Pages

Rabu, 26 Juli 2017

Pasal "Mental"

suatu hari di ba'da senja, untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sangat sepele. Perkara dimusuhi seseorang yang dulunya dekat. Perihal nama, atau bagaimana kronologinya aku tidak akan menceritakannya panjang lebar, biarlah itu jadi rahasia saya sendiri. Yang ingin aku ceritakan adalah tentang mereka, kedua orangtua saya. Ya, orangtua saya, meski bukan lulusan perguruan tinggi atau lulusan sekolah ternama dan hanya bekerja seadanya mereka bisa menghentak hati saya pasal "Mental".
Ya, meski saya telah berusia 21 tahun dan telah menghabiskan 6 semester di perguruan tinggi, nyatanya "mental" saya tidak cukup kuat untuk mengatasi problema kecil itu. Rasanya malu ketika orangtua saya yang bahkan tidak mengantongi ijazah SMA malah mempunyai mental yang jauh lebih kuat daripada saya. Saya malu karena mereka telah berhasil mengatasi berbagai masalah dalam kehidupannya, sedangkan saya acapkali menangis karena hal-hal sepele seperti ini. "Mental" saya belum mampu untuk mengatasi rasa takut tentang banyak hal. Saya sangat malu ketika berbicara, tapi entah mengapa tiba-tiba saja terpikir untuk cerita, karena saya merasa saya harus menemukan pemecahan dari "mental" ini.
Ya, orangtuaku bukanlah ahli konseling, bukan juga psikolog, jadi jangan harap akan mendapatkan penguatan yang manis. Kata-kata mereka jelas sekali menghentak. Berulang kali mereka bilang itu bukan memarahi tapi menasehati. Entahlah mungkin tiap orang punya cara tersendiri untuk menasehati anaknya.
Sekarang saya lega, walaupun sekarang aku tidak tahu apa yang dibicarakan orangtua saya usai menerima keluh kesah anaknya via sambungan telepon. Tapi mau bagaimana lagi, kita hanya bisa percaya pada orangtua untuk memberikan solusi meski itu akan membebani pikiran mereka.
Hanya saya berharap ketika saya ingin bercerita lagi saya tidak meneteskan air mata dan terlalu "baper" kata ibu saya, Bercerita biasa untuk saling menemukan solusi, sharing yang dewasa.
Memang benar kata ilmu perkembangan umur tidak menentukan kualitas kedewasaan seseorang. Dan entah saya akan dewasa pada usia berapa. Saya harap dengan adanya masalah kecil ini bisa jadi cermin bagi saya, masalah pasti memiliki jalan keluar tanpa air mata.
Saya pikir untuk mimpi-mimpi saya pun mungkin akan menemui banyak kendala, dan dengan kejadian hari ini saya harap akan selalu jadi pengingat saya tentang "semangat" yang diucapkan bapak berulang kali bukan hanya semangat biasa, tapi semangat yagn harus bisa mengembangkan mental saya.
Akhirnya, saya tidak tahu mengapa saya masih menulis ini di blog ini. Sedang saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat saya malu pada akhirnya. Atau siapalah yang akan membacanya, biar saja, maya menyimpan ingatan yang mungkin saya lupa, karena saya memang pelupa.
Akhirnya selamat malam, saya malu, tapi saya lega. Terima kasih.

