Pages

Kamis, 30 Maret 2017

Janji Usia Terbalik

Senja redup seperti lampu 5 watt yang sebentar lagi padam. Meninggalkan gelap yang menyembunyikan bayangan. Senja sekali lagi membungkus harapan. Membungkusnya seperti kado ulang tahun. Sangat rapi dan yang menanti hanya dapat berkhayal cemas. Adakah kamu akan datang dan jadi kado ulang tahun itu? Usiaku sudah 21 tahun, dulu kau berjanji akan menemuiku tepat di jam kelahiranku. Aku sebegitunya percaya padamu, pada janji bocah berusia 12 tahun yang satu minggu baru di sunat. Aku masih lugu saat itu, masih percaya dengan janji-janji yang kau ucapkan yang entah mengapa ketika umurku terbalik dari umurmu saat itu aku masih saja percaya.
"Aku pergi dulu," katamu persis seperti senja saat ini.
"Kemana?" tanyaku sedih. Bukankah wajar jika sedih jika akan ditinggalkan orang yang disayang.
"Entahlah, ibu tak mau memberitahuku."
"Mengapa seperti itu?"
"Kata ibu dia tak ingin kau nekat mencariku."
Aku memandangmu sesaat, sebal karena kamu begitu percaya dirinya.
"Memang benarkan?" tanyamu kemudian.
"Tidak juga," kataku sedikit ketus.
"Ah, jujur saja, kamu menyanyangiku kan?  kamu tidak bisa hidup tanpa aku bukan?"
"Tidak," jawabku masih tak mau mengalah.
"Aku tahu kamu tak mau mengakuinya sekarang, tapi suatu saat kamu pasti akan mengaku dengan sendirinya," katamu lebih percaya diri.
"Itu tidak akan terjadi,"
"Aku pergi."
Hari itu aku mengartikan pergi sebagai sebuah perpindahan tempat namun masih tetap dalam satu bumi. Meski hari itu kamu tak pernah menyebutkan tempat tujuan pergimu dalam batinku aku sudah menyiapkan niat untuk mencarimu. Akupun juga tak menanyakan apakah kamu akan pulang, karena kamu bilang "di ulang tahunmu yang terbalik dari umurku sekarang aku akan datang menjumpaimu." Nyatanya aku cuma perempuan lemah. Aku tak berani mencarimu, aku tak berani meninggalkan rumah yang begitu hangat dan nekat mencarimu.  Pun bagaimana aku bisa mencarimu, tak ada GPS yang mengatakan lokasimu. Yang tinggal aku hanya menunggu janji kepulanganmu. Apa itu menyakitkan? Tentu saja, setiap detik rasanya jantungku diperas, hatiku diperas, perasaanku diperas saking rindunya padamu. Hatiku jadi kering dan yang tertinggal di sana hanya namamu, yang abadi hanya namamu, tiap nama yang mencoba masuk akan layu dan mengering dengan sendirinya.
Ibumu pulang satu hari sebelum hari ulangtahunku. Tetapi dia sendiri, padahal aku sangat berharap kamu akan tersenyum dan muncul dari belakang punggungnya seperti waktu dulu.  Hari itu aku tak berani bertanya, ibumu berwajah kuyu hari itu, seperti habis tenggelam dalam danau yang sangat dalam, katanya, "aku tak berhasil membawanya pulang,"
Senja benar-benar tumbang, pekat hitam menguasai kisi-kisi cahaya, memikatnya, memeluknya dalam hening. Sebuah kecupan yang hangat mendarat pelan di keningku. Dingin membuat hatiku bergetar lirih. Sebuah pelukan membalutkan dalam pejam, "apakah kau datang?" tanyaku.
"Iya."
"Mengapa terlambat, ini dua jam sangat terlambat?"
"Biar rindumu makin pekat, biar kamu sadar jika kamu benar sayang."
"Aku begitu bodoh tak mengakuinya dulu."
"Memang apa yang perlu diakui, kita cuma bocah berusia 12 tahun. Tahu apa kita soal sayang."
"Tapi sekarang aku tahu dan aku tidak malu mengakuinya."
"Ya, aku tahu itu. Kamu bahkan rela menunggu janjiku meski datang terlambat."
"Aku mencintaimu,"
"Aku sangat-sangat mencintaimu," bisikmu sangat pelan dan syahdu. "Kumohon berjanjilah untuk selalu bahagia selamanya."
"Asal kau mendekapku aku akan selalu bahagia."
"Tanpaku."
"Itu tidak mungkin"
"Harus mungkin." katamu keras.
"Aku tidak bisa,"
"Harus bisa,"
"Tidakkkkkkk!!!!!!!!!!!" aku menjerit dan lelehan air mata terasa panas di pipimu. Aku benci kamu tak mengerti.
"Dia tidak bisa kembali bintang. Dia telah pergi ke surga. Dia lebih disayang oleh Tuhan. Tapi yang mesti kamu tahu, dia sangat mencintai kamu, sejak kecil dulu," kata Ibumu. Dia memberikan aku sebuah album yang berisi sketsa wajahku.
"Lalu bagaimana dengan namamu yang terlanjur tak terhapus dari hatiku? Kumohon kembalilah."

