"Didi Kempot" nama ini tidaklah asing bagi saya. Sejak saya masih belajar untuk mengeja kata, setiap hari ayah saya pasti mendengarkan lagu dari musisi campursari asal Solo ini. Suaranya yang khas dan ditambah dengan irama musik yang nyaman di kuping, Didi Kempot dan campursari sudah menjadi bagian dalam hidup saya.
Kebanyakan orang mungkin berpikir kalau saya kampungan karena selera saya. Tapi memangnya apa yang salah dengan itu? Memangnya musik kampungan dan modern dilihat dari segi apa? Dari segi bahasa yang sulit dilafal atau dari hentakan musik yang tidak karu-karuan? Memangnya apa yang salah dari musik campursari?
Dari musik ini saya dapat belajar kosakata bahasa jawa yang lebih mumpuni. Saya mulai belajar untuk merangkai kata kiasan dengan susunan sebuah puisi dalam versi bahasa Jawa, bahkan ketika saya belum mengenal apa itu syair dan puisi.
Bagi saya lirik lagu Didi Kempot adalah syair yang saya pelajari pertama kali. Melalui lagu karangannya saya yang masih duduk di SD belajar tetang sebuah dunia orang dewasa. Dunia orang dewasa yang ditinggal pergi dan dikhianati kekasihnya (Cidro), tentang perjuangan seorang lelaki menafkahi istrinya (Layang Kangen), tentang kehidupan poligami (Bojo Loro), dan sindirian untuk orang yang lupa akan asalnya (Kere Munggah Bale). Tentunya masih banyak lagu karangan Didi Kempot yang menyoroti tentang kehidupan, dan karya dari lagu-lagunya sampai saat ini tidak pernah mati.
Suara Didi Kempot akan tetap menemani malam-malam saya yang sangat merindukan rumah dan merindukann masa kecil saya yang dikelilingi syair-syairnya. Tapi saya cukup lega, karena walaupun orang sekarang lebih bangga memutar lagu-lagu barat, Didi Kempot tidak pernah putus asa untuk menyebarluaskan karyanya. Hari ini, aku tidak hanya mendengar lagu Stasiun Balapan ataupun Tanjung Mas Ninggal Janji, hari ini saya dapat menikmati karya Didi Kempot dari sudut banyak daerah seperti dari Malang (Ademe Kutho Malang) dan sebuah lagu tentang kota saya Pacitan (Pantai Klayar).
Bagi saya musik campursari terutama ciptaan Didi Kempot menjadi oase bagi kehidupan musik saya yang penuh dengan kata-kata picisan tentang cinta dan syair-syair yang tidak puitis lagi. Musik campursari Didi Kempot masih tetap memiliki ruhnya sebagai musik dengan syair-syair yang puitis dan tetap enak untuk di dengarkan. Dan karena itulah, musik campursari Didi Kempot tetap hidup, terutama dalam hati saya.
Kamis, 18 Agustus 2016
Sabtu, 13 Agustus 2016
CINTA BOSA BASI
Waktu itu pukul satu, langit masih terang dan matahari masih punya tempat di atas sana. Kamu yang pakai sweater warna hijau tiba-tiba muncul begitu saja. Menggunakan helm vespa warna coklat kamu langsung memarkir motor beat merah putih di hadapanku. "Deg" satu detik saja, jantungku berhenti berdetak dan nafasku tertahan di tenggorakan. Kamu melangkah saja dengan sikap biasa, di depanku, membelakangiku, menjauh dan akhirnya menghilang di balik dinding bangunan.
Adegan itu menjelma de javu di hadapanku. Seperti kaset kusut yang diputar berulang kali, dengan adegan yang sama, dan ending yang sama, hanya saja tempat dan suasananya berbeda. Sama halnya dengan kejadian siang ini yang bertempat di salah satu halaman kampus yang separuh sepi. Kamu tak pernah menyapaku akupun juga tak berani menyapamu dan tidak akan pernah cukup untuk memiliki keberanian itu. Sampai kamu menghilang di sudut-sudut gedung atau ditelan sekumpulan orang.
Tapi, berbeda dari hari-hari yang lalu, hari ini aku tidak hanya bisa melihat punggung terakhirmu. Hari ini setelah kau menaruh ransel kesayanganmu, kau duduk di deretan kursi berjarak lima meter dari tempatku. Kamu duduk di sana, ngobrol, dan nyanyi sama teman-temanmu. Sedangkan aku.... kamu pasti tahu sendiri. Aku sibuk menata hatiku yang mulai berlompatan seperti kelinci, tak bisa kutangkap dan kupasang pada kotak-kotaknya sendiri.
"Ah, apa seperti ini rasanya orang jatuh hati?"
