bebas dan semakin deras. Aku duduk,
rasa sakit itu menusuk seperti ratusan panah yang di tembakkan bersamaan.
Kenangan bermunculan, perpustakaan, kedai kopi, alun-alun, semuanya tumpah ruah
seperti film yang dipercepat putarannnya. Kenangan itu berputar semakin cepat,
cepat, dan cepat, “AAAAAAAAAAAAAAAA” aku berteriak kehilangan akal. Lambat laun
putaran film itu melambat dan bayangan-bayangan kabur menghujam memoriku. Lelah
aku duduk di lantai lapangan.
“Mau
minum?” tanya Erga menyodorkan sebotol air mineral. Aku meraihnya menenggaknya
buru-buru. “Kamu tahu Ris, waruga telah
menerima upacaramu. Pembakaran telah berlangsung dan peti mati waruga sudah terbuka untuknya, hari ini
kenanganmu, perasaanmu kepadanya telah dimakamkan di waruga,” kata Erga.
Mataku
terasa berat, badanku lemas, Erga memapahku menaiki tangga lagi. Aku
menatapnya, berterimakasih tanpa kata.
Langganan:
Postingan (Atom)