Selasa, 21 Maret 2017

Aku atau kamu (aku)

Di suatu senja berwarna orange kita bercakap pada masing-masing.  Kamu yang mikir terlalu emosional dan aku yang begitu realistis, cuek,  dan sedikit menyebalkan.
"kalo boleh aku ingin punya seseorang yang selalu bikin puisi saat senja,  romantis," katanya tersipu malu.
"romantis? Menurutku itu buang buang waktu saja, "
"kamu kikngitu sih, " emosionalmu mulai nampak.
"memang iya kan,  orang itu mesti menghabiskan menit menit berharganya untuk bisa bikin puisi.  Puisi itu bukan cuma kata kata kosong yang disusun jadi satu,  tapi sebuah paduan perasaan yang ingin dirangkai dengan kata kata singkat.  Puisi bukan hanya soal pilihan kata tapi makna,"
"kamu yang terlalu perfeksionis,  buatku kata kata biasa tak masalah,  jika cinta makna puisi juga akan nampak juga,"
"memang apa yang kau harapkan dari penenun puisi,  pun dia tak akan jadi berlembar lembar kain yang bisa dijahit lalu dijual, "
"kamu sendiri mengapa selalu menilai dari materi,  hidup tanpa seni tanpa puisi materi dimana ada arti? "
"kalau punya materi seni dan puisi pasti bisa dibeli, "
"mengapa kamu keras sekali,  puisi dan seni bisa dibeli.  Tapi rasanya untukmu,  kesepesialannya untukmu memang bisa dibeli?  Dia bikin karya seninkarya puisi untukmu cuma tlus karena hadiah materimu, pokoknya aku tetap akan cari penennun puisi itu yang tulus bikin berlembar lembar puisi untukku, kalo bisa sampai jadi baju yang menutupi tubuhku." katamu ngotot.  Aku menatapmu.  Lantas diam.  Langit orange berubah jadi kelabu.  Suara gemuruh adzan mulai didengar.  Sebentar kita jadi kabur masing masing,  tak tahu yang lebih dominan.  Aku atau kamu (aku)

Minggu, 26 Februari 2017

Hey, Kamu harus Tanggung Jawab

Hey, kamu harus tanggung jawab. Kopimu semalam bikin mataku tak bisa terpejam. Hey, kamu harus tanggung jawab, sebab kopimu bikin dadaku jadi berdetak sangat kencang. Hey, kamu harus tanggung jawab, degup jantung ini membuat otakku jadi bias. Banyak hal kecil yang tiba-tiba jadi berantakan karena kopimu menari-nari di ujung mataku. Hey, kamu harus tanggung jawab, asap-asap rokok itu merembesi hatiku. Hey, kamu harus tanggung jawab, tanganku jadi dingin karena asapmu. Hey, kamu harus tanggung jawab, kopimu bikin aku kenyang lupa makan. Hey, kamu harus tanggung jawab, pikiranku jadi kacau sekarang. Ada pikiran-pikiran aneh gara-gara kafeinmu. Hey, kamu harus tanggung jawab, jelaskan dengan jelas biar aku tak jadi seorang imajiner yang berpikir tak tahu arah. Hey, kamu harus tanggung jawab pada sihir yang tiba-tiba kau lemparkan lewat hangat gelas kopimu. Hey, kamu harus tanggung jawab dengan semua ini. Aku butuh penjelasan sekarang juga.

