Pages

Rabu, 11 Mei 2016

MAKIAN HUJAN

Derak-derak hujan menghantam atap seng rumah kosku. Membentuk nyanyian senja yang diam-diam kunikmati. Sambil sesekali membuka buku aku dapat mengerti suara hujan itu mengejek dan memojokkan aku. Dia menimpaliku dengan pertanyaan bertubi, "buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi? Sampai hari ini pun kamu bukan apa-apa dan masih dianggap bocah tak mandiri. Katanya calon guru tapi nggak pernah mencoba mengajar, katanya mahasiswa tapi tidak berguna. Dan apa yang kau lakukan di kamarmu? Hanya bertahan, membuka-buka buku, mencari jawaban, menghafal, untuk apa? Hanya sekedar untuk mencari nilai bukan? Buat apa kamu punya nilai yang bagus kalau itu tidak berguna? Kau tak lebih pintar dari dia, yang diam-diam kau iri i. Dan kau masih saja membolak-balik bukumu? Ah, sudahlah berhenti saja, seperti diriku yang kehilangan butiran tetes karena lelah terjun dan kembali. Sudah tutup saja bukumu itu, lupakan dia, pergi saja dari dalam kamarmu, bawa bajumu, menggelandanglah manusia tak berguna!"


Selasa, 10 Mei 2016

OBROLAN YANG TERTUNDA

Semalam, ya semalam, kita sempat berbagi cerita setelah dua tahun tidak pernah berbicara banyak. Semalam, ya semalam dari pukul 8 sampai jam setengah 10 malam. Niatku aku ingin cerita pasal orang yang aku sukai sekaligus bikin kamu cemburu bahwa aku punya orang yang kusukai. Ternyata aku salah, kamu malah sudah punya pacar dan kau sangat bangga pada pacarmu itu. Setidaknya kamu bisakan mendengar ceritaku dan memberiku satu pencerahan tentang orang yang aku suka ini. "Pak, pean tahu ta gimana caranya komunikasi sama cowok biar nggak garing?" tanyaku padamu lewat blackberry messenger itu. Kau bilang kau tak begitu mengerti tentang itu, yang kau tahu katamu hanya percakapan cowok dengan cowok dan tak begitu paham jika  berlawanan jenis. Aku ingin mendesakmu, aku tahu kau mengetahui lebih banyak dibandingkan aku.
Ah, kau malah bercerita tentang hidupmu sekarang, kau bercerita bahwa kau telah menyukai seorang gadis yang kebetulan juga suka denganmu. Ah, kenapa jadi kamu yang cerita, di sini aku yang memulai percakapan ini dengan masalahku kenapa sekarang tebalik begini. Namun, sisa jam itu aku habiskan untuk menyimak ceritamu, menerima kiriman foto dari perempuan yang kau sukai. Ah, aku sebal tahu, aku pun juga ingin mengirimkan foto orang yang kusukai ini padamu. Tapi kamu tidak peduli dan akupun terlalu berbaik hati untuk mendengarkan keluh kesahmu tentang banyaknya orang yang menyukaimu. Aku menanggapimu dengan candaan, karena kamu tidak tahu bahwa orang yang sedang kau ajak bicara juga pernah atau masih menyukai dirimu. Aku menertawaimu dan juga menertawai kekonyolanku. Kubilang itu anugrah bagimu kukatakan "kapan lagi bisa ada banyak yang ngefans tanpa jadi artis, Pak" tapi kau masih terus bilang kalau kau risi. Ah, aku tak bisa membayangkan kalau kau membaca tulisan ini. Apakah kau juga akan risi padaku Pak?
Satu cerita yang musti kau tahu pak, sebenarnya aku ada di posisi orang-orang yang menyukaimu itu. Orang yang histeris saat melihatmu, orang yang akan sangat-sangat senang bila sudah melihat kamu. Aku mencoba memahami posisimu pak, tapi mungkin kamu lupa untuk memahami posisiku sehingga kamu tidak juga mengerti dan merasa risi. Cerita ini akan kuceritakan padamu, kalau syukur syukur kau ketemu alamat ini. Aku menyukai seseorang pak, seseorang yang sangat rupawan jika aku boleh berpuitis. Sama sepertimu dia banyak disukai orang termasuk juga aku, yang mengenalnya pertama kali di acara ospek kampus. Aku ini ibarat para penggemarmu itu yang akan histeris jika melihatnya dan berusaha sangat keras untuk bisa melihat dia. Aku sangat naif bukan seperti para penggemarmu itu. Maka aku ingin kau mengerti posisi para penggemarmu itu, sekaligus ingin kau mengerti posisiku yang ingin (walaupun aku bukan apa-apa dibanding seseorang itu) bisa dekat dengannya. Bukan aku ingin menasehatimu hingga akhirnya kau menghentikan obrolanmu semalam. Aku hanya ingin menceritakan kisah diriku sendiri di antara ceritamu sendiri. Karena sejak awal aku memang ingin berbagi cerita denganmu tidak hanya mendengarkanmu saja.

