Pages

Kamis, 18 Agustus 2016

Didi Kempot dan Campursari

"Didi Kempot" nama ini tidaklah asing bagi saya. Sejak saya masih belajar untuk mengeja kata, setiap hari ayah saya pasti mendengarkan lagu dari musisi campursari asal Solo ini. Suaranya yang khas dan ditambah dengan irama musik yang nyaman di kuping, Didi Kempot dan campursari sudah menjadi bagian dalam hidup saya.
Kebanyakan orang mungkin berpikir kalau saya kampungan karena selera saya. Tapi memangnya apa yang salah dengan itu? Memangnya musik kampungan dan modern dilihat dari segi apa? Dari segi bahasa yang sulit dilafal atau dari hentakan musik yang tidak karu-karuan? Memangnya apa yang salah dari musik campursari?
Dari musik ini saya dapat belajar kosakata bahasa jawa yang lebih mumpuni. Saya mulai belajar untuk merangkai kata kiasan dengan susunan sebuah puisi dalam versi bahasa Jawa, bahkan ketika saya belum mengenal apa itu syair dan puisi.
Bagi saya lirik lagu Didi Kempot adalah syair yang saya pelajari pertama kali. Melalui lagu karangannya saya yang masih duduk di SD belajar tetang sebuah dunia orang dewasa. Dunia orang dewasa yang ditinggal pergi dan dikhianati kekasihnya (Cidro), tentang perjuangan seorang lelaki menafkahi istrinya (Layang Kangen), tentang kehidupan poligami (Bojo Loro), dan sindirian untuk orang yang lupa akan asalnya (Kere Munggah Bale). Tentunya masih banyak lagu karangan Didi Kempot yang menyoroti tentang kehidupan, dan karya dari lagu-lagunya sampai saat ini tidak pernah mati.
Suara Didi Kempot akan tetap menemani malam-malam saya yang sangat merindukan rumah dan merindukann masa kecil saya yang dikelilingi syair-syairnya. Tapi saya cukup lega, karena walaupun orang sekarang lebih bangga memutar lagu-lagu barat, Didi Kempot tidak pernah putus asa untuk menyebarluaskan karyanya. Hari ini, aku tidak hanya mendengar lagu Stasiun Balapan ataupun Tanjung Mas Ninggal Janji, hari ini saya dapat menikmati karya Didi Kempot dari sudut banyak daerah seperti dari Malang (Ademe Kutho Malang) dan sebuah lagu tentang kota saya Pacitan (Pantai Klayar).
Bagi saya musik campursari terutama ciptaan Didi Kempot menjadi oase bagi kehidupan musik saya yang penuh dengan kata-kata picisan tentang cinta dan syair-syair yang tidak puitis lagi. Musik campursari Didi Kempot masih tetap memiliki ruhnya sebagai musik dengan syair-syair yang puitis dan tetap enak untuk di dengarkan. Dan karena itulah, musik campursari Didi Kempot tetap hidup, terutama dalam hati saya.



Sabtu, 13 Agustus 2016

CINTA BOSA BASI

Waktu itu pukul satu, langit masih terang dan matahari masih punya tempat di atas sana. Kamu yang pakai sweater warna hijau tiba-tiba muncul begitu saja. Menggunakan helm vespa warna coklat kamu langsung memarkir motor beat merah putih di hadapanku. "Deg" satu detik saja, jantungku berhenti berdetak dan nafasku tertahan di tenggorakan. Kamu melangkah saja dengan sikap biasa, di depanku, membelakangiku, menjauh dan akhirnya menghilang di balik dinding bangunan.

Adegan itu menjelma de javu di hadapanku. Seperti kaset kusut yang diputar berulang kali, dengan adegan yang sama, dan ending yang sama, hanya saja tempat dan suasananya berbeda. Sama halnya dengan kejadian siang ini yang bertempat di salah satu halaman kampus yang separuh sepi. Kamu tak pernah menyapaku akupun juga tak berani menyapamu dan tidak akan pernah cukup untuk memiliki keberanian itu. Sampai kamu menghilang di sudut-sudut gedung atau ditelan sekumpulan orang.