Aku tetap saja mengulang pertanyaan itu dalam hatiku setiap melihatmu. Aku masih tidak mengerti mengapa aku menyukaimu. Apakah karena mata sipit di wajahmu? Atau kulit putih tanpa noda yang menyelimuti tubuhmu? Lalu bagaimana jika semua itu hilang darimu. Jika matamu tak lagi sipit, dan kulitmu tak seindah yang aku lihat hari ini.
Aku bertanya-tanya lagi, "apakah benar ini jatuh hati?"
Aku mengetahui sosokmu sejak satu tahun yang lalu dan sampai sekarang aku hanya sampai pada tahap mengetahui, tidak memahami, atau melakukan aksi, apalagi analisis, sintesis, atau bahkan evaluasi. Sejak satu tahun lalu aku hanya berada di tempat yang sama dan tanpa kemajuan. Benar-benar siklus jatuh hati tanpa ujung bukan?
Dan hari ini kamu ada di sampingku (walaupun jauh), aku masih saja melihatmu yang semakin jernih di mataku. Lalu aku kabur, karena takut dengan perasaanku yang membumihanguskan pikiranku. Berasa ada sistem yang eror di kepalaku, semacam koslet karena dua kutub yang seharusnya tak bertemu tiba-tiba saja bersinggungan satu dengan yang lainnya, mengelupas oleh getaran yang dihasilkan organ pompa darah.
Entahlah kejadian itu seperti di ulang terus-terusan. Seakan ada yang memutarnya beratus kali agar aku mengerti. Tapi mengerti untuk apa? Untuk cinta yang tak harus dimiliki dan hanya bisa disimpan di dalam hati? Ah, bagiku itu hanya basa-basi. "Dan apakah jatuh hatiku juga cuma basa-basi?" tayaku pada pintu gedung yang menutup, basa-basi untuk mengetahui, basa-basi untuk memahami dan akhirnya bosan sendiri.
Aku masih mencarimu sore itu, berharap aku bisa mengembalikan memori yang dihapus konsleting otakku, tapi kamu tidak ada, dan kamu tetap jadi bosa-basi tak berujungku. Sekali lagi aku menatap pintu itu dan bertanya kamu ada di mana.
Adegan itu menjelma de javu di hadapanku. Seperti kaset kusut yang diputar berulang kali, dengan adegan yang sama, dan ending yang sama, hanya saja tempat dan suasananya berbeda. Sama halnya dengan kejadian siang ini yang bertempat di salah satu halaman kampus yang separuh sepi. Kamu tak pernah menyapaku akupun juga tak berani menyapamu dan tidak akan pernah cukup untuk memiliki keberanian itu. Sampai kamu menghilang di sudut-sudut gedung atau ditelan sekumpulan orang.
Tapi, berbeda dari hari-hari yang lalu, hari ini aku tidak hanya bisa melihat punggung terakhirmu. Hari ini setelah kau menaruh ransel kesayanganmu, kau duduk di deretan kursi berjarak lima meter dari tempatku. Kamu duduk di sana, ngobrol, dan nyanyi sama teman-temanmu. Sedangkan aku.... kamu pasti tahu sendiri. Aku sibuk menata hatiku yang mulai berlompatan seperti kelinci, tak bisa kutangkap dan kupasang pada kotak-kotaknya sendiri.
"Ah, apa seperti ini rasanya orang jatuh hati?"
Aku tetap saja mengulang pertanyaan itu dalam hatiku setiap melihatmu. Aku masih tidak mengerti mengapa aku menyukaimu. Apakah karena mata sipit di wajahmu? Atau kulit putih tanpa noda yang menyelimuti tubuhmu? Lalu bagaimana jika semua itu hilang darimu. Jika matamu tak lagi sipit, dan kulitmu tak seindah yang aku lihat hari ini.
Aku bertanya-tanya lagi, "apakah benar ini jatuh hati?"
Aku mengetahui sosokmu sejak satu tahun yang lalu dan sampai sekarang aku hanya sampai pada tahap mengetahui, tidak memahami, atau melakukan aksi, apalagi analisis, sintesis, atau bahkan evaluasi. Sejak satu tahun lalu aku hanya berada di tempat yang sama dan tanpa kemajuan. Benar-benar siklus jatuh hati tanpa ujung bukan?
Dan hari ini kamu ada di sampingku (walaupun jauh), aku masih saja melihatmu yang semakin jernih di mataku. Lalu aku kabur, karena takut dengan perasaanku yang membumihanguskan pikiranku. Berasa ada sistem yang eror di kepalaku, semacam koslet karena dua kutub yang seharusnya tak bertemu tiba-tiba saja bersinggungan satu dengan yang lainnya, mengelupas oleh getaran yang dihasilkan organ pompa darah.