Kamis, 13 Juli 2017

puisi buat kamu




Hai ini puisi buat kamu yang suka berpuisi
Hei, aku suka dengan puisimu
Aku suka kata yang kau petik dari banyak syair dan kau ramu jadi satu
Hei, aku suka caramu ungkapkan perasaan lewat syair-syair syahdu
Puisimu sedetik bikin jantungku berhenti berdetak
Kau tahu, puisi itu sangat indah
Ketika kamu bicara tentang langit, tentang laut, tentang pantai, dan jutaan galaksi yang tersebar
Kalau sudah kubaca puisi rasanya tak ada hal lain yang penting lagi di hidupku
Rasanya aku sudah sangat terpenuhi dengan puisimu
Semua tulisan indahmu mengalihkan apapun dalam hidupku untuk fokus ke kamu
Hei, kamu yang suka buat puisi
Rasanya puisi ini lebih seperti hujatan pada akhirnya
Atau sejak awal ini bukan puisi
Karena setelah aku baca berulang tak ada rima di dalamnya
Tak ada metafor yang mampu meluluhlantakkan perasaan
Pun paduan kata dalam baris-baris ini sangat berantakan
Sejak muncul kamu baris-baris kataku tak lagi menyatu
Kata-katanya berlompatan seperti katak di musim hujan
Mengejar kolam pemandian
Bersorak sendirian tak pedulian dan ah, mungkin agak kampungan
Wah, jangan-jangan kau jadi ilfil setelah baca puisi tak beraturan
Sayang aku tak tahu harus berkata lewat apa selain puisi
Aku hanya bisa bicara lewat puisi tak beraturan alias berantakan
Yah, untuk puisi ini memang terlalu panjang
Kalau begitu anggap saja ini sumpah serapah
Aku mau bilang padamu, puisimu sangat indah, terlampau bagus kombinasi kata yang kau campur-campur itu
Kadang malah bikin perasaanku meledak
Sayang, tapi puisi tak bisa bikin kenyang, kalau itu hanya tulisan hitam di atas putih atau malah di ketikan maya
Sayang, hidup tak hanya makan puisi, walau aku tahu ada beberapa orang yang bisa beli nasi gegara puisi
Sayang, tapi tidak sembarang orang, tidak semua orang
Sayang, kau sudah menawan tanpa kau tulis berlembar-lembar puisi di kertas putihmu
Sayang, cobalah kau bergerak, melangkah, pada hal-hal yang berbau uang
Ah sayang, apa aku terlihat materialistis sekarang
Ah, pasti kau jadi ilfil beneran
Tapi benar sayang, kita tak bisa memakan berlembar-lembar puisi di kertas putihmu
Aku lebih suka meloakkannya agar bisa jadi kepingan receh yang bisa dibelanjakan
Yah sayang, ini hanya gerutuan wanita saja
Yang butuh kejelasan masa depan dan kesejahteraan
Ku harap kau tak perlu marah dan menumpahkan tinta di bajumu
Aku hanya wanita saja, yang melihat kerasnya orangtua untuk membiayai hidup anaknya
Aku hanya wanita saja, yang tidak ingin jadi pengemis di mata orang tuanya karena yang ada di rumahnya hanya berlembar kertas puisi saja
Sayang, aku mencintaimu
Apakah kamu mencintaiku juga?
Ah tentu saja kau mengatakannya lewat berbait puisimu
Tapi sayang aku butuh cara lainmu ungkapkan sayang lewat kerja kerasmu sediakan nasi dan lauk pauk
Ah sudahlah mungkin aku benar-benar membuatmu ilfil sekarang
Dan puisiku tak sebagus puisimu yang bisa meluluhkan hati
Puisiku lebih mirip angin ribut yang dijejali beribu belati
Menusukmu tepat di pusat hati
Sayang, aku mencintaimu, pun mencintai puisimu, hanya saja sayang bisakah kau lakukan hal lain selain menulis puisi dan menulis puisi
Yah sayang, mari bekerja lalu bertukar puisi di malam-malam gelap penuh awan, mari bikin puisi bangunkan bulan yang akhir-akhir ini tak lagi terang
Selamat sore sayang, maaf  bikin hatimu patah dan marah
I LOVE YOU
Pacitan, 1 Juli 2017