Tapi, berbeda dari hari-hari yang lalu, hari ini aku tidak hanya bisa melihat punggung terakhirmu. Hari ini setelah kau menaruh ransel kesayanganmu, kau duduk di deretan kursi berjarak lima meter dari tempatku. Kamu duduk di sana, ngobrol, dan nyanyi sama teman-temanmu. Sedangkan aku.... kamu pasti tahu sendiri. Aku sibuk menata hatiku yang mulai berlompatan seperti kelinci, tak bisa kutangkap dan kupasang pada kotak-kotaknya sendiri.
"Ah, apa seperti ini rasanya orang jatuh hati?"
Aku tetap saja mengulang pertanyaan itu dalam hatiku setiap melihatmu. Aku masih tidak mengerti mengapa aku menyukaimu. Apakah karena mata sipit di wajahmu? Atau kulit putih tanpa noda yang menyelimuti tubuhmu? Lalu bagaimana jika semua itu hilang darimu. Jika matamu tak lagi sipit, dan kulitmu tak seindah yang aku lihat hari ini.
Aku bertanya-tanya lagi, "apakah benar ini jatuh hati?"
Aku mengetahui sosokmu sejak satu tahun yang lalu dan sampai sekarang aku hanya sampai pada tahap mengetahui, tidak memahami, atau melakukan aksi, apalagi analisis, sintesis, atau bahkan evaluasi. Sejak satu tahun lalu aku hanya berada di tempat yang sama dan tanpa kemajuan. Benar-benar siklus jatuh hati tanpa ujung bukan?
Dan hari ini kamu ada di sampingku (walaupun jauh), aku masih saja melihatmu yang semakin jernih di mataku. Lalu aku kabur, karena takut dengan perasaanku yang membumihanguskan pikiranku. Berasa ada sistem yang eror di kepalaku, semacam koslet karena dua kutub yang seharusnya tak bertemu tiba-tiba saja bersinggungan satu dengan yang lainnya, mengelupas oleh getaran yang dihasilkan organ pompa darah.

Entahlah kejadian itu seperti di ulang terus-terusan. Seakan ada yang memutarnya beratus kali agar aku mengerti. Tapi mengerti untuk apa? Untuk cinta yang tak harus dimiliki dan hanya bisa disimpan di dalam hati? Ah, bagiku itu hanya basa-basi. "Dan apakah jatuh hatiku juga cuma basa-basi?" tayaku pada pintu gedung yang menutup, basa-basi untuk mengetahui, basa-basi untuk memahami dan akhirnya bosan sendiri.

Aku masih mencarimu sore itu, berharap aku bisa mengembalikan memori yang dihapus konsleting otakku, tapi kamu tidak ada, dan kamu tetap jadi bosa-basi tak berujungku. Sekali lagi aku menatap pintu itu dan bertanya kamu ada di mana.