Entahlah kejadian itu seperti di ulang terus-terusan. Seakan ada yang memutarnya beratus kali agar aku mengerti. Tapi mengerti untuk apa? Untuk cinta yang tak harus dimiliki dan hanya bisa disimpan di dalam hati? Ah, bagiku itu hanya basa-basi. "Dan apakah jatuh hatiku juga cuma basa-basi?" tayaku pada pintu gedung yang menutup, basa-basi untuk mengetahui, basa-basi untuk memahami dan akhirnya bosan sendiri.
Aku masih mencarimu sore itu, berharap aku bisa mengembalikan memori yang dihapus konsleting otakku, tapi kamu tidak ada, dan kamu tetap jadi bosa-basi tak berujungku. Sekali lagi aku menatap pintu itu dan bertanya kamu ada di mana.
Rabu, 10 Agustus 2016
SKENARIO
Malamnya sepi, hanya
suara lirih laptop di kamar sebelah yang mengalirkan logat korea ke kamarku. Tidak
seperti hari-hari yang lalu, televisi 14 inci yang tepat berada di depan
kamarku kini terlelap, hanya lampu indikator warna merahnya yang menyala merah,
marah karena tidak ada lagi yang mempedulikannya.
Ya, hidup memang
selalu berubah sesuka hatinya. Rupa-rupanya dia ngikut saja pada dendangan waktu yang mengalun pelan-pelan dari detik,
menjadi menit, menjadi jam, menjadi hari, menjadi minggu, menjadi bulan, dan
akhirnya menjadi tahun. Hidup seumpama anak kecil yang mengejar pelangi di
angakasa berharap bisa bertemu ujung dan membelainya.
Hidup membuat pemainnya
pada skenario skenario yang ditulis rapi entah sejak kapan. Menamparkan banyak
pengalaman rasa sakit dan luka, lalu membiarkannya duduk terasing di tempat
tersepi, biar tubuh bisa merenung dan
menata ulang lagi.
Aku berada pada
ruang sepi itu, masih merasakan sayatan-sayatan perih yang sedang aku tutul
dengan antibiotik harapan. Nyeri memang, tapi aku juga ingin menghibur diriku
dengan masa lalu yang indah. Masa lalu saat orang-orang itu berada pada tempat
yang aku pijaki saat ini.
Waktu itu aku masih
sangat lugu. Aku bagai orang yang tinggal jauh dari kota dan tiba-tiba masuk
dalam lingkungan serba luas dan bergerak sangat cepat. Lalu aku bertemu mereka,
orang-orang yang banyak bicara dan cerita. Orang-orang yang tak lelah menjawab
ketidaktahuanku, orang-orang yang aku kagumi. Mereka adalah orang-orang yang
diam-diam aku pandangi dari jarak 20 meter dari tempatku berdiri, orang yang
sering mengajakku diskusi, orang-orang yang menguatkan aku agar tetap tidak
lelah bermimpi.
Namun, hidup yang
kejam sering mengingatkan aku pada titik titik bahwa mereka akan menghilang
pada waktunya. Dan mulai sejak saat itu sayatan itu muncul dalam hidupku. Awalnya
hanya bekas merah namun lama-lama berdarah dan bernanah.
Semakin hari aku
menyaksikan mereka semakin jauh dan hilang. Aku tidak bisa melihatnya sesering
dulu atau bertukar pikiran seperti waktu-waktu yang lalu. Mereka sibuk dengan
skenario hidupnya yang mulai berbeda denganku dan aku sendiri harus tetap
melanjutkan skenarioku.
Lalu aku belajar
untuk membiarkan mereka mulai jauh, aku mulai membiasakan mandi sakit hati
setiap hari, setiap aku ingat bahwa skenario yang ditulis saat bersamaku akan
habis besok atau lusa. Aku menyaksikan mereka dari jarak pandangku mulai
menyelesaikan skenarionya, seminar, sidang, lalu yudisium.
Dan pada akhirnya
televisi itu istirahat, tidak ada komentar komentar histeris saat melihat
pasangan Boy dan Reva bersama, atau melihat serial Uttaran yang terlampau
panjang. Pada pijakan ini, seharusnya aku yang menyalakan televisi itu,
meneruskan tawa dan komentar histeris yang terulang setiap petang, mengusir
penat dan lelah yang seharian menerjang.
Hari ini, aku pada
tempat mereka tapi tak bisa berbuat seperti mereka. Dan aku masih tetap saja
belum berdamai dengan masa lalu dan tetap berharap mereka tidak pergi. Aku tidak
tahu bagaimana menyambut orang-orang baru yang akan mengisi separuh skenario
yang tersisa. Apakah aku akan banyak bercerita seperti mereka? Apakah aku akan
cukup untuk dihargai dengan tingkah selengekan dan penuh kejailan? Aku merasa
belum pantas berdiri di tempat ini, belum pantas dituakan apalagi dijadikan panutan.