Jumat, 24 Februari 2017

Mas Ganteng


Dear Mas Ganteng,

Waktu telah berganti, hari, tanggal, bulan, bahkan tahun telah berubah. Kisah juga sudah berubah. Kamu bukan lagi ketua BEM yang bisa aku temui dengan mudah. Tahun ini kamu akan skripsi bukan? Dan aku tidak tahu dimana kamu akan sembunyi dariku kali ini. Di perpustakaan? Di kelas-kelas kosong? Atau di kosmu yang hangat? Aku tidak tahu dimana aku bisa menemukanmu mas Ganteng.

Apa ini akhirnya mas? Akhir dari mengagumi dan menyukaimu diam-diam. Apakah tahun ini akan berakhir begitu saja? Apakah aku akan move on pada akhirnya? Apakah dengan aku tidak melihatmu lagi perasaan itu akan memudar?

Mungkin iya mas, tapi sekarang, aku sedang tersiksa dengan kenangan tentangmu. Aku tidak bisa melupakan mata sipitmu, kulit putihmu, aku tak bisa lupa tatapan cuekmu, aku tak bisa melupakan kemeja kotak-kotak yang selalu kau kenakan. Dan hujan membuat kenangan itu turun semakin deras. Seperti hujan yang tak bersahabat untuk berhenti dan membiarkanku melangkah, seperti itulah kenanganmu, tumpah dan menghalangi jalanku.

Ya mas Ganteng, sudah kucoba beratus cara agar aku sadar jika aku tak pantas bahkan hanya untuk mengharapkanmu. Tapi aku bisa apa mas, perasaan ini terlanjur menggila padamu, pada cowok Bandung yang tiba-tiba muncul di hidupku. Aku tak boleh mengeluh jika kamu akhirnya menemukan panasea yang meluruhkan lelah di tubuhmu. Aku tak bisa boleh marah, tapi tetap saja itu sakit mas.

Panasea itu seakan menguatkan keharusanku untuk move on darimu. Mungkin sebelum bulan pertama di tahun baru ini berakhir aku harus benar-benar menghilangkan kamu dari hatiku. Walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya aku menghilangkan sesuatu yang sudah berkerak cukup lama. Sebenarnya kadang aku ingin bertanya, apa gunanya Tuhan mengirimkan perasaan ini jika akhirnya harus di akhiri dan dilupakan dan dikantongi dalam sebuah CD kenangan? Apa yang aku dapatkan? Aku mencoba mengingatnya dan dalam potongannya aku mengingatnya ada beberapa. Tapi apa gunanya jika pada akhirnya aku akan melupakan semuanya dan membuka kertas yang baru?

Aku selalu bilang aku akan berhenti di sini saja setiap suka dengan seseorang, tapi....kenyataannya aku selalu lari lagi, selalu berpindah lagi, ya seperti inilah akhir cerita ini mas, nyatanya aku tidak berhenti di hatimu saja dan luruh dalam dekapanmu. Nyantanya pintu hatimu sudah tertutup dimiliki oleh panaseamu. Ya, sejak awal memang aku tidak pantas berharap kamu akan aku miliki bukan?

Mas Ganteng, aku masih sering bermimpi tentang kamu, mungkin karena rasa kangen yang semakin menjadi. Ya mas ganteng, aku masih merindukanmu. Apakah rindu punya batas waktu mas? Apakah rindu ini pada akhirnya akan kadaluarsa karena aku tidak akan bertemu kamu dan sembuh dengan sendirinya. Aku tidak mengira cerita ini akan berakhir dengan tragis seperti kisah-kisah lainnya. Tapi aku harap kenanganmu tak akan hancur dan tetap bisa aku simpan supaya aku bisa memutarnya suatu hari dan aku ceritakan pada orang-orang seusiaku hari ini biar jadi pelajaran, bahwa cinta tak harus dikatakan, tak harus diungkapkan, cukup dirasakan, cukup dinikmati hanya dengan melihatmu setiap satu minggu sekali, merasakan debar hati sendirian dan membawanya pulang untuk dijadikan amunisi semangat untuk satu minggu ke depan. Ya, cukup cinta sesederhana itu, tak perlu harus mendapatkanmu, tak perlu harus bisa menggenggam tangamu, tak harus duduk berdua bersamamu menghabiskan malam, cukup hanya melihatmu 5 menit saja, cukup itu saja.