Sabtu, 13 Mei 2017

catatan akhir semester enam

setiap pertemuan akan melahirkan perpisahan. Setiap akhir akan melahirkan akhir. Setiap ada akan melahirkan ketiadaan. Sebuah cerita mulai dapat ditulis, sebuah kenangan mulai dapat diputar. Aku, kamu, dia, mereka, dan kita adalah tokoh-tokoh pasti dalam cerita ini.
Aku, enam semester ini ada banyak kisah yang membuatku menjadi berbeda. Sebuah waktu yang panjang untuk berulang kali tersenyum saat hati menangis. Sebuah waktu yang panjang yang tidak aku sangka akan menumbuhkan ketidakpercayaan. Jika aku boleh bercerita di sini, maka dengarkanlah. Sejak kecil aku bukanlah orang yang berbakat, aku tidak terampil dalam hal apapun, aku tidak pernah bisa mengerjakan sesuatu dengan sempurna, karena aku bukanlah orang yang sempurna. Aku adalah tubuh kecil yang sangat lemah dan sering sakit. Aku merasa aku adalah beban, maka kupenuhi hatiku dan pikiranku dengan mimpi. Bila aku besar nanti aku akan menjadi seseorang yang penting dan dapat diandalkan oleh semua orang. Tapi, aku lemah, aku selalu tertinggal oleh orang lain, aku merasa kalah dan semakin merasa tidak berguna. Aku, aku masih punya nyala api itu di hatiku. Kesukaanku bermimpi mempertemukan aku dengan orang-orang yang mengasah mimpi itu jadi terang benderang. Aku pasti bisa mewujudkan mimpi itu. Ya waktu itu, bocah-bocah memang masih hidup dalam dunia mimpi. Lalu aku remaja, aku tak kuasa untuk menanggung betapa orangtuaku menderita dengan mimpi-mimpiku meski mereka selalu berkata baik-baik saja. Aku memangkas mimpi-mimpi itu. Aku masuk ke dalam dunia baru, dunia yang aku harap bisa menunjukkan pada orangtuaku jika mereka tidak akan menanggung beban mimpiku. Mimpi itu lenyap dan hidupku separuh kosong. Tapi di sana pun, aku masih bertemu dengan cahaya-cahaya yang menerangi sisa mimpiku. Aku bertemu orang-orang yang selalu membicarakan masa depan, masa depan yang lebih tinggi. Sebuah mimpi yang kadang mustahil untuk diwujudkan orang lulusan administrasi. Nyala cahaya benar-benar membakar mimpiku dan dia berkobar. Aku ingin melangkah lebih jauh lagi. Aku mendapatkan mimpiku, dan sekali lagi mimpi itu menjadi egois. Keegoisan yang akhirnya membuat orangtuaku sekali lagi mengalah dan aku ada di sini. Sebuah kota yang katanya kota pelajar, dimana ratusan perguruan tinggi menawarkan beribu-ribu keahlian. Untuk pertama kali, aku takjub dengan kota ini. Di sini aku yang naif berharap terlalu banyak tentang pengalaman manis untuk mencapai mimpi-mimpi. Aku yang naif, selalu berpikir bahwa semua orang adalah baik, sampai ada kamu. Aku pikir kamu adalah orang yang setia, aku pikir kita bisa jadi sahabat, orang yang saling mengerti kesedihan dan kebahagiaan satu sama lain. Nyatanya kamu malah merusak pandanganku tentang sebuah persahabatan. Nyatanya kamu malah mengajari aku bahwa orang yang terlalu dekat dapat melukaimu bahkan membunuhmu.
Kamu, kamu adalah sesuatu yang aku coba mengerti. Orang yang ingin selalu aku hibur dengan semua leluconku. Orang yang aku maklumi dengan kesibukanmu. Aku pikir kamu akan jadi teman sejati untukku di tanah jauh dan asing ini. Aku selalu memberimu waktu untuk dirimu. Aku pikir, kamu akan datang jika urusanmu sudah selesai. Nyatanya, kamu malah memilih bersama dia.