Hidup dan nyanyian
waktulah yang akan memberikan jawaban. Jadi, untuk sementara biarkan saja aku
di ruang sepiku, mengobati luka dengan mimpi dan harapan yang mulai kurajut
lagi.
Tulisan ini saya persembahkan
untuk seluruh kakak kakak yang pada tahun ini telah menyesaikan skenario S1 nya
dan siap melangkah ke panggung wisuda. Aku ikut bangga karena kakak berhasil
menyelesaikan skenario kakak, sekaligus merasa kehilangan karena kakak telah
memberikan saya pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih karena telah
peduli dan terima kasih telah mengisi hidup saya meski sekarang harus cerai dan
pergi.
Selasa, 09 Agustus 2016
Namanya Eko
Langit
Malang yang tak juga gelap menampakkan awan yang masih tak lelah berjalan- jalan dari sisi
langit yang satu ke sisi yang lainnya. Seakan dengan begitu sejarahnya tidak
akan habis di makan angin dan gaya tarik bumi.
Aku
sendiri tidak begitu peduli dengan arakan awan yang tak kunjung lelah itu. Hari ini aku hanya ingin bercerita tentang
seseorang. Seseorang yang pertama aku mengenalnya adalah seorang ibu paruh baya
mengenakan daster sederhana yang membuka pintu gerbang dengan celotehnya yang
panjang dan suaranya yang sangat kencang.
Ibu
dipertigaan yang membuka toko itu mengenalkannya padaku sebagai Bu Yoga. Ya, Bu Yoga, wanita agak gemuk, berkulit putih
dengan rambut hitamnya yang ikal. Aku masuk ke gerbang rumahnya berharap ada
satu tempat tidur yang bisa menampungku untuk belajar di kota asing ini.
Aku
mengekor padanya, memasuki emperannya yang teduh dan masuk ke ruang tamunya
yang hangat. Aku merasa nyaman saat menduduki sofa sederhana berwarna abu-abu
miliknya. Dalam hati aku membatin bahwa ini tempat paling pas untuk kutinggali.
Hingga
mataku yang lugu menatap sebuah lukisan di dinding sebelah kiriku. Lukisan itu
menelisik ulu hatiku dan menggoyahkan kenyamananku. Lukisan yang tergantung di
atas dinding itu memberikan tatapan asing padaku, bahwa aku dan dia sebenarnya
berbeda.
Aku
mulai ragu dan takut. Sejak kecil aku hidup di tempat di mana orang-orangnya
memiliki keyakkinan yang sama denganku. Waktu aku SD, waktu aku SMP, waktu aku
SMA semua sama. Tapi hari ini aku mendapatkan sebuah pengalaman baru, perasaan
takut dan ingin tahu menguasai rongga-rongga hatiku.
Lalu
dengan polos aku bertanya padanya, “apakah aku bisa sholat di rumahnya? Apakah aku
bisa ngaji? Apakah aku bisa puasa?”
Ibu
itu memang tidak tersenyum ramah seperti ibu peri dalam dongeng dongeng yang
sering kudengar. Tapi aku bisa melihat ketulusan kata-katanya, “saya memang
nasrani mbak, tapi anak-anak yang kos di sini semuanya islam. Saya tidak
membeda-bedakan seseorang karena keyakinannya, karena keyakinan adalah pilihan
masing-masing orang. Dan saya senang, karena mbak mbak yang kos di sini
semuanya rajin-rajin ibadahnya. Kita memang beda mbak, tapi bukan berarti harus
memisahkan diri satu sama lainkan?” ceritanya panjang lebar.
Dan
dengan keyakinan yang aku tambatkan pada kuasa Ilahi aku menyetujui tinggal di
sini dan membayar sejumlah uang muka.
Awalnya
aku masih sibuk bertanya, “benarkah ibu ini benar-benar serius dengan
perkataannya?”. Aku pun mulai mencari jawaban, dan jawaban itu adalah iya. Ibu benar-benar
tidak membeda-bedakan kami yang tidak sama keyakinannya dengan dia. Ibu tetap
baik seperti orang lainnya, sering membagikan jajanan pasar yang tidak habis
dia jual di sekolah. Sesekali ibu juga memberikan kami takjil untuk buka puasa
saat berpuasa sunah. Ibu juga tidak melarang kami melantunkan ayat-ayat Allah
selesai magrib dan selesai subuh. Ibu tetap pada keyakinannya dan kami tetap
pada keyakinan kami.