Rabu, 10 Agustus 2016

SKENARIO

Malamnya sepi, hanya suara lirih laptop di kamar sebelah yang mengalirkan logat korea ke kamarku. Tidak seperti hari-hari yang lalu, televisi 14 inci yang tepat berada di depan kamarku kini terlelap, hanya lampu indikator warna merahnya yang menyala merah, marah karena tidak ada lagi yang mempedulikannya.
Ya, hidup memang selalu berubah sesuka hatinya. Rupa-rupanya dia ngikut saja pada dendangan  waktu yang mengalun pelan-pelan dari detik, menjadi menit, menjadi jam, menjadi hari, menjadi minggu, menjadi bulan, dan akhirnya menjadi tahun. Hidup seumpama anak kecil yang mengejar pelangi di angakasa berharap bisa bertemu ujung dan membelainya.
Hidup membuat pemainnya pada skenario skenario yang ditulis rapi entah sejak kapan. Menamparkan banyak pengalaman rasa sakit dan luka, lalu membiarkannya duduk terasing di tempat tersepi, biar tubuh  bisa merenung dan menata ulang lagi.
Aku berada pada ruang sepi itu, masih merasakan sayatan-sayatan perih yang sedang aku tutul dengan antibiotik harapan. Nyeri memang, tapi aku juga ingin menghibur diriku dengan masa lalu yang indah. Masa lalu saat orang-orang itu berada pada tempat yang aku pijaki saat ini.
Waktu itu aku masih sangat lugu. Aku bagai orang yang tinggal jauh dari kota dan tiba-tiba masuk dalam lingkungan serba luas dan bergerak sangat cepat. Lalu aku bertemu mereka, orang-orang yang banyak bicara dan cerita. Orang-orang yang tak lelah menjawab ketidaktahuanku, orang-orang yang aku kagumi. Mereka adalah orang-orang yang diam-diam aku pandangi dari jarak 20 meter dari tempatku berdiri, orang yang sering mengajakku diskusi, orang-orang yang menguatkan aku agar tetap tidak lelah bermimpi.
Namun, hidup yang kejam sering mengingatkan aku pada titik titik bahwa mereka akan menghilang pada waktunya. Dan mulai sejak saat itu sayatan itu muncul dalam hidupku. Awalnya hanya bekas merah namun lama-lama berdarah dan bernanah.
Semakin hari aku menyaksikan mereka semakin jauh dan hilang. Aku tidak bisa melihatnya sesering dulu atau bertukar pikiran seperti waktu-waktu yang lalu. Mereka sibuk dengan skenario hidupnya yang mulai berbeda denganku dan aku sendiri harus tetap melanjutkan skenarioku.
Lalu aku belajar untuk membiarkan mereka mulai jauh, aku mulai membiasakan mandi sakit hati setiap hari, setiap aku ingat bahwa skenario yang ditulis saat bersamaku akan habis besok atau lusa. Aku menyaksikan mereka dari jarak pandangku mulai menyelesaikan skenarionya, seminar, sidang, lalu yudisium.
Dan pada akhirnya televisi itu istirahat, tidak ada komentar komentar histeris saat melihat pasangan Boy dan Reva bersama, atau melihat serial Uttaran yang terlampau panjang. Pada pijakan ini, seharusnya aku yang menyalakan televisi itu, meneruskan tawa dan komentar histeris yang terulang setiap petang, mengusir penat dan lelah yang seharian menerjang.
Hari ini, aku pada tempat mereka tapi tak bisa berbuat seperti mereka. Dan aku masih tetap saja belum berdamai dengan masa lalu dan tetap berharap mereka tidak pergi. Aku tidak tahu bagaimana menyambut orang-orang baru yang akan mengisi separuh skenario yang tersisa. Apakah aku akan banyak bercerita seperti mereka? Apakah aku akan cukup untuk dihargai dengan tingkah selengekan dan penuh kejailan? Aku merasa belum pantas berdiri di tempat ini, belum pantas dituakan apalagi dijadikan panutan.
Hidup dan nyanyian waktulah yang akan memberikan jawaban. Jadi, untuk sementara biarkan saja aku di ruang sepiku, mengobati luka dengan mimpi dan harapan yang mulai kurajut lagi.

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh kakak kakak yang pada tahun ini telah menyesaikan skenario S1 nya dan siap melangkah ke panggung wisuda. Aku ikut bangga karena kakak berhasil menyelesaikan skenario kakak, sekaligus merasa kehilangan karena kakak telah memberikan saya pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih karena telah peduli dan terima kasih telah mengisi hidup saya meski sekarang harus cerai dan pergi.