Obrolan kita mungkin berakhir Pak, dan aku tak tahu kapan lagi bisa bicara banyak denganmu seperti semalam. Dan ketika aku mengetik tulisan ini aku hanya bisa menarik nafas tak menyesal dengan obrolan yang telah aku mulai. Tapi sudahlah, walaupun kau bilang "lelaki kadang tidak suka di debat", kau mesti tahu "aku pun juga bukan perempuan yang mudah mengalah." Jadi mungkin sudah seharusnya obrolan kita berakhir karena sudut pandang yang berbeda. Selamat sore Pak, selamat menikmati hidupmu yang sibuk dan didatangi banyak cinta.

Dari aku (walaupun ini bukan surat) teman masa lalumu, penggemar rahasiamu, dan salah satu orang yang kau beri kepercayaan untuk mendengar ceritamu.

Minggu, 08 Mei 2016

AKU



Aku adalah sajak yang menggantung di pohon, begitu kau rindukan lalu kau lupakan
Aku adalah ayunan usang yang kau mainkan pada awal pertemuan lalu kau tinggalkan
Aku adalah petak-petak rumput yang kau imajinasikan sebuah kota lalu kau tiadakan
Aku adalah jejak-jejak sepatu masa kecilmu yang penuh lumpur dan kerikil
Aku adalah jejak-jejak sepatumu yang tersenyum saat datang hujan
Aku, aku saksi bisu kehidupanmu yang kau paksa mundur entah jijik entah malu

Aku gelak di deretan tawamu
Aku isak di sela tangismu
Aku pening di penuh bingungmu

Dan kini aku hanya
Gelak bayangmu
Isak semumu
Pening lalumu

Kutulis nisanku pada padat waktumu yang tak mampu mengunjungiku
Kukubur diriku dengan tanah kenanganmu
Kutaburi dengan bunga selamat jalan dan perpisahan
Kuterbangkan satu senyum terakhirku dengan angin
Kupinta dia sentuhkan pada telingamu bahwa aku pernah di sini

9 Mei 2016
Terkadang suatu hal tidak bisa sama terus menerus dan harus menghilang, entah untuk terlahir kembali atau mencari tempat yang benar-benar peduli



Rabu, 13 April 2016

Mencintai itu Apa to?

"Mencintai itu apa to?" tanyaku sore itu, menatap senja yang diam-diam turun meninggalkan warna merah di langit yang mulai kelabu. Kalau ketemu orang, tertarik dan suka stalking sudah dikatakan mencintai, aku kembali bertanya "Sudah berapa banyak orang yang aku cintai?" Di senja yang menghitam dan burung-burung yang beterbangan pulang aku merindukan sangkar yang menungguku pulang.

Jumat, 11 Maret 2016

Ibu dan Anak Parsel

Dosenku bilang "kalian itu harus banyak berpergian biar dapat banyak pengalaman" begitulah kalimatnya jika aku tidak salah mengutip. Kalaupun salah intinya sama beliau menyuruh kami untuk banyak berpergian.
Dan di sinilah aku sekarang, Lumajang. Di salah satu rumah teman satu kelasku kuliah, dina. Berkedok tugas kuliah aku bisa mengunjungi tempat yang sejak lahir tak pernah aku impikan. Bertemu orang baru dengan kebiasaan yang berbeda dengan orang yang dulu aku kenal dan untuk pertama kalinya aku melihat orang membuat parsel. Yah, mungkin kamu bilang tingkahku ini kampungan, tapi inilah aku.
Aku sangat kagum dengan Dina dan Ibunya yang dengan terampil menempatkan beraneka macam buah di atas keranjang, menyampirkan plastik elastis menutupi buah, merapikan, mensolasi hingga mempercantiknya dengan hiasan pita warna-warni.
Kapan lagi aku bertemu dengan hal semacam ini? Kapan lagi aku bertemu orang-orang baru dengan kebudayaan baru seperti ini? Dan sudah seharusnya aku bersyukur pada pencipta waktu dan ruang sehingga memberiku banyak pelajaran. Alhamdullilah.