Ya,
dia Bu Yoga walau sebenarnya nama
aslinya bukan Bu Yoga, tapi Bu Eko. Dia selalu menggantikan tempat ibu yang
kini jauh dariku, mengomeliku karena perkara sepele karena belum makan dan
tidak mau mandi. Bu Yoga seakan menjelma jadi ibu baruku, yang akan menanyakan
keberadaanku saat tidak ada di kos dan selalu menyuruhku belajar. Sesekali saat
kami duduk berdua, dia akan menceritakan aku banyak kisah tentang silsilah
keluarganya, kesuksesan adik-adiknya, dan menasehatiku agar belajar dengan baik
agar bisa sukses di kemudian hari.
Sering
Bu Yoga bercerita bahwa dia tidak seberuntung adik-adiknya. Namun, bagiku Bu
Yoga adalah salah satu keberuntunganku selain diterimanya aku sekolah di tanah
ini. Karena dia, aku dapat membanggakan diri bahwa tidak hanya bu kos mereka
yang peduli tapi ibu kosku juga. Bahkan di tengah perbedaan kami.
Mungkin
hal inilah yang membuatmu akan tetap merasa hangat memasuki rumah ini dan
merasa disambut keramahan, karena suara nyaring bu Yoga akan menjadi penghangat
alami di kos ini.
Oh
iya, namanya Eko, Eko Sriwahyuni. Tapi orang lebih akrab memanggilnya Bu Yoga. Ah,
setidaknya kamu tahu tentang diakan.
Rabu, 27 Juli 2016
TELAH DICURI
Kertas kusut itu
terlempar begitu saja dari tangan Agis. Kertas tak bersalah itu melayang dan
mendarat bersama tumpukan kertas lainnya di atas keranjang sampah. Kertas tak
bersalah itu ternyata tidak sendirian, dia hanya salah satu dari formasi
menggunung tulisan Agis yang tidak srek
di hatinya.
“Hei, Agis kenapa
kamu membuang kertas-kertas ini?” tanya Gina. Gadis berperawakan agak gemuk,
penggila jajanan pasar, dan pecinta lingkungan itu memungut dengan nelangsa
kertas yang telah disia-siakan Agis.
“Kamu tahu Gis,
untuk membuat kertas-kertas ini satu pohon harus dikorbankan, dan kamu tahu
Gis?”
“Aku tahu Gin, kamu
mau bilang satu pohon yang hilang juga menghilangkan satu kesempatan penghasil
oksigen di bumi kita.”
“Kamu tahu itu Gis,
tapi mengapa kamu masih saja membuang kertas-kertas ini?”
Agis menarik nafas
panjang, tidak menjawab pertanyaan Gina. Agis memilih untuk menatap keluar
jendela kamarnya, menatap langit biru yang sesekali dinodai awan putih.
“Gis, kamu ngelamun?”
Agis menatap Gina
dengan malas. “Ada yang hilang Gin,” katanya kemudian.
“Hilang? Kamu kehilangan
apa Gis? Apa itu penting?” tanya Gina khawatir.
“Sangat penting,
sesuatu yang amat penting.”
“Ya ampun Agis,
mengapa kamu bisa seceroboh itu?”
Agis diam.
“Kalau itu penting
ayo kita cari Gis, sebelum semuanya terlambat,” usul Gina dengan semangat.
Agis bertopang dagu,
menatap Gina yang mulai mengkhawatirkan kehilangan yang dialami Agis.
“Aku tidak tahu apa
yang hilang Gin, tapi aku merasa ada yang hilang. Sesuatu yang penting, sesuatu
yang berwarna, sesuatu yang manis, tapi aku tidak tahu dia apa atau dia siapa. Aku
hanya merasa kehilangan sesuatu dan aku tidak bisa tenang, bahkan hanya untuk
menulis.”
Gina memandangnya
dengan tatapan tidak percaya.
“Jadi aku minta maaf
padamu karena membuatmu menjadi kehilangan pohon kesayanganmu dan membuangnya
dengan percuma. Aku tahu bagaimana perasaanmu kehilangan mereka, tapi
setidaknya kamu tahu apa yang telah dicuri darimu.”
Rabu, 20 Juli 2016
SEMUANYA TENTANG KAMU
Pada
gelapnya mendung yang kini bergelantung malas turun, aku ceritakan tentang
kamu. Iya tentang kamu, tentang siapa lagi aku akan cerita jika bukan tentang
kamu? Pelangi kecil yang muncul tiba-tiba lalu terburu pergi. Kau takut aku
mengusirmu kala itu, ya pada akhirnya aku memang akan mengusirmu yang tidak
tahu diri. Tidak tahu diri karena muncul tiba-tiba dan membuatku jatuh cinta. Padahal
kau tahu aku begitu mudah untuk jatuh cinta. Mengapa engkau datang dan
membuatku benar-benar jatuh. Oh, apakah kamu suka melihatku tersungkur di
hadapanmu karena begitu menyukaimu?