Dia, dia adalah bagian dari aku dan kamu di masa yang lalu. Aku mempertemukan kalian berdua di suatu awal. Kalian berkenalan. Aku merasa kalian cocok. Kalian punya mimpi untuk meluruskan diri. Kalian selalu berbicara tentang pernikahan-pernikahan dan pernikahan. Pada titik ini, aku hanya mencoba mengerti. Walaupun pada saat itu, pikiranku belumlah tertuju pada hal-hal semacam itu. Aku masih sibuk mengurusi mimpiku dan bagaimana mewujudkannya. Aku membiarkan kamu berbicara dengan dia dengan maksud agar kamu nyaman dan bahagia. Sayangnya itu jadi jarak di suatu waktu. Entah mengapa, dia yang aku percaya untuk tetap jadi teman baik tiba-tiba membenciku. Katanya aku pelit informasi. Katanya aku suka berbohong. Dia tidak mengatakannya. Hanya mendiamkanku saja. Kamu pasti pernah mendapat cerita ini, hanya mungkin aku tidak menceritakannya lengkap. Aku tidak ingin, aku, kamu, dan dia tercerai berai. Kamu bersama dia seakan sudah melupakan keberadaanku. Aku masih berpikir bahwa kamu lebih cocok dengannya ketimbang dengan visioner yang gila dengan mimpi-mimpinya. Aku masih berpikir seperti itu untuk menenangkan hatiku. Tapi lama-lama itu jadi sakit. Dia membawamu jauh, tidak hanya badan, tapi persepsi. Jika hari ini aku melihat ke dalam matamu, aku tidak lagi melihat sorot matamu seperti awal pertama kita bertemu. Hari ini aku melihat tatapanmu hanya sebagai pandangan basa-basi. Apakah kamu juga jadi membenciku seperti dia? Kamu pernah berkata aku tidak memahami dia. Tapi kamu pun tidak pernah memahami aku, bagaimana takutnya aku untuk dekat dengan dia lagi. Apakah kamu pernah melihatku berusaha untuk menyapanya? Apa pernah melihat? Mungkin tidak. Dan jika kamu melihat bagaimana perasaanmu, jika di sebuah perkumpulan kamu diabaikan. Kamu tidak pernah berbenturan dengannya, maka kamu tidak pernah bisa merasakannya. Dia membuatku sering menangis dan merasa tidak nyaman. Dia membuatku selalu ingin berlalu dari tempat-tempat keberadaannya, karena aku tidak tahan melihat sorot kebencian di matanya. Kamu tidak akan mengerti, karena kamu tidak pernah dibencinya. Aku baru sadar kebencian itu telah mempengaruhi sisi mentalku. Ketika dia ada di sekelilingku, aku merasa semua orang yang ada juga membeciku. Dan aku menjadi sangat takut bahwa di setiap tempat akan ada orang seperti dia. Aku berpikir semua tempat akan sama saja.
Mereka, untung aku masih punya mereka yang mau mendengar ceritaku, mendengar bagaimana ketakutanku, menampung air mataku ketika sudah tidak bisa menahannya. Hanya saja aku tidak bisa terus-terusan terlihat lemah. Memiliki mereka yang masih menerimaku dan tak kehilangan sorot tulusnya membuatku sedikit punya harapan, meski kebencian dia telah menenggelamkan mimpi-mimpiku. Sebuah kebahagiaan, ketika mereka masih mau tertawa bersamaku, sebuah anugrah di tanah gersang yang menyakitkan. Meski aku juga takut jika mereka akan sama sepertimu dan meninggalkan aku. Aku berharap Tuhan tidak akan mengambil ketulusan mereka padaku. Aku berharap mereka akan jadi kenangan yang tinggal di hati sebagai kenangan bahagia.
Kita, aku, dia, mereka. Semester ini adalah akhir dimana kita bisa menghabiskan waktu di kampus seharian dan bercanda. Mulai semester depan kita akan sibuk dengan diri masing-masing dan sesekali bertemu. Waktu juga semakin habis, dan aku tidak punya banyak waktu untuk mengembalikan mimpi-mimpi itu. Maka, dijeda waktu yang tipis ini aku ingin menyusunnya kembali. Aku ingin kembali seperti dulu, sebelum bertemu kamu ataupun dia. Sebuah waktu dimana bintang-bintang harapan berpijar. Pun aku juga harus merenkonstruksi pikiranku bahwa tidak di semua tempat ada orang yang membenciku. Dan di akhir semester enamku ini, aku harap tidak ada lagi orang-orang yang membeciku dan bermaksud jahat kepadaku.
Ya, akhirnya aku hanya bisa mengucapkan sampai jumpa buat kamu yang semakin jauh. Biar kita hidup dalam jalan masing-masing yang sudah dipilih. Dan mengucapkan selamat tinggal pada waktu yang terlalu berlalu yang membolak-balikkan perasaanku.
Selamat tinggal semester enam, selamat menempa jiwa-jiwa lain yang akan datang. Buah dia tangguh dan bercahaya sepanas matahari. Terima kasih atas semua pelajaran hidup yang sudah kamu torehkan di kanvas hidupku. Selamat tinggal. 