Setidaknya aku harus berterimakasih padamu bukan? Karena telah mengijinkan aku untuk bisa melihatmu selama satu tahun setengah ini, dan sudah menjadi penyemangatku tanpa kamu sadari. Aku tidak tahu apakah aku akan menemukan orang sepertimu lagi. Mungkin aku akan menggunakan sisa semangatmu yang masih tersimpan karena suatu hari nanti aku ingin menjabat tanganmu dan benar-benar berucap terima kasih karena sepenggal semangat darimu.

Ya mas, kisah memang harus punya endingnya, dan ini endingnya. Aku harap skripsimu lancar, lulus tepat waktu, dan langsung dapat pekerjaaan di tempat yang kamu ingini. Semoga hidupmu penuh dengan kebahagiaan. Terima kasih sekali lagi.



Dari

Pengagumu yang menggila

Tulisan ini seharusnya sudah dipublis bulan januari yang lalu. Tapi entah kenapa bulan februari ini lebih cocok, karena cerita memang sudah berada pada titik klimaksnya. Sampai jumpa, kenangan akan tetap menjadi kenangan, dan akan saya coba untuk tersenyum ketika membuka lembaran kenagan itu lagi. Selamat tinggal, semoga bahagia.

Selasa, 14 Februari 2017

SEBUAH CERITA TENTANG MASA LALU: MAS MIZONE

Kata orang hari ini hari kasih sayang, terserah kamu mau ikut apa nggak pada statement ini. Di hari yang katanya spesial ini aku hanya ingin cerita tentang seseorang yang bisa kamu simpulkan sebagai sebuah cerita romansa, ya biar cocok dengan tema hari ini saja.
Apa kamu mencoba menebak siapa orangnya? Bukan, bukan, dia bukan orang yang bikin perasaanku jadi kacau akhir-akhir ini, dia adalah sosok masa lalu yang tiba-tiba siang tadi muncul di beranda instagramku.
Kamu bisa memanggilnya Mas Mizone. Ya panggil saja seperti itu, tak usah perlu tahu siapa nama aslinya, kupikir kamu juga toh tak akan mengenalnya di antara jutaan nama. Tetapi aku yakin kamu pasti akan ingat dengan nama panggilannya sejak hari ini.
Sebab aku memberi julukan itu sebenarnya cukup sederhana. Mas Mizone, dia adalah sosok yang aku pikir tidak pernah mengeluh untuk apapun, selalu bisa tersenyum dan memberikan stimulus senyum untuk orang-orang di sekelilingnya yang pada akhirnya membawa ingatanku pada sebuah minuman energi yang penuh dengan semangat.
"Mas Mizone, namanya mas Mizone," kataku ngotot pada temanku kala itu. Berasa nama itu akan cukup unik untuk menjadi koding kami untuk menyebut namanya yang tidak akan diketahui oleh orang lain.
Mas Mizone, jika aku memikirkannya sekarang, aku sangat ingin menertawakan diriku, bagaimana aku dulu begitu gila padanya. Begitu girangnya pas suatu waktu bisa berpapasan dengannya di lorong kampus, di parkiran, di kantin, ataupun di lapangan. Senyumnya yang selalu tercurah itu bisa menguapkan lelahku karena kelambatanku untuk beradaptasi dengan dunia perkampusan.
Ya, mungkin jika aku boleh berhiperbola tentang kehadirannya, Mas Mizone adalah salah satu penggerak semangat di dunia kampus yang kadang sangat individualis dan asing. Melihatnya aku seperti masih punya harapan bahwa ada kebaikan di dunia ini ketika kita bisa bersabar. Tanpa aku sadari aku mengambilnya untuk aku kagumi untuk aku ikuti walau dia bukan nabi.
Mas Mizone, pertama aku tahu dia pada acara camp di jurusanku. Tahun itu tepatnya di bulan september 2014 Mas Mizone jadi salah satu panitia yang ditugaskan untuk menghandel acara selama 3 hari tersebut. Mas Mizone memang bukan panitia di sie acara yang selalu berinteraksi dengan mahasiswa baru. Aku tak pernah tahu apa tugas utamanya di acara sambut mahasiswa baru tahun itu. Yang aku tahu siang itu dia bersama beberapa orang panitia lainnya di daulat menjadi pendamping outbound yang akan memandu kami untuk menjajal satu persatu kegiatan outbound. Tidak, tidak, jika kamu pikir dia yang jadi pendampingku kamu salah, Mas Mizone tidak menjadi pendamping timku waktu itu. Aku bahkan lupa siapa pendamping outbondku, tapi aku tidak lupa dengan orang yang punya gigi kelinci dan berkulit coklat hampir hitam itu. Dia menjadi pendamping tim lain yang jaraknya jauh dariku, namun sejak namanya di panggil, sejak dia maju di depan timnya, tiba-tiba ada kegirangan, kebahagian yang menyembul jadi puisi kebahagiaan.