Rabu, 18 Mei 2016
PULANG, RUMAH, KENANGAN
Pagi
menjemput matahari terlalu dini. Sinarnya yang menguar dari ufuk timur
memberikan tetes cahaya pada pucuk-pucuk pohon yang gelap. Suasana merambat
menjadi terang, udara dingin yang digantung malam pada panjang jalan itu
menguap perlahan, digantikan dengan terang yang mulai merambat membangunkan
setiap kehidupan. Ayam, burung, padi yang separo menguning dan pintu-pintu yang
semalaman tertutup rapat sampai ke pagarnya mulai membuka mata.
Aku
merapatkan tubuhku yang terbungkus jaket merah tebal. Lima belas menit yang
lalu aku keluar dari mobil travel yang membawaku dari malang. Sisa-sisa udara
AC di mobil itu masih terasa menggigiti pori-pori tubuhku membuatku
gemeletukan. Sebuah ransel besar merek westpack terlihat menggunung di sisi
kiriku. Tas ransel warna abu-abu menempel di pundakku dan aku terpaksa menaruh
kresek salah satu pusat perbelanjaan di Malang di sebelah kananku. Aku lelah
menentengnya lima belas menit terakhir, menunggu sesuatu yang akan benar-benar
membawaku pulang, tidak hanya ke kotaku tetapi benar-benar ke rumahku.
Seorang
ibu dan bapak yang semalaman berjualan gorengan dan kopi panas menawariku untuk
duduk di bangku panjangnya. Namun aku menolak, aku lebih suka di tepi jalan
ini, malas harus memindahkan ransel besar yang berat itu. Lagipula pagi datang,
aku tahu kedua orang itu ingin membereskan dagangannya dan bergegas pulang
untuk mengerjakan hal lainnya.
“Duduk
sini Nduk,” katanya hangat sehangat kopi yang masih tersisa di tremosnya. Aku
hanya tersenyum mengangguk dan tetap mematung memandang ke arah kanan, berharap
bus besar dengan nama “Aneka Jaya” itu segera datang menghampiriku.
Lima
menit, sepuluh menit, aku menggosok kedua telapak tanganku mengharapkan hangat
yang dijanjikan oleh gesekan kedua telapak tangan itu. Namun tanganku yang kebas
itu tak juga menghasilkan hangat, kesal aku meniupnya dengan nafasku hal itu
lebih membantu karena uap mulutku terasa hangat di udara pagi yang mengembun.
Setengah
enam pas bus warna putih merah itu berhenti setelah aku melambaikan tangan
menghentikannya. Aku tersenyum untuk terakhir kalinya pada sepasang suami istri
yang sekarang sedang mengangkat kursi panjang agar menyatu dengan gerobak
bertuliskan “sego hek” itu.
Pagi
itu dimulai dengan cicit burung-burung yang menyasak padi ketika pijakan terakhirku
berhasil naik ke bus dan mencari tempat terdekat. Aku menaruh ransel besar di
dekat kakiku menaruh kresek berisi magic com di dekatnya dan menaruh tas
abu-abu di sebelahku. Pagi itu bus “Aneka Jaya” dipenuhi separuh penumpang yang
masih kuyu menyambut hari. jaket-jaket tebal membungkus tubuh mereka yang
merapatkan badan, masih merasa dingin.
Aku
menempelkan wajah pada kaca bening yang buram melihat potongan-potongan
bangunan yang berjalan cepat senada dengan laju bis memecah jalanan yang masih
lengang. Dengus lelah dari hidungku membentuk embun yang menghalangi mata yang
langsung kuusap, menampakkan pemandangan di luar yang bernuansa hijau tua. Aku melihat STM Bina
Karya tempat teman-temanku yang berjiwa bebas bersekolah. Aku mendapati kuburan
nasrani dengan nisan-nisan pongahnya, lalu nisan-nisan muslim yang berjejalan,
disusul sebuh MI yang berdiri teduh di akhir jalan itu, menyisakan sebuah petak
tanah sebagai jalan ke stadion kebanggaaan kotaku, merayap melalui jembatan
yang entah kapan telah terbangun, patung sapi coklat yang setia berdiri dan
dinding-dinding tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar.
Aku
melenguh sangat lelah, belajar banyak hal di luar kota menjadikan aku pengenang
ulung untuk mengenang masa-masa kecilku selama 19 tahun belakangan. Sesekali
menarik nafas lega karena telah sampai dan jauh dari kepenatan tugas dosen,
organisasi-organisasi yang tak bisa kucengkeram kuat, dan teman-teman yang
kuanggap tidak peduli. Aku senang setelah rutinitas membunuhku dari segala hal
tentang kenangan, hari ini, di pagi yang menjemput siang aku dapat
tersenyum-senyum sendiri mengingat kisahku yang terlukis di seluruh jalan ini,
puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, aku tak bisa menghitung lagi berapa
kali aku mondar-mandir di lintasan jalan ini.