Jumat, 21 April 2017

Saya pikir pelukanmu cuma pelukan basa-basi semata. Bukan pelukan tulus seperti ketika pertama kali. Pun aku juga tak memeluk balas dengan tulus. Aku sudah kehilangan arti dari pelukanmu. Bagiku kamu sudah hilang sebagai sesuatu yang spesial dari diriku sejak kamu mulai membohongiku. Kau sering berkilah bahwa itu demi kebaikanku. Tapi tidak ada kebohongan yang baik, kebohongan akan tetap memberikan lukanya di waktu yang tepat. Dan aku sudah terluka oleh kebohonganmu.
Bagaimana kalau kita sudahi saja drama kita ini. Menganggap bahwa kita tak pernah punya hubungan dekat. Menganggap bahwa kita cuma teman biasa yang tidak punya cerita apa-apa. Aku hampir berhasil beberapa saat yang lalu sebelum kamu tiba-tiba memelukku dan mengembalikan semua memori bahwa aku mengenalmu.
Ya, kita tidak dekat. Karena kalau kita dekat kamu tak mungkin meninggalkanku. Karena kalau kita dekat kamu akan berbagi cerita denganku. Kalau kita dekat kamu pasti akan mengajakku untuk tersenyum. Nyatanya kamu memilih orang lain untuk menemanimu, dan bukan aku.
Ya, tapi aku tak bisa menghentikan rentetan kejadian bukan. Jikapun aku punya kemampuan mengembalikan waktu aku ingin aku tidak pernah mengenalmu. Sama sekali tidak ingin mengingat apapun tentangmu. Selamat malam

Sabtu, 01 April 2017

Berusaha tetap baik-baik saja ketika hati terluka itu tidak mudah. Berusaha tetap tersenyum ketika menangis itu menyakitkan. Berusaha tegar saat rapuh itu melelahkan. Rasanya sesak, seperti udara di tenggorokan tersumbat berjuta-juta kapas. Ingin menumpahkan kepingan-kepingan air dari mata tapi berasa malu saking seringnya. Tapi ini sakit dan aku mesti tersenyum di depanmu lagi. Pertanyaannya apa aku sebegitu mengecewakannya sehingga luka selalu kau gores ketika kita bertatap muka. Apa kau pikir aku manusia tanpa rasa? Aku hanya  manusia biasa yang punya batas akhir pertahanan diri dan pada titik ini aku mulai lelah berkata baik-baik saja. Aku masih berusaha untuk tersenyum dan bilang baik-baik saja. Aku harap Tuhan memberikan akhir yang bahagia dari luka yang kau buat hari demi hari menganga. Aku yakin di langit sana Tuhan punya rencana meski kau berulang kali menjegalnya dengan doamu yang jauh lebih nyata. Tapi yang aku tahu Tuhan tak pernah tidur bahkan sedetikpun. Tuhan masih ada menyokong pundakku yang mulai lelah menangani sikapmu. Pada ujung cerita ini aku hanya ingin meminta untuk diberikan akhir yang baik, akhir yang bisa membuat aku dan orang-orang baik tersenyum, akhir yang akan membuat lembaran lebih bersih dan putih tanpa goresan pisau yang terselip di ketiakmu. Ya, silahkan tidur dulu, pun aku juga lelah sekarang dan ingin rebah untuk sesaat, bermimpi tentang sebuah hari yang ceria, penuh tawa, dan tak ada orang-orang pembawa pisau pembunuh, penikmat darah kesakitan yang perlu aku kaburi. Selamat malam, semoga aku bisa mimpi indah, dan ketika bangun hidupku akan tetap indah tanpa pisau di balik tanganmu.