Selasa, 09 Agustus 2016

Namanya Eko

Langit Malang yang tak juga gelap menampakkan awan yang  masih tak lelah berjalan- jalan dari sisi langit yang satu ke sisi yang lainnya. Seakan dengan begitu sejarahnya tidak akan habis di makan angin dan gaya tarik bumi.
Aku sendiri tidak begitu peduli dengan arakan awan yang tak kunjung lelah itu.  Hari ini aku hanya ingin bercerita tentang seseorang. Seseorang yang pertama aku mengenalnya adalah seorang ibu paruh baya mengenakan daster sederhana yang membuka pintu gerbang dengan celotehnya yang panjang dan suaranya yang sangat kencang.
Ibu dipertigaan yang membuka toko itu mengenalkannya padaku sebagai Bu Yoga.  Ya, Bu Yoga, wanita agak gemuk, berkulit putih dengan rambut hitamnya yang ikal. Aku masuk ke gerbang rumahnya berharap ada satu tempat tidur yang bisa menampungku untuk belajar di kota asing ini.
Aku mengekor padanya, memasuki emperannya yang teduh dan masuk ke ruang tamunya yang hangat. Aku merasa nyaman saat menduduki sofa sederhana berwarna abu-abu miliknya. Dalam hati aku membatin bahwa ini tempat paling pas untuk kutinggali.
Hingga mataku yang lugu menatap sebuah lukisan di dinding sebelah kiriku. Lukisan itu menelisik ulu hatiku dan menggoyahkan kenyamananku. Lukisan yang tergantung di atas dinding itu memberikan tatapan asing padaku, bahwa aku dan dia sebenarnya berbeda.
Aku mulai ragu dan takut. Sejak kecil aku hidup di tempat di mana orang-orangnya memiliki keyakkinan yang sama denganku. Waktu aku SD, waktu aku SMP, waktu aku SMA semua sama. Tapi hari ini aku mendapatkan sebuah pengalaman baru, perasaan takut dan ingin tahu menguasai rongga-rongga hatiku.
Lalu dengan polos aku bertanya padanya, “apakah aku bisa sholat di rumahnya? Apakah aku bisa ngaji? Apakah aku bisa puasa?”
Ibu itu memang tidak tersenyum ramah seperti ibu peri dalam dongeng dongeng yang sering kudengar. Tapi aku bisa melihat ketulusan kata-katanya, “saya memang nasrani mbak, tapi anak-anak yang kos di sini semuanya islam. Saya tidak membeda-bedakan seseorang karena keyakinannya, karena keyakinan adalah pilihan masing-masing orang. Dan saya senang, karena mbak mbak yang kos di sini semuanya rajin-rajin ibadahnya. Kita memang beda mbak, tapi bukan berarti harus memisahkan diri satu sama lainkan?” ceritanya panjang lebar.
Dan dengan keyakinan yang aku tambatkan pada kuasa Ilahi aku menyetujui tinggal di sini dan membayar sejumlah uang muka.
Awalnya aku masih sibuk bertanya, “benarkah ibu ini benar-benar serius dengan perkataannya?”. Aku pun mulai mencari jawaban, dan jawaban itu adalah iya. Ibu benar-benar tidak membeda-bedakan kami yang tidak sama keyakinannya dengan dia. Ibu tetap baik seperti orang lainnya, sering membagikan jajanan pasar yang tidak habis dia jual di sekolah. Sesekali ibu juga memberikan kami takjil untuk buka puasa saat berpuasa sunah. Ibu juga tidak melarang kami melantunkan ayat-ayat Allah selesai magrib dan selesai subuh. Ibu tetap pada keyakinannya dan kami tetap pada keyakinan kami.
Ya, dia Bu Yoga walau sebenarnya  nama aslinya bukan Bu Yoga, tapi Bu Eko. Dia selalu menggantikan tempat ibu yang kini jauh dariku, mengomeliku karena perkara sepele karena belum makan dan tidak mau mandi. Bu Yoga seakan menjelma jadi ibu baruku, yang akan menanyakan keberadaanku saat tidak ada di kos dan selalu menyuruhku belajar. Sesekali saat kami duduk berdua, dia akan menceritakan aku banyak kisah tentang silsilah keluarganya, kesuksesan adik-adiknya, dan menasehatiku agar belajar dengan baik agar bisa sukses di kemudian hari.
Sering Bu Yoga bercerita bahwa dia tidak seberuntung adik-adiknya. Namun, bagiku Bu Yoga adalah salah satu keberuntunganku selain diterimanya aku sekolah di tanah ini. Karena dia, aku dapat membanggakan diri bahwa tidak hanya bu kos mereka yang peduli tapi ibu kosku juga. Bahkan di tengah perbedaan kami.
Mungkin hal inilah yang membuatmu akan tetap merasa hangat memasuki rumah ini dan merasa disambut keramahan, karena suara nyaring bu Yoga akan menjadi penghangat alami di kos ini.
Oh iya, namanya Eko, Eko Sriwahyuni. Tapi orang lebih akrab memanggilnya Bu Yoga. Ah, setidaknya kamu tahu tentang diakan.