Kata-kata dosenku yang menyuruhku berpergian memang bukan tanpa alasan. Tapi bukan berarti harus menghabiskan uang jutaan bukan? Sebelum berpergian aku tetap harus memikirkan tentang tujuan dan tentunya keuangan. And the last, selamat weekend ya, yang hari ini mulai libur :) :D

Sabtu, 05 Maret 2016

Senyun renyah hari hari itu (Dinmas)

Aku masih ingat benar hari itu, tanggal 13 Februari aku pertama kali sadar kalau kamu ada di dunia ini. Padahal setahuku kita memulai apa yang kita bangun bersama-sama, tapi baru hari itu aku baru tahu kalau kamu ada. Hari itu, aku hanya melihatmu yang mondar-mandir membawa kursi, membawa megaphone sambil lari-lari. Aku tahu wajahmu lelah namun tetap dalam bibir kau berikan senyuman.
Aku mulai penasaran tentangmu, orang manis yang tiba-tiba hadir. Aku bertanya "mengapa aku baru sekarang bisa mengetahuimu?" Akhirnya dengan susah payah kutemukan namamu di bisingnya orang yang berbisik tentang perbaikan sebuah acara. Aku merasa mengenalmu, walaupun hanya sekedar nama. Yang tidak aku sangka, ternyata namamu masuk dalam kontak sosmedku. Aku memang selalu terlambat untuk peka bukan?
Setelah acara itu kita berpisah. Mulai hari itu pikiranku selalu berisi tentangmu. Ya, tentang mata jail yang tersemat di wajahmu tentang kumis tipis yang melambai nakal di bawah hidungmu. Walaupun tentu saja yang paling aku suka senyum dan tawamu.
Kamu yang sederhana, seminggu penuh aku menunggu kemunculanmu di beranda sosmedku. Berharap hadirmu yang maya dapat menghibur rindu yang kini muncul. Ah, sepertinya aku kepincut dengan baju kotak-kotak hitam dan kaos abu-abu yang membingkaimu.

Sekali lagi orang baru, sekali lagi hadir lagi, sekali lagi aku kagum, sekali lagi mungkin dia akan menjungkirkan aku entah ke kebahagiaan atau rasa sakit. Yang aku tahu, dia orang baik, pekerja keras, sederhana, dan pantang menyerah. Mungkin aku perlu berucap terima kasih, karena postingannya menyadarkanku kalau hidupku masih belum optimal berguna, bahwa aku masih belum apa-apa dibandingkannya. Terimakasih untuk tawa renyahmu yang kini samar-samar. Semoga kita bisa bertemu dan menjadi sahabat suatu hari nanti.

Senin, 15 Februari 2016

Untuk Kamu Yang Aku Kagumi



Perasaan yang datang itu tidak pernah salah, yang salah, perasaan itu datang bukan untuk orang yang tepat. Seperti padamu yang suatu saat namanya akan tertulis di sini dan akan menghilang. Aku suka baju coklatmu yang sebatas lengan. Aku suka jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tanganmu. Dan yang paling aku suka, saat kau bidik aku dengan kameramu.
Perasaan ini memang gila. Tak seharusnya aku menyukai sesuatu yang tidak bisa aku miliki. Memangnya aku ini siapa, hanya orang baru yang singgah dan beberapa waktu lagi akan menghilang.
Pada akhirnya namamu nanti akan tertulis di sini, jadi sebuah kenangan, memori, pengingatku tentang tanggal  13-14 Februari. Ya, sudahlah aku hanya bisa mendoakanmu sebagai orang yang aku kagumi. Ya sudahlah, aku hanya akan mengingatmu untuk diriku sendiri. Semoga studimu lancar dan apa yang kau ingin terpenuhi. Hanya, ingat aku suatu hari nanti, sebagai kisah yang kau ukir di bulan cinta Februari. Untukmu orang yang aku kagumi, semoga harimu senantiasa berseri.
Dari pengagummu yang baru sadar
16 Februari 2016