Kamis, 30 Maret 2017

Janji Usia Terbalik

Senja redup seperti lampu 5 watt yang sebentar lagi padam. Meninggalkan gelap yang menyembunyikan bayangan. Senja sekali lagi membungkus harapan. Membungkusnya seperti kado ulang tahun. Sangat rapi dan yang menanti hanya dapat berkhayal cemas. Adakah kamu akan datang dan jadi kado ulang tahun itu? Usiaku sudah 21 tahun, dulu kau berjanji akan menemuiku tepat di jam kelahiranku. Aku sebegitunya percaya padamu, pada janji bocah berusia 12 tahun yang satu minggu baru di sunat. Aku masih lugu saat itu, masih percaya dengan janji-janji yang kau ucapkan yang entah mengapa ketika umurku terbalik dari umurmu saat itu aku masih saja percaya.
"Aku pergi dulu," katamu persis seperti senja saat ini.
"Kemana?" tanyaku sedih. Bukankah wajar jika sedih jika akan ditinggalkan orang yang disayang.
"Entahlah, ibu tak mau memberitahuku."
"Mengapa seperti itu?"
"Kata ibu dia tak ingin kau nekat mencariku."
Aku memandangmu sesaat, sebal karena kamu begitu percaya dirinya.
"Memang benarkan?" tanyamu kemudian.
"Tidak juga," kataku sedikit ketus.
"Ah, jujur saja, kamu menyanyangiku kan?  kamu tidak bisa hidup tanpa aku bukan?"
"Tidak," jawabku masih tak mau mengalah.
"Aku tahu kamu tak mau mengakuinya sekarang, tapi suatu saat kamu pasti akan mengaku dengan sendirinya," katamu lebih percaya diri.
"Itu tidak akan terjadi,"
"Aku pergi."
Hari itu aku mengartikan pergi sebagai sebuah perpindahan tempat namun masih tetap dalam satu bumi. Meski hari itu kamu tak pernah menyebutkan tempat tujuan pergimu dalam batinku aku sudah menyiapkan niat untuk mencarimu. Akupun juga tak menanyakan apakah kamu akan pulang, karena kamu bilang "di ulang tahunmu yang terbalik dari umurku sekarang aku akan datang menjumpaimu." Nyatanya aku cuma perempuan lemah. Aku tak berani mencarimu, aku tak berani meninggalkan rumah yang begitu hangat dan nekat mencarimu.  Pun bagaimana aku bisa mencarimu, tak ada GPS yang mengatakan lokasimu. Yang tinggal aku hanya menunggu janji kepulanganmu. Apa itu menyakitkan? Tentu saja, setiap detik rasanya jantungku diperas, hatiku diperas, perasaanku diperas saking rindunya padamu. Hatiku jadi kering dan yang tertinggal di sana hanya namamu, yang abadi hanya namamu, tiap nama yang mencoba masuk akan layu dan mengering dengan sendirinya.
Ibumu pulang satu hari sebelum hari ulangtahunku. Tetapi dia sendiri, padahal aku sangat berharap kamu akan tersenyum dan muncul dari belakang punggungnya seperti waktu dulu.  Hari itu aku tak berani bertanya, ibumu berwajah kuyu hari itu, seperti habis tenggelam dalam danau yang sangat dalam, katanya, "aku tak berhasil membawanya pulang,"
Senja benar-benar tumbang, pekat hitam menguasai kisi-kisi cahaya, memikatnya, memeluknya dalam hening. Sebuah kecupan yang hangat mendarat pelan di keningku. Dingin membuat hatiku bergetar lirih. Sebuah pelukan membalutkan dalam pejam, "apakah kau datang?" tanyaku.
"Iya."
"Mengapa terlambat, ini dua jam sangat terlambat?"
"Biar rindumu makin pekat, biar kamu sadar jika kamu benar sayang."
"Aku begitu bodoh tak mengakuinya dulu."
"Memang apa yang perlu diakui, kita cuma bocah berusia 12 tahun. Tahu apa kita soal sayang."
"Tapi sekarang aku tahu dan aku tidak malu mengakuinya."
"Ya, aku tahu itu. Kamu bahkan rela menunggu janjiku meski datang terlambat."
"Aku mencintaimu,"
"Aku sangat-sangat mencintaimu," bisikmu sangat pelan dan syahdu. "Kumohon berjanjilah untuk selalu bahagia selamanya."
"Asal kau mendekapku aku akan selalu bahagia."
"Tanpaku."
"Itu tidak mungkin"
"Harus mungkin." katamu keras.
"Aku tidak bisa,"
"Harus bisa,"
"Tidakkkkkkk!!!!!!!!!!!" aku menjerit dan lelehan air mata terasa panas di pipimu. Aku benci kamu tak mengerti.
"Dia tidak bisa kembali bintang. Dia telah pergi ke surga. Dia lebih disayang oleh Tuhan. Tapi yang mesti kamu tahu, dia sangat mencintai kamu, sejak kecil dulu," kata Ibumu. Dia memberikan aku sebuah album yang berisi sketsa wajahku.
"Lalu bagaimana dengan namamu yang terlanjur tak terhapus dari hatiku? Kumohon kembalilah."