Aku
sengaja tidak menghubungi orang tuaku untuk pulang. Aku ingin kepulanganku ini
menjadi perjalananku untuk mengingat lagi kenangan. Kenangan yang akhirnya bisa
mengantarku ke bangku kuliah. Bangku yang aku harapkan sejak SMP, sejak aku
membaca karya-karya besar Andrea Hirata, bangku yang akhirnya kusingkirkan
karena aku tidak ingin membebani keluargaku, bangku yang akhirnya kutemukan dan
kududuki pada akhirnya.
Aku
menarik nafas berat dan aku merasakan mataku mengembun, aku mengingat tentang
teman-temanku yang menganggapku ambisius dan gila prestasi. Aku yang selama
satu semester dianggap pelit berbagi ilmu. Memangnya apa yang bisa dibagi, aku
selalu mendengarkan ocehan dosen tentang keluarganya, lalu sore-sore pergi ke
kampus utama untuk mengikuti kegiatan rutin organisasi, saat aku sampai di kos
aku hanya bisa mengerjakan tugas yang dikumpulkan esok hari dan jatuh
terjerembab di kasur busa tipisku. Apa yang bisa kubagi ketika aku tak banyak
baca buku, tidak banyak teori yang kukuasai. Aku hanya tidak ingin tersesat
dengan teori yang kunalar sendiri, bukankah lebih baik aku bilang tidak tahu,
itu lebih banyak menjaga orang dari tersesat. Seharusnya mereka tak memandang
hanya dari sisinya saja tapi diri sisiku yang masih belum banyak membaca buku,
aku malah ingin terjun di diskusi-diskusi mereka mendengarkan sembari
mengumpulkan puing-puing pengetahuan yang harus kurangkai pada akhirnya.
Pada
akhirnya mereka gagal mengerti dan menjadikan aku makhluk terangkuh yang tak
pantas untuk dijadikan teman. Aku mencoba mengerti, mungkin langit memiliki
jawaban atas pilihanku yang telah lalu. Sayangnya aku telah menjadi tokoh jahat
dalam ceritaku sendiri.
Sudahlah
lupakan tentang masalah yang membayangi liburan semesterku. Udara sejuk yang
menyelinap dari lubang kaca yang tidak rapat memberiku suapan energi. Usil aku
membayangkan cinta pertamaku yang berterbangan di atas jalan ini ketika aku
diajak ngebut gila-gilaan dan diturunkan paksa di depan kuburan tadi. Cinta
pertama yang berkhianat, cinta pertama yang aku lupakan, dan cinta pertama yang
jatuh dalam kenangan membuatku merasa bodoh dan tersenyum sendiri.
Aku
mengingat diriku berjalan jauh melintang dari garis rencana hidupku ketika SMP,
ketika mimpiku yang aku lukis indah-indah padam tersiram air sekali. Mimpi
bagai api yang mengkungkungku selama 3 tahun di SMP itu lenyap dan aku sudah
tidak memiliki mimpi itu lagi, mimpi-mimpi besar itu lagi.
Aku
masih marah, marah pada semuanya sampai hari ini. Walaupun pada saat sadarku
aku bertanya pada langit yang biru “apakah nasibku akan sama jika aku menuruti
jalan mimpiku, apakah aku akan bahagia sekarang?” pertanyaan itu hanya sampai
pada langit, aku tak tahu apakah Tuhan cukup peduli dengan orang macam aku.
Orang yang masih sering meninggalkan sholat padahal itu sudah tertulis rapi
bahwa itu kewajiban.
Seyogyanya
guru ngajiku selalu mengajariku agar menjadikan sholat sebagai kebutuhan bukan
kewajiban maka kau tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi hatiku masih suka
untuk menolak hal-hal baik, aku lebih suka menerima hal-hal yang menyenangkan,
bukankah manusia memang seperti itu?
Matahari
mulai menyinari pelabuhan yang mengayunkan perahu-perahu tertambat membuat
mereka terlihat seperti bayi yang sedang dininabobokan oleh ibunya, warna-warna
biru kusam menghujam mataku menyadarkan aku bahwa ini kotaku. Kotaku yang dari
ketinggian dapat melihat laut begitu dekat ingin tumpah ke hadapan muka.
Melihat perahu batu bara itu mencicit di tengah lautan. Sekali lagi kotaku,
kota yang dengan tanahnya memberikan aku makan, memberikan aku uang untuk
sekolah, memberikan aku kesempatan untuk dididik para guru yang berdedikasi.
Kota yang aku rindukan ketika aku ditimpa kesedihan dan kekasaran kehidupan
baruku.