Pertemuan-pertemuan selanjutnya mungkin tak perlu aku jelaskan, akan terlalu banyak dan terlalu membosankan, tiap tempat di sudut kampusku seperti yang aku katakan di awal pernah jadi saksi bisuku ketika aku kegirangan bisa bertemu dengannya.
Mas Mizone ku, mungkin adalah salah satu dari alasan mengapa akhirnya aku dapat tersenyum meski lelah dan hancur, ketika melihatnya tersenyum bersama teman-temannya aku merasa juga ikut tersenyum. Keramahannya pada orang yang ditemuinya membuatku merasa bahwa aku juga akan dapat menyamai dirinya. Banyaknya teman-teman yang mengelilinginya menjadikan dia sebagai magnet. Aku bahagia, cukup bahagia hanya untuk menatapnya.
Mas Mizoneku juga yang mengilhami aku untuk ikut dalam organisasi-organisasi yang ada di kampus. Seperti Mas Mizone yang masuk pada kepengurusan himpunan mahasiswa jurusan aku juga berusaha untuk mendaftar di sana dan dapat membaui aroma perjuagannya ketika telah purna. Nyatanya aku gagal untuk menembus tempat Mas Mizone berkarya, aku malah masuk salah satu unit kegiatan menulis di tingkat fakultas. Tetapi setidaknya aku mewujudkan keinginanku untuk masuk dalam dunia keorganisasian bukan?
Mas Mizone, walaupun sudah berlalu, sudah lama aku lupakan nyatanya adalah salah satu inspirasiku, dia jadi fase dalam hidupku yang membawaku utnuk naik di tahap selanjutnya. Mas Mizoneku, dia adalah orang yang aku takut dia akan hilang, aku takut harus menghadapi hidupku tanpa bisa melihat senyumnya lagi karena studi mengharuskannya pergi mandiri. Walaupun nyatanya hari ini dia hilang, dulu aku benar-benar takut jika dia hilang. Aku sempat berpikir bagaimana aku melalui hidup jika akhirnya Mas Mizone pergi dari hidupku, walaupun hari ini aku tetap hidup tanpa dirinya.
Perpisahan itu pasti dan kenangan yang akan tetap tinggal. Aku sempat merasa kelu ketika tahu aku tak punya cukup waktu, dan Mas Mizone benar pergi, aku sendiri, menatap kampusku yang tak seramah dulu lagi. Tawa-tawa mas Mizone, sapanya pada setiap detil kampus, karya-karyanya, semangatnya jadi seperti hantu yang bergentayangan, menelisik diriku yang bawa tas keberatan, menaiki tangga penuh kesabaran.
Mas Mizoneku resmi hilangnya di September yang cerah ketika toga berhasil membungkus tubuhnya dan membebaskan dirinya dari hiruk pikuk tugas kuliah. Mas Mizoneku pergi dan aku harus membiarkannya pergi.
Sampai suatu detik siang lalu Mas Mizone seperti telah benar-benar telah kabur dari pikiranku. Aku tak pernah mengingatnya lagi, aku tak pernah stalking akun medsosnya seperti dulu lagi. Hanya saja siang itu fotonya muncul di beranda instagramku, kenangan itu pun jadi muncul di benakku.
Ya mas, nyatanya dulu aku hanya mahasiswa baru yang butuh banyak motivasi, butuh inspirasi. Senangnya aku pernah bertemu denganmu, sehingga aku punya puzzle untuk menyusun hidupku yang lain. Hey mas, aku tiba-tiba rindu tawamu yang biasanya menghias soreku. Aku harap senyummu masih tetap tersimpan, dan aku yakin tawa itu akan tetap tersimpan. Hey mas, selalu bahagia ya, bersama siapa saja, terima kasih pernah mengijinkan aku tertawa karenamu. Terima kasih sudah jadian bagian hidupku yang mengantarkan aku pada sebuah perubahan, sebuah langkah kaki yang detik ini tak tahu akan melangkah sejauh apalagi. Terima kasih telah menguatkan aku dilangkah pertama, menjadi pijakan awal yang membikin hidupku jadi lebih berwarna.
Mas Mizone, sekali lagi kamu semoga kamu selalu bahagia.