Selasa, 21 Maret 2017

Aku atau kamu (aku)

Di suatu senja berwarna orange kita bercakap pada masing-masing.  Kamu yang mikir terlalu emosional dan aku yang begitu realistis, cuek,  dan sedikit menyebalkan.
"kalo boleh aku ingin punya seseorang yang selalu bikin puisi saat senja,  romantis," katanya tersipu malu.
"romantis? Menurutku itu buang buang waktu saja, "
"kamu kikngitu sih, " emosionalmu mulai nampak.
"memang iya kan,  orang itu mesti menghabiskan menit menit berharganya untuk bisa bikin puisi.  Puisi itu bukan cuma kata kata kosong yang disusun jadi satu,  tapi sebuah paduan perasaan yang ingin dirangkai dengan kata kata singkat.  Puisi bukan hanya soal pilihan kata tapi makna,"
"kamu yang terlalu perfeksionis,  buatku kata kata biasa tak masalah,  jika cinta makna puisi juga akan nampak juga,"
"memang apa yang kau harapkan dari penenun puisi,  pun dia tak akan jadi berlembar lembar kain yang bisa dijahit lalu dijual, "
"kamu sendiri mengapa selalu menilai dari materi,  hidup tanpa seni tanpa puisi materi dimana ada arti? "
"kalau punya materi seni dan puisi pasti bisa dibeli, "
"mengapa kamu keras sekali,  puisi dan seni bisa dibeli.  Tapi rasanya untukmu,  kesepesialannya untukmu memang bisa dibeli?  Dia bikin karya seninkarya puisi untukmu cuma tlus karena hadiah materimu, pokoknya aku tetap akan cari penennun puisi itu yang tulus bikin berlembar lembar puisi untukku, kalo bisa sampai jadi baju yang menutupi tubuhku." katamu ngotot.  Aku menatapmu.  Lantas diam.  Langit orange berubah jadi kelabu.  Suara gemuruh adzan mulai didengar.  Sebentar kita jadi kabur masing masing,  tak tahu yang lebih dominan.  Aku atau kamu (aku)