Rabu, 27 Juli 2016

TELAH DICURI



Kertas kusut itu terlempar begitu saja dari tangan Agis. Kertas tak bersalah itu melayang dan mendarat bersama tumpukan kertas lainnya di atas keranjang sampah. Kertas tak bersalah itu ternyata tidak sendirian, dia hanya salah satu dari formasi menggunung tulisan  Agis yang tidak srek di hatinya.
“Hei, Agis kenapa kamu membuang kertas-kertas ini?” tanya Gina. Gadis berperawakan agak gemuk, penggila jajanan pasar, dan pecinta lingkungan itu memungut dengan nelangsa kertas yang telah disia-siakan Agis.
“Kamu tahu Gis, untuk membuat kertas-kertas ini satu pohon harus dikorbankan, dan kamu tahu Gis?”
“Aku tahu Gin, kamu mau bilang satu pohon yang hilang juga menghilangkan satu kesempatan penghasil oksigen di bumi kita.”
“Kamu tahu itu Gis, tapi mengapa kamu masih saja membuang kertas-kertas ini?”
Agis menarik nafas panjang, tidak menjawab pertanyaan Gina. Agis memilih untuk menatap keluar jendela kamarnya, menatap langit biru yang sesekali dinodai awan putih.
“Gis, kamu ngelamun?”
Agis menatap Gina dengan malas. “Ada yang hilang Gin,” katanya kemudian.
“Hilang? Kamu kehilangan apa Gis? Apa itu penting?” tanya Gina khawatir.
“Sangat penting, sesuatu yang amat penting.”
“Ya ampun Agis, mengapa kamu bisa seceroboh itu?”
Agis diam.
“Kalau itu penting ayo kita cari Gis, sebelum semuanya terlambat,” usul Gina dengan semangat.
Agis bertopang dagu, menatap Gina yang mulai mengkhawatirkan kehilangan yang dialami Agis.
“Aku tidak tahu apa yang hilang Gin, tapi aku merasa ada yang hilang. Sesuatu yang penting, sesuatu yang berwarna, sesuatu yang manis, tapi aku tidak tahu dia apa atau dia siapa. Aku hanya merasa kehilangan sesuatu dan aku tidak bisa tenang, bahkan hanya untuk menulis.”
Gina memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
“Jadi aku minta maaf padamu karena membuatmu menjadi kehilangan pohon kesayanganmu dan membuangnya dengan percuma. Aku tahu bagaimana perasaanmu kehilangan mereka, tapi setidaknya kamu tahu apa yang telah dicuri darimu.”

Rabu, 20 Juli 2016

SEMUANYA TENTANG KAMU



Pada gelapnya mendung yang kini bergelantung malas turun, aku ceritakan tentang kamu. Iya tentang kamu, tentang siapa lagi aku akan cerita jika bukan tentang kamu? Pelangi kecil yang muncul tiba-tiba lalu terburu pergi. Kau takut aku mengusirmu kala itu, ya pada akhirnya aku memang akan mengusirmu yang tidak tahu diri. Tidak tahu diri karena muncul tiba-tiba dan membuatku jatuh cinta. Padahal kau tahu aku begitu mudah untuk jatuh cinta. Mengapa engkau datang dan membuatku benar-benar jatuh. Oh, apakah kamu suka melihatku tersungkur di hadapanmu karena begitu menyukaimu?