Aku
menertawakannya yang mengembalikan kenangan menyakitkan yang ada di umurku
sampai 19 tahun ini. Hal itulah yang membuatku akhirnya pergi dengan kemarahan
untuk menemukan hidup baru yang aku anggap lebih baik. Akhirnya seperti kalian
tahu, rumah adalah tempat ternyaman untuk berdamai dengan keadaan seberapa
besar tempat itu memberimu luka lebam di seluruh hatimu. Rumah aslimuah yang
akan mengusapkan alkohol dan mengguyurnya dengan betadine agar mengering dan
kembali seperti sedia kala. Kota yang walaupun hanya dilihat sesaat akan
melukiskan lebih banyak kenangan indah dari pada kepahitan.
Sejenak
aku melupakan jalan-jalan kembar yang ramai, patung-patung pahlawan yang
berdiri megah, air-air mancur, tempat foto di jalan, bunga-bunga yang menghiasi
tengah jalan, dan hal-hal padat lainnya yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku
menyukai pemandangan ini, pemandangan penuh pohon-pohon yang tak kutahu namanya
kecuali jati, akasia, dan mahoni. Menyaksikan monyet-monyet turun memanjat
pohon demi pohon, menyaksikan beberapa ibu-ibu dengan baju dinas mereka yang
sederhana menenteng arit, mengenakan capil, dan membawa karung besar untuk
membabat rumput. Aku melihat air terjun entah dari mana membuncah dan berbuih
mendendangkan lagu alam memberi irama pada cicitan burung pagi yang semakin
menjadi.
Dua
tahun lalu aku naif jika orang terbaik hanya dari kotaku saja, dan aku hanya
menyukai mereka. Tapi nyatanya waktu membenturku pada orang-orang baru yang
jauh lebih baik dan membuatku ternganga, orang-orang yang ingin aku susul
keberadaannya. Tapi mereka tidak bisa membuatku tenang, mereka tidak
memuaskanku tentang pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang akhirnya aku coba
singkirkan demi melihat keelokan mereka.
Di
rumah ini, pertanyaan itu muncul lagi. Menarik-nari tanganku untuk menikmati
masa-masa jayaku di bangku sekolah. Menikmati pujian guru dan tepuk tangan
antusias dari teman-teman.
Aku
memaksa diriku berhenti bertanya dan mengajaknya untuk menikmati rumput-rumput
hijau berkilau karena embun, menikmati setiap kelok yang dilalui bus.
Aku
tersenyum menangkap basah diriku yang duduk di tempat yang sama bertahun-tahun
yang lalu. Dulu ketika aku tak menemukan angkot aku akan naik bus, duduk paling
belakang dan mengeluarkan buku untuk menulis puisi, menulis potongan-potangan
kisah yang terjadi seharian sampai tanganku kelu, sampai bus berhenti, sampai aku tak punya ide lagi. Ingatanku
menatap indah di mana aku masih leluasa untuk menulis tanpa takut
membuang-buang waktu karena belum mengerjakan tugas. Tugasku dulu sepele
sekolah sampai jam 2 siang, kadang meneruskan les bahasa Jepang sampai pukul 4
baru pulang, membantu orang tua, mengerjakan PR dan akhirnya tertidur. Jika PR
sudah kukerjakan aku akan membuka buku catatanku menulis banyak hal, tentang
teman, tentang pelajaran, tentang guru, dan tentunya tentang orang yang aku
sukai saat itu. Hidup memang menggemaskan ketika kamu menganggap hidup masih
main-main. Hidup begitu keras ketika kau memahami bahwa hidup ini sungguhan.
Hidup ini seperti game besar yang jika kamu salah langkah dapat berakibat
sangat fatal.
Matahari
meninggi walaupun jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, ketika akhirnya
pemberhentianku terlihat dan bus berhenti pelan dan teratur di tikungan tajam
itu. Aku buru-buru menyandang tas abu-abuku. Membawa ransel besar yang dibantu
kondektur bus menenteng magic com dan benar-benar menghirup udara rumah. Aku
menatapnya sesaat, silau, asing dan keras. Tapi ini rumahku. Kenangan yang
melaju di bus selama setengah jam itu hanyalah sepotong kisah diriku yang tidak
utuh dan tercerai berai, kusut. Aku hanya ingin katakan padamu, aku mau
liburan, aku tidak ingin mengingatmu selama liburanku. Entah perasaan sayangku
padamu atau benci yang kini terlanjur tumbuh. Aku juga tidak akan peduli dengan
perasaanmu saat ini. aku hanya ingin peduli pada diriku sendiri. Diriku yang
beberapa menit lagi akan dapat tergeletak di kasur busa rumahku dengan aroma
masakan yang disiapkan Simbahku. Hidup ini indah, maka aku akan menikmatinya.
Pulang adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka
Langganan:
Postingan (Atom)