Senin, 13 Februari 2017

Apa ada istilah patah hati untuk orang yang tidak punya pasangan? Nyatanya ada dan orang itu adalah aku. Jangan tanya aku mengapa aku merasa seperti itu. Jika kamu membaca tulisanku kamu akan tahu tentang dia, siapa yang aku maksud. Ya, aku sangat sering menuliskan ceritanya di tempat ini untuk melepaskan bebanku, melepaskan semua harapanku yang tiba-tiba harus hancur lebur.
Aku berharap jika aku menuliskannya aku akan menghapusnya dari hatiku. Namun dia seakan-akan adalah sesuatu yang bisa kembali dengan mudah entah karena hatiku yang memang tanpa penghuni atau karena dia memang punya daya magic untuk menjebakku kembali untuk memikirkannya, untuk berharap padanya, untuk berkhayal suatu hari bisa ada di sampingnya untuk menemani hidupnya.
Nyatanya aku cuma dibumbui harapan dan ketika harapan itu sampai di puncaknya aku akan terjatuh, seperti menyusun piramida dari kertas ketika terkena tiupan kecil dan aku langsung hancur.
Nyatanya aku bangkit lagi, seperti menemukan harapan lagi, mengaguminya lagi, bahagia lagi, terbang tinggi lagi untuk menerima kenyataan harus terjatuh lagi.
Kamu tahu aku juga bosan dengan semua drama yang terjadi pada hidupku, sering aku berucap aku akan dapat lepas dari semua pengaruhnya, semua imaji yang ditancapkan di hatiku. Tetapi entah karena aku memang tak punya niat kuat untuk melupakannya atau pengaruhnya yang terlalu kuat untuk hidupku aku masih saja dapat merasakan perasaan suka itu, selalu mengejarnya, selalu mengharap bahwa dia akan menatapku suatu saat nanti. Di tengah semua ini aku sudah teramat sangat lelah merasakannya dan aku hanya bisa bilang di sini.
Bisakah kamu mengerti? Aku hanya ingin hidup yang normal, perempuan yang merasa dicintai dan mencintai, bukan menjadi perempuan agresif yang mengejarnya. Aku hanya ingin hidup yang normal, perempuan yang diperjuangkan, atau paling tidak saling berjuang, bukan berjuang sendirian. Aku hanya ingin hidup yang normal, namun aku bertemu dengan dia dan hidupku jadi kehilangan kenormalannya. Aku tidak tahu apakah dia sudah mengetahui kondisiku, kegilaanku, obsesiku padanya yang ingin mendapatkannya. Yang aku tahu aku berulang kali gagal untuk membuatnya menatapku.
Hey, bisakah kau sampaikan padanya, minta dia sadarkan aku untuk tidak mengejarnya lagi, minta dia untuk menamparku sekalian biar aku membencinya sekalian. Kamu tahu ini sangat berat, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Aku tidak tahu apa karena ini puncak dari berakhirnya sebuah skenario, atau apa aku merasa sangat sakit di waktu ini. Aku hanya ingin hilang dan merasa tak pernah mengenalnya sehingga hidupku akan normal-normal saja tidak berantakan. Ini rumit, ini sulit, dan keadaan ini memperkeruh hatiku untuk dapat berpikir jernih. Aku tidak tahu apa yang mesti aku lalukan, tak tahu harus menentukan pilihan apa yang mesti kubuat. Aku sedang terpuruk dalam badai pikiranku sendiri yang tidak dapat aku kendalikan hanya tinggal menunggu badai itu jadi hujan yang jatuh di pipiku. Nyatanya aku memang bukan orang yang kuat kan? Aku juga akan luruh jadi kepingan air jika sudah tak sanggup menghadapi perasaan tanpa balasan ini. Dan perasaan ini makin gila, semakin banyak kata yang tertuang dalam tulisan ini aku merasa benar-benar hancur dan kesakitan. Sampaikan padanya untuk menghentikan aku sekarang juga.

Minggu, 12 Februari 2017

Kata orang aku pemilih. Kataku aku malah tidak pernah memilih.
Kata orang aku tidak membuka hati. Kataku aku sudah membukanya dari dulu
Kata orang aku tidak peka. Kataku mereka benar juga