Rabu, 18 Mei 2016

PULANG, RUMAH, KENANGAN



Pagi menjemput matahari terlalu dini. Sinarnya yang menguar dari ufuk timur memberikan tetes cahaya pada pucuk-pucuk pohon yang gelap. Suasana merambat menjadi terang, udara dingin yang digantung malam pada panjang jalan itu menguap perlahan, digantikan dengan terang yang mulai merambat membangunkan setiap kehidupan. Ayam, burung, padi yang separo menguning dan pintu-pintu yang semalaman tertutup rapat sampai ke pagarnya mulai membuka mata.
Aku merapatkan tubuhku yang terbungkus jaket merah tebal. Lima belas menit yang lalu aku keluar dari mobil travel yang membawaku dari malang. Sisa-sisa udara AC di mobil itu masih terasa menggigiti pori-pori tubuhku membuatku gemeletukan. Sebuah ransel besar merek westpack terlihat menggunung di sisi kiriku. Tas ransel warna abu-abu menempel di pundakku dan aku terpaksa menaruh kresek salah satu pusat perbelanjaan di Malang di sebelah kananku. Aku lelah menentengnya lima belas menit terakhir, menunggu sesuatu yang akan benar-benar membawaku pulang, tidak hanya ke kotaku tetapi benar-benar ke rumahku.
Seorang ibu dan bapak yang semalaman berjualan gorengan dan kopi panas menawariku untuk duduk di bangku panjangnya. Namun aku menolak, aku lebih suka di tepi jalan ini, malas harus memindahkan ransel besar yang berat itu. Lagipula pagi datang, aku tahu kedua orang itu ingin membereskan dagangannya dan bergegas pulang untuk mengerjakan hal lainnya.
“Duduk sini Nduk,” katanya hangat sehangat kopi yang masih tersisa di tremosnya. Aku hanya tersenyum mengangguk dan tetap mematung memandang ke arah kanan, berharap bus besar dengan nama “Aneka Jaya” itu segera datang menghampiriku.
Lima menit, sepuluh menit, aku menggosok kedua telapak tanganku mengharapkan hangat yang dijanjikan oleh gesekan kedua telapak tangan itu. Namun tanganku yang kebas itu tak juga menghasilkan hangat, kesal aku meniupnya dengan nafasku hal itu lebih membantu karena uap mulutku terasa hangat di udara pagi yang mengembun.
Setengah enam pas bus warna putih merah itu berhenti setelah aku melambaikan tangan menghentikannya. Aku tersenyum untuk terakhir kalinya pada sepasang suami istri yang sekarang sedang mengangkat kursi panjang agar menyatu dengan gerobak bertuliskan “sego hek” itu.
Pagi itu dimulai dengan cicit burung-burung yang menyasak padi ketika pijakan terakhirku berhasil naik ke bus dan mencari tempat terdekat. Aku menaruh ransel besar di dekat kakiku menaruh kresek berisi magic com di dekatnya dan menaruh tas abu-abu di sebelahku. Pagi itu bus “Aneka Jaya” dipenuhi separuh penumpang yang masih kuyu menyambut hari. jaket-jaket tebal membungkus tubuh mereka yang merapatkan badan, masih merasa dingin.
Aku menempelkan wajah pada kaca bening yang buram melihat potongan-potongan bangunan yang berjalan cepat senada dengan laju bis memecah jalanan yang masih lengang. Dengus lelah dari hidungku membentuk embun yang menghalangi mata yang langsung kuusap, menampakkan pemandangan di luar yang  bernuansa hijau tua. Aku melihat STM Bina Karya tempat teman-temanku yang berjiwa bebas bersekolah. Aku mendapati kuburan nasrani dengan nisan-nisan pongahnya, lalu nisan-nisan muslim yang berjejalan, disusul sebuh MI yang berdiri teduh di akhir jalan itu, menyisakan sebuah petak tanah sebagai jalan ke stadion kebanggaaan kotaku, merayap melalui jembatan yang entah kapan telah terbangun, patung sapi coklat yang setia berdiri dan dinding-dinding tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar.
Aku melenguh sangat lelah, belajar banyak hal di luar kota menjadikan aku pengenang ulung untuk mengenang masa-masa kecilku selama 19 tahun belakangan. Sesekali menarik nafas lega karena telah sampai dan jauh dari kepenatan tugas dosen, organisasi-organisasi yang tak bisa kucengkeram kuat, dan teman-teman yang kuanggap tidak peduli. Aku senang setelah rutinitas membunuhku dari segala hal tentang kenangan, hari ini, di pagi yang menjemput siang aku dapat tersenyum-senyum sendiri mengingat kisahku yang terlukis di seluruh jalan ini, puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, aku tak bisa menghitung lagi berapa kali aku mondar-mandir di lintasan jalan ini.
Aku sengaja tidak menghubungi orang tuaku untuk pulang. Aku ingin kepulanganku ini menjadi perjalananku untuk mengingat lagi kenangan. Kenangan yang akhirnya bisa mengantarku ke bangku kuliah. Bangku yang aku harapkan sejak SMP, sejak aku membaca karya-karya besar Andrea Hirata, bangku yang akhirnya kusingkirkan karena aku tidak ingin membebani keluargaku, bangku yang akhirnya kutemukan dan kududuki pada akhirnya.
Aku menarik nafas berat dan aku merasakan mataku mengembun, aku mengingat tentang teman-temanku yang menganggapku ambisius dan gila prestasi. Aku yang selama satu semester dianggap pelit berbagi ilmu. Memangnya apa yang bisa dibagi, aku selalu mendengarkan ocehan dosen tentang keluarganya, lalu sore-sore pergi ke kampus utama untuk mengikuti kegiatan rutin organisasi, saat aku sampai di kos aku hanya bisa mengerjakan tugas yang dikumpulkan esok hari dan jatuh terjerembab di kasur busa tipisku. Apa yang bisa kubagi ketika aku tak banyak baca buku, tidak banyak teori yang kukuasai. Aku hanya tidak ingin tersesat dengan teori yang kunalar sendiri, bukankah lebih baik aku bilang tidak tahu, itu lebih banyak menjaga orang dari tersesat. Seharusnya mereka tak memandang hanya dari sisinya saja tapi diri sisiku yang masih belum banyak membaca buku, aku malah ingin terjun di diskusi-diskusi mereka mendengarkan sembari mengumpulkan puing-puing pengetahuan yang harus kurangkai pada akhirnya.
Pada akhirnya mereka gagal mengerti dan menjadikan aku makhluk terangkuh yang tak pantas untuk dijadikan teman. Aku mencoba mengerti, mungkin langit memiliki jawaban atas pilihanku yang telah lalu. Sayangnya aku telah menjadi tokoh jahat dalam ceritaku sendiri.
Sudahlah lupakan tentang masalah yang membayangi liburan semesterku. Udara sejuk yang menyelinap dari lubang kaca yang tidak rapat memberiku suapan energi. Usil aku membayangkan cinta pertamaku yang berterbangan di atas jalan ini ketika aku diajak ngebut gila-gilaan dan diturunkan paksa di depan kuburan tadi. Cinta pertama yang berkhianat, cinta pertama yang aku lupakan, dan cinta pertama yang jatuh dalam kenangan membuatku merasa bodoh dan tersenyum sendiri.
Aku mengingat diriku berjalan jauh melintang dari garis rencana hidupku ketika SMP, ketika mimpiku yang aku lukis indah-indah padam tersiram air sekali. Mimpi bagai api yang mengkungkungku selama 3 tahun di SMP itu lenyap dan aku sudah tidak memiliki mimpi itu lagi, mimpi-mimpi besar itu lagi.
Aku masih marah, marah pada semuanya sampai hari ini. Walaupun pada saat sadarku aku bertanya pada langit yang biru “apakah nasibku akan sama jika aku menuruti jalan mimpiku, apakah aku akan bahagia sekarang?” pertanyaan itu hanya sampai pada langit, aku tak tahu apakah Tuhan cukup peduli dengan orang macam aku. Orang yang masih sering meninggalkan sholat padahal itu sudah tertulis rapi bahwa itu kewajiban.
Seyogyanya guru ngajiku selalu mengajariku agar menjadikan sholat sebagai kebutuhan bukan kewajiban maka kau tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi hatiku masih suka untuk menolak hal-hal baik, aku lebih suka menerima hal-hal yang menyenangkan, bukankah manusia memang seperti itu?
Matahari mulai menyinari pelabuhan yang mengayunkan perahu-perahu tertambat membuat mereka terlihat seperti bayi yang sedang dininabobokan oleh ibunya, warna-warna biru kusam menghujam mataku menyadarkan aku bahwa ini kotaku. Kotaku yang dari ketinggian dapat melihat laut begitu dekat ingin tumpah ke hadapan muka. Melihat perahu batu bara itu mencicit di tengah lautan. Sekali lagi kotaku, kota yang dengan tanahnya memberikan aku makan, memberikan aku uang untuk sekolah, memberikan aku kesempatan untuk dididik para guru yang berdedikasi. Kota yang aku rindukan ketika aku ditimpa kesedihan dan kekasaran kehidupan baruku.
Aku menertawakannya yang mengembalikan kenangan menyakitkan yang ada di umurku sampai 19 tahun ini. Hal itulah yang membuatku akhirnya pergi dengan kemarahan untuk menemukan hidup baru yang aku anggap lebih baik. Akhirnya seperti kalian tahu, rumah adalah tempat ternyaman untuk berdamai dengan keadaan seberapa besar tempat itu memberimu luka lebam di seluruh hatimu. Rumah aslimuah yang akan mengusapkan alkohol dan mengguyurnya dengan betadine agar mengering dan kembali seperti sedia kala. Kota yang walaupun hanya dilihat sesaat akan melukiskan lebih banyak kenangan indah dari pada kepahitan.
Sejenak aku melupakan jalan-jalan kembar yang ramai, patung-patung pahlawan yang berdiri megah, air-air mancur, tempat foto di jalan, bunga-bunga yang menghiasi tengah jalan, dan hal-hal padat lainnya yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku menyukai pemandangan ini, pemandangan penuh pohon-pohon yang tak kutahu namanya kecuali jati, akasia, dan mahoni. Menyaksikan monyet-monyet turun memanjat pohon demi pohon, menyaksikan beberapa ibu-ibu dengan baju dinas mereka yang sederhana menenteng arit, mengenakan capil, dan membawa karung besar untuk membabat rumput. Aku melihat air terjun entah dari mana membuncah dan berbuih mendendangkan lagu alam memberi irama pada cicitan burung pagi yang semakin menjadi.
Dua tahun lalu aku naif jika orang terbaik hanya dari kotaku saja, dan aku hanya menyukai mereka. Tapi nyatanya waktu membenturku pada orang-orang baru yang jauh lebih baik dan membuatku ternganga, orang-orang yang ingin aku susul keberadaannya. Tapi mereka tidak bisa membuatku tenang, mereka tidak memuaskanku tentang pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang akhirnya aku coba singkirkan demi melihat keelokan mereka.
Di rumah ini, pertanyaan itu muncul lagi. Menarik-nari tanganku untuk menikmati masa-masa jayaku di bangku sekolah. Menikmati pujian guru dan tepuk tangan antusias dari teman-teman.
Aku memaksa diriku berhenti bertanya dan mengajaknya untuk menikmati rumput-rumput hijau berkilau karena embun, menikmati setiap kelok yang dilalui bus.
Aku tersenyum menangkap basah diriku yang duduk di tempat yang sama bertahun-tahun yang lalu. Dulu ketika aku tak menemukan angkot aku akan naik bus, duduk paling belakang dan mengeluarkan buku untuk menulis puisi, menulis potongan-potangan kisah yang terjadi seharian sampai tanganku kelu, sampai bus berhenti,  sampai aku tak punya ide lagi. Ingatanku menatap indah di mana aku masih leluasa untuk menulis tanpa takut membuang-buang waktu karena belum mengerjakan tugas. Tugasku dulu sepele sekolah sampai jam 2 siang, kadang meneruskan les bahasa Jepang sampai pukul 4 baru pulang, membantu orang tua, mengerjakan PR dan akhirnya tertidur. Jika PR sudah kukerjakan aku akan membuka buku catatanku menulis banyak hal, tentang teman, tentang pelajaran, tentang guru, dan tentunya tentang orang yang aku sukai saat itu. Hidup memang menggemaskan ketika kamu menganggap hidup masih main-main. Hidup begitu keras ketika kau memahami bahwa hidup ini sungguhan. Hidup ini seperti game besar yang jika kamu salah langkah dapat berakibat sangat fatal.
Matahari meninggi walaupun jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, ketika akhirnya pemberhentianku terlihat dan bus berhenti pelan dan teratur di tikungan tajam itu. Aku buru-buru menyandang tas abu-abuku. Membawa ransel besar yang dibantu kondektur bus menenteng magic com dan benar-benar menghirup udara rumah. Aku menatapnya sesaat, silau, asing dan keras. Tapi ini rumahku. Kenangan yang melaju di bus selama setengah jam itu hanyalah sepotong kisah diriku yang tidak utuh dan tercerai berai, kusut. Aku hanya ingin katakan padamu, aku mau liburan, aku tidak ingin mengingatmu selama liburanku. Entah perasaan sayangku padamu atau benci yang kini terlanjur tumbuh. Aku juga tidak akan peduli dengan perasaanmu saat ini. aku hanya ingin peduli pada diriku sendiri. Diriku yang beberapa menit lagi akan dapat tergeletak di kasur busa rumahku dengan aroma masakan yang disiapkan Simbahku. Hidup ini indah, maka aku akan menikmatinya.

Pulang adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka